Fitrah Dalam Pemikiran Tokoh Muhammadiyah Sumenep

Almarhum Kyai Bahaudin Mudhary (kyai Baha') merupakan legenda hidup (living legend) masyarakat Sumenep. Beliau adalah sosok ulama yang terkenal memiliki sejumlah kombinasi unik dalam dirinya. Seorang tokoh Muhammadiyah yang mengamalkan amaliah NU, ulama modern yang memiliki sejumlah karamah dan kasyf, pemikir Islam yang kristolog, kyai tasawuf yang menguasai pemikiran sains modern, juga tokoh politik yang akrab dengan dunia pendidikan. Kapasitas keilmuannya tidak saja diakui dalam kancah lokal, namun percikan pemikirannya telah menghiasi perpustakaan Chambridge University, Inggris.

Oleh Syarif Hidayat Santoso

Memahami pemikiran kyai Baha’ merupakan satu perjalanan intelektual yang berliku, bukan saja karena pluralitas keilmuannya yang memukau, namun juga jangkauan berpikirnya yang mampu memadukan sejumlah ilmu terutama agama dan sains. Sebuah kelihaian ilmiah yang sulit dicari tandingannya di masa ketika integralisme agama dan sains dipertentangkan secara diakronis. Salah satu percikan pemikirannya yang cukup terkenal adalah pemikirannya tentang puasa dan fitrah kemanusiaan. Satu kajian yang menarik karena mampu menyingkap pengetahuan mistik Islam melalui eksplanasi rasional yang saintifik.

Menurut Kyai Baha’, fitrah kemanusiaan merupakan sebuah proses yang melibatkan apa yang disebut intelek ketuhanan yang merupakan kombinasi filsafah rasional dan ilmu hikmah (de absolute waarheid). Uniknya, kyai Baha' menyuguhkan sejumlah deskripsi menarik bahwa puasa ramadhanpun juga memiliki kontribusi sebagai pembangun tamaddun spektakuler dalam intelektualitas ketuhanan. Kyai Baha' menganggap bahwa puasa ramadhan menjadi sarana ampuh untuk mencapai ketinggian intelektualitas yang mumpuni. Puasa yang dipadukan dengan iktikaf, tafakur dan olah ilmu pengetahuan sejati dapat menyatukan apa yang disebut sebagai aku lahir dan aku batin kedalam satu integrasi tinggi ilahiyat-wahdaniyat.

Dalam pemikiran kyai Baha', aku lahir adalah potensi fisik manusia termasuk jasmani dan otak lahirnya sementara aku batin merupakan pancaindera batin atau badan rohani yang menjadi medium dengan dimensi ketuhanan. Kyai Baha' menjelaskan bahwa otak lahir merupakan sentral nafsu negatif lawwamah (polemos) dan ammarah (egosentris). Dua nafsu ini memiliki resonansi dengan daya elektro magnetik yang dimiliki iblis yang hanya dapat dihancurkan oleh power otak batin yang memiliki kedekatan dengan gelombang ketuhanan yang berwujud nafsu mutmainnah.

Fitrah pada dasarnya merupakan kondisi dimana kekuatan religious instict (mutmainnah) menjadi dominan dalam hidup kemanusiaan dan mampu menisbikan polemos dan egosentrisme. Kyai Baha'pun mempertegas bahwa kekuatan sentral nafsu dalam otak lahir ini dapat dihancurkan dengan kombinasi harmonis puasa dan iktikaf ramadhan. Integrasi antara otak batin dan otak lahir menjadi basis kuat lahirnya badan budi (de geestelijke kracht) yang siap menerima pancaran nurullah (unio mystica) atau sinar ketuhanan yang hakiki. Puasa yang benar menurut kyai Baha' dapat mencapai alam abstrak (anima abstraktiva) dimana dilahirkan mentalitas berpikir yang berkorelasi dengan petunjuk Allah.

Jika integrasi antara badan lahir dan batin ini tercipta maka pasti tercapai apa yang disebut dengan kesadaran murni (het zuiverzielfbewust zijn) yang merupakan totalitas kesatuan potensi jasmani-rohani. Kesadaran ini pada gilirannya akan melahirkan kesadaran jagad (het cosmesche berwustzijn) yang mampu menyelami ruang dimensi alam paling tinggi sekalipun seperti alam malakut dan alam rabbani dimana roh rabbani (aetheris lichaam) menyinari spektrum mentalitas kaum mukmin. Orang dengan kapasitas roh rabbani inilah yang sering dikaruniai Allah ilham ketuhanan, ilmu ladunni dan kasyaf (direct intuition). Fitrah keilmuan seperti ini menurut kyai Baha' merupakan fitrah tertinggi dalam maqam intelektualitas dan alam rohani seorang hamba.

Jelas bahwa pemikiran kyai Baha' tentang fitrah merupakan perpaduan menarik antara sufisme, sains modern juga filsafat ekletik. Pemikiran kyai Baha' yang tidak menciptakan separatisme antara agama dan sains layak menjadi panutan bahwa simbol-simbol mistik Islampun merupakan pancaran rasionalitas yang tidak spekulatif. Kyai Baha' memperjelas bahwa dimensi mistik dalam kasyaf dan karamah dapat dicapai lewat mekanisme ilmiah populer seperti puasa, shalat, tafakur dan ibadah lainnya. Lebih daripada itu, ia menggariskan bahwa fitrah idul fitri pasca ramadhan merupakan perjalanan yang melibatkan dunia rohani, jasmani, perenungan falsafi dan olah rasa sufisme. Puasapun dianggap sebuah jalan menuju prestasi intelektual yang bersinergis dengan kemapanan alam ruhiyah.

Pemikiran kyai Baha' merupakan antitesis tidak saja terhadap ketidakseimbangan moralitas sosial, namun juga sebuah bandul filsafat yang mampu menghantam balik pemikiran barat yang materialistis, sekuleris, naturalis dan skeptis. Filsafat barat yang dipakai kyai Baha' tidak menjadikan beliau sebagai ulama yang eurosentris namun tetap Islamis sufistik. Pemikirannya tentang fitrah merupakan bangunan filsafat yang mampu membalik postulat filsafat barat modern yang sering mengabaikan faktor immateri seperti keberadaan roh.

Kyai Baha' mampu membuktikan dimensi immateri itu justru dengan menggunakan pisau analisa pemikiran barat. Logika yang positifis diolah menjadi alur pemikiran yang mengakrabi kejiwaan Islam. Kyai Baha' menganggap alam semesta, juga manusia sebagai komprehensitas sIstem unipolar dan uniaxial yang tidak menciptakan dualisme terpisah antara materi dan roh. Dalam pemikiran kyai Baha', dimensi alam yang wajibul wujud tidak dipisahkan dari katastrofi yang mumkinul wujud.

Puasa dan fitrah dalam idul fitri dianggap sepenuhnya sebuah logika empiris yang bisa diselami oleh setiap individu tanpa kecuali. Kyai Baha' ingin agar kaum muslim menyadari potensi metafisik dan meta energinya yang sering terlupakan karena pola hidup serba duniawi dan materialistis semu. Fitrah yang berketuhanan dan mengakrabi intelektualitas inilah yang sering terbaikan oleh kita semua.

Syarif Hidayat Santoso, adalah Alumnus Hubungan Internasional FISIP UNEJ Jatim. Berdomisili di Sumenep

Sumber: Radar Madura bulan Oktober tahun 2008

Label: , , ,

1 Komentar:

Pada 4 Juli 2010 10.12 , Blogger Sayap-Sayap mengatakan...

kabari q info trbaru,& prkenalan q k teman2

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda