Bambang Irawan Hafiluddin

Masjidil Haram Menggapai Cahaya

Terbius satu aliran sesat, Bambang Irawan Hafiluddin, 59, kehilangan sikap kritis selama 23 tahun. Dia menerima saja setiap doktrin pemimpin jamaahnya - dijuluki Amir - yang mengaku sebagai satu-satunya sumber kebenaran di muka bumi. Beruntung, Allah menunjukinya jalan kembali, justru ketika dia menjadi orang nomor dua setelah Sang Amir. Minggarini, reporter magang dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), mewawancarai ayah dari 15 anak ini untuk Anda.

Sepertinya sudah menjadi suratan hidup saya untuk selalu gelisah sejak muda. Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, pada 1950-an, saya sudah didera dengan sederet pertanyaan yang tidak gampang: kenapa umat Islam selalu terbelakang? Setiap hari saya melihat, di jalan-jalan, di pasar-pasar, umat Islamlah yang menjadi pengemis. Di pinggir rel kereta, merekalah yang menjadi gelandangan. Di penjara, mereka pulalah yang menjadi pesakitan. Bahkan, tidak hanya di lapisan masyarakat kelas bawah seperti itu, di panggung politik, di dunia usaha, atau di bidang pendidikan, mereka pun selalu menjadi kelas teri. Pokoknya, kesan umum umat Islam mestilah kumuh, bego, gudikan, dan seterusnya.

Sementara, dari berbagai literatur--saya sudah menjadi kutu buku sejak kecil. Karya-karya Buya Hamka dan Muhammad Iqbal sudah saya baca sejak saya masih di bangku sekolah menengah pertama - saya ketahui, Islam adalah agama universal, agama yang paling benar, agama yang paling sempurna, yang diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Mestinya keadaan umat Islam di seluruh penjuru dunia sejahtera. Mereka seharusnya kuat, kaya, pintar, bahkan bisa tampil memimpin. Tapi, nyatanya kan tidak demikian. Kenapa?

Eksentrik

Usai SMA, pada 1958, kegelisahanku tak kunjung reda, bahkan makin bertambah. Saya yakin, ada yang salah dalam kehidupan beragama kita selama ini. Kita tak ubahnya itik yang lemas kehausan padahal sedang berenang di sungai, atau ayam kelaparan padahal sedang berada di dalam lumbung padi. Cara beragama kita tidak jelas juntrungan-nya, tidak terprogram, tak memiliki tujuan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kita membutuhkan pembaruan dalam kehidupan beragama, baik dalam pemikiran, tindak tanduk, organisasi, dan sebagainya. Umat Islam harus bangkit merebut kejayaannya yang memang telah dijanjikan.

Akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di IAIN Yogyakarta, meninggalkan cita-cita saya untuk masuk AMN (Akademi Militer Nasional, Akabri sekarang). Ini membuat ayah yang perwira tinggi ABRI kecewa berat. Di perguruan tinggi agama Islam tertua itu saya bertekad meneruskan pencarian.

Di Yogya, ayah menitipkan saya di rumah seorang temannya, seorang dosen senior, Prof. Abdullah Sigit. Saya tentu saja senang karena bisa lebih intensif membaca literatur di perpustakaan pribadi Pak Profesor yang memang dipenuhi buku-buku. Selain itu, juga bisa mengikuti perbincangan ilmiah bila dosen-dosen yang lebih muda bertandang. Saya makin tenggelam dalam pencarian panjang, di antara berbagai pendapat dan ide, di tengah rimba analisis. Akibatnya, saya seperti terpisah dari kehidupan normal para mahasiswa. Bahkan penampilan saya sehari-hari di kampus - ini saya sadari kemudian - menjadi eksentrik seperti seorang pemikir: selalu pakai peci, berjanggut panjang, berbaju jubah panjang, dan duduk di bangku paling pojok.

Rindu Imam Mahdi

Tapi, ternyata di IAIN pun saya kecewa. Semua dosen yang mengajar, dalam pengamatan saya kala itu, justru merupakan bagian dari penyebab keterbelakangan umat Islam selama ini. Sebagai kalangan terdidik dari umat Islam, mereka seharusnya progresif, berpandangan luas, dan tidak jumud. Namun, nyatanya, sampai kiamat pun mereka tidak bisa diharapkan mengubah keadaan umat Islam, kecuali bila mereka mau merombak cara berpikirnya.

Akhirnya, atas saran beberapa dosen yang diam-diam memperhatikan kegelisahan saya, pada 1960 saya meninggalkan IAIN untuk berkelana, mengunjungi pesantren-pesantren yang ada di Jawa. 'Berbahaya,' ujar seorang dosen kepada temannya tentang saya. 'Bisa-bisa dia murtad atau terekrut PKI,' sambungnya. Dalam perkiraan mereka, dengan mengunjungi beberapa pesantren yang ada, saya bisa melihat secara langsung kehidupan umat Islam di tataran realita, bisa mendapatkan nilai-nilai luhur dari kejujuran dan kepolosan rakyat kecil, dan bisa bersikap lebih realistis.

Namun, lagi-lagi, kegelisahan saya justru makin bertambah, terutama setelah melihat keadaan para santri yang kumuh dan pesantren yang kotor. Padahal, kalangan inilah yang menurut saya seharusnya paling bisa mencerminkan cara hidup yang islami. Saya tiba-tiba sampai pada satu kesimpulan, umat Islam membutuhkan seorang Ratu Adil, Imam Mahdi, atau apalah namanya, yang bisa memberi pencerahan untuk bisa bangkit dari kubangan keterbelakangan.

Akhirnya 'Ketemu'

Eh, tumbu ketemu tutup alias gayung bersambut, pada masa-masa itulah saya diperkenalkan dengan seorang pemimpin kelompok keagamaan (jamaah) yang amat 'luar biasa'. Dari fisiknya saja sudah terlihat bahwa dia bukan orang sembarangan. Tubuhnya tinggi besar, kekar, gesit, dan menguasai banyak ilmu kanuragan. Penampilannya eksentrik, tidak hanya bisa berjubah, tetapi juga sering berjaket kulit sambil mengendarai motor besar. Di kantongnya selalu ada segepok uang dolar dan markasnya sangat mewah. Dia hafal - paling tidak dari pengakuannya - Al-Quran 30 juz, memiliki gaya retorika yang sangat menarik, cerdas, herois, pekerja keras, dan berwawasan sangat luas. Pokoknya, betul-betul memukau.

Di markasnya yang sangat luas dan megah, di satu kota di Jawa Timur, secara rutin diadakan pengajian khatam Al-Quran dengan metode yang unik. Tidak sekadar membaca, ayat per ayat dari Al-Quran dia baca di depan ratusan murid-muridnya, sambil memberikan terjemahan kata per kata dengan gaya yang sangat menarik. Kegiatan seperti ini berlangsung dari pagi hingga malam selama 40 hari.

Bila tubuhnya mulai terasa pegal karena duduk seharian, dia segera saja melompat dari kursinya ke tengah-tengah ruangan yang lebih mirip gedung olahraga, sambil menarik pedang, lalu memainkan jurus-jurus pencak silat diiringi tepuk tangan dan tetabuhan gendang para muridnya. Saya terpengaruh, memang orang seperti dialah yang bisa mengubah nasib umat ke arah yang lebih baik. Singkat kata, saya pun akhirnya bersedia dibaiat menjadi anggota setia jamaah itu.

Terbius dan Mabok

Itulah awal dari 23 tahun perjalanan kehidupan keagamaanku yang justru sangat menyedihkan. Bagaikan tersihir oleh kekuatan yang begitu kuat, selama itu saya tak pernah lagi menggunakan akal sehat bahkan dengan begitu bersemangat menerima saja setiap ajaran dari pemimpin jamaah - yang kami sebut Amir - sebagai kebenaran mutlak. Bahkan karena loyalitas dan pengabdian yang begitu tinggi, saya kemudian bisa menjadi orang nomor dua di kelompok itu, mendampingi Sang Amir dalam urusan apa pun dan ke mana pun dia pergi.

Aneh, begitu banyak ajaran Sang Amir yang di kemudian hari saya ketahui menyimpang dari prinsip-prinsip Islam. Di antaranya, Sang Amir mengklaim hanya dirinyalah - atau anaknya bila sudah tampil - penyampai kebenaran di muka bumi ini. Semua ajaran yang tidak melalui mulutnya pastilah sesat dan yang mempercayainya akan masuk neraka. Begitupun setiap orang di luar jamaah tak lebih dari cecunguk sesat yang tolol, khianat, pikun, dan pasti masuk neraka. Untuk menunjukkan keagungan dirinya, Sang Amir sering membakar kitab-kitab kuning di depan kami sambil mengatakan bahwa kitab-kitab tersebut tak berguna dan menyesatkan.

Kami diajari untuk kawin-cerai sesering mungkin untuk melebarkan pengaruh jamaah. Terutama untuk menggaet wanita-wanita kaya yang pada akhirnya bersedia menyerahkan semua hartanya demi kepentingan Sang Amir. Tak urung, saya pun sempat beberapa kali dia kawinkan dengan motivasi jahat seperti itu. Dia sendiri tidak pernah memiliki istri kurang dari empat.

Ajaran lainnya, kami diperkenankan menggunakan segala cara untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, yang kemudian harus diserahkan kepada bagian keuangan Sang Amir. Menurut Amir, orang-orang di luar jamaah adalah kafir yang pantas diperangi dan diambil hartanya. Tapi, tentu saja dengan cara yang licik sehingga tidak membawa dampak buruk pada jamaah secara keseluruhan.

Karena kerja keras para anggota, jamaah ini pada akhirnya memang bisa merambah ke mana-mana. Bahkan bisa membuka cabang di Sydney, Singapura, dan New York di samping beberapa kota besar di Indonesia. Setiap bulan, semua cabang diharuskan mengirimkan sumbangan, yang lagi-lagi dikumpulkan oleh bagian keuangan Amir dan pada akhirnya hanya untuk kepentingan pribadi Sang Amir.

Kembali Mendapatkan Cahaya

Mengingat itu semua, terus terang, saya merasa sangat malu. Malu kepada Allah, malu pada sesama manusia, malu kepada sejarah. Bayangkan, selama 23 tahun, sejak berusia 20 sampai 43 tahun, saya bisa terbius dan mabuk karena aktif di jamaah yang seperti itu, tanpa sikap kritis sama sekali. Saya bahkan 'sangat berjasa' karena berhasil menarik begitu banyak anggota ke dalam jamaah. Bukan hanya keluarga saya sendiri, melainkan juga teman-teman, tetangga, kenalan, sampai orang yang hanya sekadar bertemu. Untunglah pada akhirnya Allah berkenan memberi saya cahaya-Nya. Itu pun, dengan jalan yang sama sekali di luar dugaan saya sendiri, justru ketika saya sedang dekat-dekatnya dengan Sang Amir.

Begini ceritanya. Saat itu, 1974, jamaah kami mendapat batu sandungan. Pasalnya, seorang anggota jamaah telah salah pilih dalam merayu gadis yang sudah menjadi tunangan anak seorang petinggi ABRI (PM), untuk dinikahi sebagai bagian dari upaya menjalankan misi jamaah. Sang anggota PM ini terang saja mengamuk dan mengobrak-abrik markas jamaah bahkan menangkap Sang Amir untuk dipermak. Untunglah Sang Amir kemudian dilepaskan karena berpura-pura sakit, lumpuh, dan gagu. Tentu, dengan kemungkinan ditangkap lagi bila ketahuan ternyata dia sehat walafiat.

Ada akal menghindari ancaman serius itu. Sang Amir kemudian memutuskan untuk mukim beberapa waktu di Arab Saudi untuk berobat karena hanya di Tanah Suci-lah penyakitnya bisa disembuhkan. Sang Amir mengajak saya, orang terdekatnya, di samping tujuh anggota keluarganya yang lain. Kami pun terbang ke Tanah Suci dengan perbekalan yang lebih dari cukup, hasil upeti dari para anggota jamaah selama ini.

Di Tanah Suci, saya tidak mempunyai kegiatan lain kecuali melihat-lihat pengajian yang memang banyak diadakan di Masjidil Haram. Niat saya, pada awalnya, tentu saja untuk sekadar melecehkan. Karena, bukankah hanya Sang Amir sumber kebenaran?

Namun, masya Allah, setelah beberapa kali saya mengikuti pengajian, hati saya terasa mulai terbuka kembali. Ya, kenapa selama ini saya begitu picik, menyembah orang yang berkoar-koar sebagai tuhan sementara ulama-ulama besar yang memberikan pengajian di Masjidil Haram itu begitu rendah hatinya meski memiliki ilmu yang jauh lebih luas? Astagfirullah, saya sadar telah menjalani cara beragama yang jauh lebih melenceng ketimbang para santri yang paling bodoh sekalipun. Saya menangis. Sejak itu, tanpa sepengetahuan Sang Amir dan keluarganya, saya pergunakan kesempatan selama empat tahun di Tanah Suci untuk betul-betul memperbaiki akidah.

Namun, itu sangat tidak mudah karena saya telanjur tenggelam dalam kesesatan ajaran kultus dari jamaah yang selama puluhan tahun saya geluti. Upaya perbaikan diri itu saya lanjutkan di Tanah Air, juga secara diam-diam. Barulah pada 1983 setelah saya betul-betul merasa telah 'bersih' dari pengaruh jamaah yang membius saya sekian lama, saya nyatakan kepada orang-orang di sekitar bahwa saya bukan lagi bagian dari jamaah tersebut. (Muzakkir Husain)

BIODATA
Nama : Bambang Irawan Hafiluddin
Lahir : Pamekasan, Madura, 10 Maret 1940
Pendidikan :
  • SR Pamekasan, 1952
  • SMPN XI Kebayoran Baru, 1955
  • SMAN VI Kebayoran Baru, 1958
  • IAIN Yogyakarta, 1960

Ya, kenapa selama ini saya begitu picik, menyembah orang yang berkoar-koar sebagai tuhan sementara ulama-ulama besar yang memberikan pengajian di Masjidil Haram begitu rendah hatinya meski memiliki ilmu yang jauh lebih luas

Sumber: Panji Masyarakat, Februari 1999

Label: , ,

46 Komentar:

Pada 8 Mei 2010 pukul 13.23 , Anonymous Anonim mengatakan...

Bahwa apa yang dikatakan beliau tentang jama'ah tersebut adalah bohong. Beliau sakit hati ketika tidak dijadikan amir di jama'ah tersebut

 
Pada 31 Juli 2010 pukul 21.56 , Anonymous Anonim mengatakan...

kalo dulu LDII difitnah,dicaci cuma sabar diam saja,becik ketitik olo ketoro ,kesabaran ada batasnya ,setelah diPTUNkan ternyata Bambang Irawan gk bisa membuktikan fitnah2anya,akhirnya Beliau terpaksa harus mendekam di penjara hasil perbuatan mulut ghibahnya.kalo orang Indonesia berakal waras mesti teliti kebenarannya dulu sebelum ikut2 memfitnah.mungkin teman2 Bambang Irawan,seperti hartono Ahmad jais masih sabar mengantre untuk dimeja-hijaukan pula biar sama2 bisa kumpul teman sejawatnya di penjara.

 
Pada 10 Agustus 2010 pukul 22.36 , Anonymous Anonim mengatakan...

cik goblok men sing percoyo omongane Bambang Irawan clap-clup tlonyar-tlonyor,nek pingin ruh sopo bambang Irawan ,takon ae konco2ne saklettinge ben genah !!!

 
Pada 2 Desember 2010 pukul 19.44 , Anonymous Anonim mengatakan...

Setelah merasa menjadi orang kedua tertinggi, Bambang Irawan (BI) sangat berambisi dan 'ge-er' untuk menjadi pimpinan nomor satu. Ketika KH.Nurhasan al Ubaidah wafat, dewan ulama yang sudah mengendus ambisi BI justru memilih orang lain sebagai pimpinan. BI yang merasa lebih pintar dan lebih pantas dari pimpinan baru kecewa berat dan marah, kemudian dia memilih keluar dari Jama'ah. Kelebihan BI sebenarnya hanya dia itu seorang orator, ceramahnya menggelora menimbulkan semangat, tapi dari segi ilmu Quraan & Hadits pengetahuannya sangat terbatas. Dia mengatakan mengaji ilmu langsung dari ulama-ulama besar di Makkah, seharusnya dia membuat tulisan ilmiah dilengkapi dalil-dalil dari Al Quraan & Hadist shohih mengenai 'kesesatan' Islam Jamaah, untuk ‘menginsyafkan kembali’ pengikut Islam Jamaah, tapi yang ada ( di majalah Persis, " Al Muslimun") ternyata dia hanya bisa memaki-maki, mengumpat, mengarang-ngarang cerita bohong kepada Jama'ah dan KH.Nurhasan al Ubaidah yang telah memberinya ilmu Quraan & Hadits.

 
Pada 2 Desember 2010 pukul 22.18 , Anonymous Anonim mengatakan...

Apakah sebenarnya yang membuat Bambang Irawan merasa ‘terbius’ oleh ‘Sang Amir’ sampai 23 tahun lamanya….., padahal selama ini berjuang mencari petunjuk/agama (lewat diskusi2, berkunjung ke pesantren2 dan banyak membaca buku agama Islam) yang benar…? Kalau kelakuan ‘Sang Amir’ sedemikian jeleknya, banyak melakukan pelanggaran prinsip2 Islam sesuai yang dia ceritakan, apa yang membuat dia bertahan sampai 23 tahun….? Apakah mungkin seseorang yang baik/sholeh bisa ‘dihipnotis/dibius’ sekian lama….?

 
Pada 3 Desember 2010 pukul 15.05 , Anonymous Anonim mengatakan...

akhirnya SI PENGKIANAT mampus juga.hahahahahahahahaha

 
Pada 14 Desember 2010 pukul 13.20 , Blogger ippik mengatakan...

saya sudah 34 th di ldii..enjoy-enjoy aja tuh..selalu dinasihatkan untuk konsekuen thdp islam..sedikitpun tdk merasakan ada indikasi penyimpangan..wong semuanya terang-benderang kok(Qur'an&Hadist tok!). Kalau beliau tetap konsisten mencari kebenaran ya mestinya tetap menghargai keyakinan org lain..(org yang menghargai keyakinan-pilihan org lain berartti menghargai keyakinan-pilihan dirinya sendiri) sebab hidup adalah pilihan...untung org ind. sudah pintar2 dan semakin sadar hukum,tdk mudah terhasut..oleh orang yang berniat menghasut..I'm proud to be an Indonesian!GBU

 
Pada 19 Desember 2010 pukul 09.15 , Anonymous Anonim mengatakan...

aq jga di ldii sngat mantap,krna apa?
slruh orangx baik2 n yang d ajarkan adalah pdoman orang islam,yatu qur'an dan al-khadist

 
Pada 21 Desember 2010 pukul 14.44 , Anonymous Anonim mengatakan...

Hanya orang2 "GOBLOOOOOOK" yang percaya dg bambang irawan,klo omongan nya itu benar kenapa dy masuk bui dan terbukti bersalah.udahlah klo emg mau njelek2kin LDII jgn keterlaluan."BASI" Tauuuuuuuuuu.........!!!!!!!!

 
Pada 29 Desember 2010 pukul 12.04 , Blogger Unknown mengatakan...

Subhanallah......walau antum di cerca oleh jamaah LDII yg tidak senang dengan kemurtadan antum(menurut mereka)...hidayah telah antum dapat....semoga para jamaah LDII yg meresahkan yg menganggap golongan selain mereka pasti masuk neraka cepat mendapatkan hidayah Allah SWT.....siapakah yg berani mengklaim dirinya pasti masuk syurga Allah selain jamaah LDII yg tersesat?,,para ulama saja tidak berani memutuskan bahwa mereka pasti masuk syurga Allah......

 
Pada 12 Januari 2011 pukul 11.20 , Blogger ippik mengatakan...

Org yg dpt hidayah/petunjuk adlh org yg menjumpai pedoman-petunjuk-cara utk bisa kembali ke syurga (sbab Bp kita asli/asalnya dari syurga-mknya smua org pengennya snang2 mlulu).Dan justru krn tdk ada yg bisa menjamin dimasukkan kdlm syurga mk kt hrs berusaha dgn sbaik2nya mengikuti petunjukNya melalui warisan nabiNya..jgn lupa loh kt smua sdang tersesat..ibarat dlm hutan smua sdang mncari jln pulang .. .. klo ada yg mnmukan jln stapak mnuju rmh ya jgn lngsung dianggap sesat..sapa tau itu bnar..bijaksana itu lbh baik..sejuta org masih menganggap jln itu benar sdangkn bbrp org bilang itu salah..mungkin bbrp org2 tsb lupa tujuan awal (masyuk syurga/ridloNya) ataupun mungkin tdk diberi kesabaran...
Smoga kita smua mendapat petunjukNya...amiin..peace ah!

 
Pada 17 Februari 2011 pukul 12.27 , Anonymous Anonim mengatakan...

udah udah,ribut mulu

 
Pada 2 Maret 2011 pukul 05.33 , Anonymous Anonim mengatakan...

Anda LDII kaum pembohong bagaimana mungkin anda menyampaikan kebenaran ...

 
Pada 2 Maret 2011 pukul 16.15 , Blogger marhafidz mengatakan...

LDII atau Islam Jamaah, atau Lemkari atau Darul Hadits adalah aliran sesat model syiah yang mengkafir2kan orang yang tidak berbaiat kepada imam/ amirnya.

http://salafytobat.wordpress.com/2010/04/25/bukti-kesesatan-ldii-darul-hadits-ajaran-manqul-beraqidah-wahhaby-takfiri/

 
Pada 4 Maret 2011 pukul 08.15 , Anonymous Anonim mengatakan...

LDII tak akan menuduh sesat/kafir atau macem2 yang lainnya terhadap keyakinan/agama lain..(ingat kata2 Gusdur: org yang tdk menghargai keyakinan-pilihan org lain berarti dia tdk menghargai keyakinan-pilihannya sendiri) Tp klo dituduh sesat sering..tak masalah krn QS:83, ayat 32 berbunyi : "Ketika mereka (kaum yg blm tahu) melihat pd kamu sekalian (org beriman) mereka berkata :ssg mrk org2 yg sesat-menyesatkan...
Balaslah fitnahan & kebencian dgn perilaku baik serta kasih sayang..spt yg sudah dicontohkan rasululloh SAW.Trim's/-ajkbh-

 
Pada 24 Maret 2011 pukul 18.29 , Anonymous luki mengatakan...

ldii memang sesat!!!, bukti :
yang benar hanya menurut amir (harus mankul melalui amir). pertanyaannya terus dari si amir sampai ke nabi muhammad siapa saja pembawa pesan yang katanya harus mankul? karena terpisah jarak kediri dengan tanah suci ribuan kilometer dan terpisah sekian abad dengan jaman nabi. padahal lddi, lem karet atau apalah namanya baru ada dan dibentuk madigol di abad 20. ini ditinjau dari sudut mankulnya saja.
2. banyak syariat dari nabi yang telah dirubah antara lain zakat dari dari nabi ada nisobnya, sodakoh sesuai kemampuan, namun oleh lddi ditetapkan angkanya (%) kalau punya harta sekian zakatnya sekian persen, terus meningkat % seiring jumlah harta,
3. taubat adalah urusan pribadi dengan Alloh, tidak ada yang mengetahuinya, tapi oleh ldii dibukukan sebagaimana halnya kalangan nasrani, bahkan ada surat pernyataan dan denda yang menyertai, memang si amir itu mengaku tuhan bisa menentukan diterimanya tobat.
4. terlalu banyak kesesatan jika diungkapkan semuanya.
terakhir sebagai penutup menurut ldii, islam tidak sah tanpa berbaiat kepada amir. memangnya nabi memberikan teladan seperti itu? syarat islam paling awal adalah ikrar dua kalimah syahadat dengan lisan selanjutnya diamalkan dengan perbuatan. jadi tidak dibutuhkan baiat atau sumpat untuk menunjuk amir/pemimpin, rt ada yang memimpin sampai negara pun sudah ada yang memimpin, mau cari pemimpin apa lagi?

 
Pada 25 Maret 2011 pukul 08.59 , Anonymous Anonim mengatakan...

Indonesia bukanlah negara agama.. hal ini pernah diakui oleh Bp Presiden (Presiden bertanggung jawab thdp kehidupan beragama yang beragam di negeri tercinta ini agar harmonis). Tapi seorang pemimpin agama bertanggung jawab thdp keselamatan yg dipimpinnya di dunia & akhirat ..maka dibuatlah ijtihad. Tapi sekali lagi ldii akan selalu menghargai keyakinan orang/ agama lain..tidak akan pernah menuduh/ memvonis sesat rang lain krn memang tdk enak dituduh sesat itu dan cenderung menimbulkan ketidak rukunan antar&inter umat beragama di Indonesia, negeri yg indah dengan segala perbedaannya... Trim's & Peace!

 
Pada 25 Maret 2011 pukul 15.07 , Anonymous Anonim mengatakan...

Lebih baik kita bergandengan tangan,saling melihat persamaan bukan perbedaan,daripada meributkan perbedaan aqidah lebih baik kita bersinergi menyatukan langkah mengejar ketertinggalan & keterbelakangan,satu untuk semua-semua untuk satu, ingat pesan Bung Karno: Indonesia didirikan bukan hanya oleh para malaikat dr surga tp juga oleh para syetan dr neraka so jangan hilangkan perbedaan, apalagi agama itu bukan milik kita,sudah ada yg punya & kita bukan pemiliknya tp pemeluknya,MARI KITA MAJU BERSAMA!

 
Pada 28 Maret 2011 pukul 16.21 , Anonymous Anonim mengatakan...

Sejauh yg kuamati tuduhan miring ttg ldii tdklah cocok,semua praktek pengamalan ldii berdasarkan tuntunan Nabi Muhammad S.A.W.(semua ada dasarnya),hanya memang..bbrp hal (mungkin banyak)dijumpai terasa asing..tp ternyata hadistnya asli (terutama kithabusittah-6 hadist shoheh) dan tdk ada sedikitpun yg dikarang (diro'yi)..Hmm mungkin benar juga hal ini disebabkan krn antara Nabi dan kita skrng sudah terpisahkn oleh jarak,waktu dan tempat serta sejarah yg dmkian panjang dan jauh..apalagi ada masa vakum selama masa penjajahan yg khabarnya kaum penjajah juga melakukan usaha2 pelemahan Islam dg cara melakukan penggalian dan pendalaman Islam secara utuh dan menyeluruh dgn mngutus seseorang secara khusus ke Mekah-Medinah, negeri aslinya agama islam.. untuk kemudian Islam dikaburkan dan ditutupi faktor2 yg menyebabkan org islam dmk bersatu,militan dan mempunyai jiwa berani mati(syahid) yg dmk tinggi.. sehingga ktk sekarang kita mempelajarinya dgn leluasa banyak hal-hal yag asing terungkap. Hal ini mencocoki salah satu hadis bhw :"Islam dtg secara asing dan akan kembali secara asing pula.. maka beruntung org-org yang asing (atau dianggap asing)". Faktor lain, Islam bukan agama asli leluhur/nenek-moyang kita bangsa Indonesia yg waktu itu mayoritas hindu..sesuai dgn namanya Indo-nesia yang berarti kepulauan-hindu!

 
Pada 28 Maret 2011 pukul 23.44 , Anonymous Anonim mengatakan...

hanya orang yg lebih dungu dari keledai saja yg tersesat selama 23 tahun. mau tahu contoh orang yg lebih dungu dari keledai ? ya.... dialah si Bambang Irawan itu.

 
Pada 28 Maret 2011 pukul 23.47 , Anonymous Anonim mengatakan...

yang pembohong itu bukan orang LDII tapi si dungu Bambang Irawan itu.

 
Pada 30 Maret 2011 pukul 16.28 , Anonymous Anonim mengatakan...

Merupakan suatu isyarat..bahwa siapapun boleh mengagumi terhadap seseorang atau bahkan terhadap nabi sekalipun,,tetapi lihatlah apa yang dikatakannya dan jangan melihat siapa yang mengatakannya..sehingga ketika orang yang dikagumi tersebut meninggal dunia ia akan tetap istiqomah...

 
Pada 30 April 2011 pukul 08.03 , Anonymous Bambang Irawan Goblok mengatakan...

Hanya orang bodoh yang mempercayai perkataan Bambang Irawan.

 
Pada 29 Mei 2011 pukul 12.26 , Anonymous ttttomo mengatakan...

mampus kamu ,,, penghianat

 
Pada 5 Januari 2012 pukul 21.12 , Anonymous Anonim mengatakan...

kalau memang Bambang mendakwahkan kebenaran,,Beranikah dia sewaktu hidupnya mengupas NU yg jelas2 banyak syirik khurofat tahayul lan bid'ah2nya??

Nyatanya???
Diindonesia letaknya orang2 yg ngaku Islam tp ya ngga ibadah2 an, ngga solat2an, sukanya kuburan2,sedekah lautan,sedekah bumian...
Hanya orang yg dihapus bashirohnya kl mengatakan ttp masih muslim.

Tp mana ustadz yg ngaku membawa kebenaran ??
beraninya mbahas LDII,tp mbahas kerusakan masyarakat yg parah, ndak berani mgkn takut Bukunya ora LARIS.

 
Pada 28 Januari 2012 pukul 11.20 , Anonymous Anonim mengatakan...

Saya adalah menantu dari salah satu mubaliq jamaah LDII,Sampai saat ini tdk ada paksaan ke pd saya utk menjadi anggota jamaah.Namun saya slalu di suruh ikut pangajian. Akhirnya saya yakin untuk menyuruh istri saya keluar jamaah.Smoga usaha saya berhasil amiin . . Tolong do'a nya ya

 
Pada 23 Agustus 2012 pukul 11.43 , Anonymous Anonim mengatakan...

Setelah saya menikah saya ikut Suami di LDII, sy juga ikut mengaji, sebenar banyak hal yang saya tidak mengerti termasuk menganggap orang lain di luar jamaah adalah najis/bukan orang iman.
Saya sangat sedih karena orang tua saya bukan LDII. Suami saya jauh dari sikap orang iman, shalatnya kadang telat, kadang tidak shalat nanti shalatnya di gabung2, misal shalat subuh dan dhuhr. Dan pandai sekali berbohong, mengikari janji... sebenarnya sy bimbang apakah jalan yang saya tempuh ini memang sudah benar atau tidak. karena bercermin dari sikap dan prilaku suamiku sangat jauh dari pribadi iman.. sy hanya berusaha ikut/taat suami meskipun saya ragu..

 
Pada 30 September 2012 pukul 09.37 , Blogger Unknown mengatakan...

Alhamdulillah, masih ada orang yang mau mengingatkan.
Bila melihat kezhaliman, tentu sebagai muslim merubah dengan 'tangan'nya, bila tidak mampu dgn tangannya, maka dengan mulutnya/lisannya/tulisannya. Andaipun masih belum mampu, adalah dengan mengingkarinya. Dan itu selemah-semahnya iman. Jadi wajar Pak Bambang Bersikap demikian, ia sampaikan dengan tulisan & ucapannya.
Andaipun benar beliau 'memfitnah' Anda LDII, Sungguh Allah tidaklah luput atas sebesar zarrah-pun suatu amal. Serahkan penghakiman pada Allah. Setuju?
Namun bila Pak Bambang Benar bgmn? Pengikut setia LDII yang baru-baru sekarang sama-sama tidak menyaksikan H. Nurhasan Ubaidah. Apa dasarnya bila dijadikan sandaran untuk bertaklid buta?
Boleh saja saat ini Anda yakin betul yang ada di LDII benar semua? Anda menerima ajaran dari satu sumber, memangnya sudah Anda buktikan sendiri ke Darul Hadits yang di Makkah?
Banyak kejanggalan di LDII terutama dari sisi keorganisasian/keamiran.
Tidak ada yang gratis mengaji Qur'an Hadits. Ya, kami hanya iba. Demikian Anda bertaqlid buta, memandang satu perkara dari satu sisi, bagaimana mungkin ada bisa melihat dari sisi lain?

Ini ada link, argumentasi Mantan LDII. Bila bisa berhujjah, silakan berhujjah. Kabarkan ke yang lain.

http://abuqueensaba.blogspot.com/

Kemungkinan besar Ada LDII tak mau membacanya, benarkah haram?

Bersikaplah bijak, objektiflah. Tempatkan permasalahan pada tempatnya. Iqra bismirabbikal ladzi khalak!

 
Pada 8 Oktober 2012 pukul 11.37 , Anonymous Anonim mengatakan...

rororealihatlah apa yang dikatakannya..dan jangan melihat siapa yg mengatakannya..itu sabda nabi...belajarlah untuk mengetahui isi surga kpd orang ldii..seraya benak anda akan berkata: sayang sekali surga itu kalau tidak kita masukkin..dalam mengupayakan/mengusahakan sesuatu belum tentu tercapai apalagi kalau tdk diusahakan..org pintar adalah org yg menghitung/mengoreksi dirinya dan mengamalkan untuk bekal setelah kematiannya..org ldii adalah org2 yg berusaha selamat dunia/akhirat alias masuk surga selamat dari neraka dengan cara beribadah memurnikan agamanya dari pengaruh bid'ah,syirik,khurafat,tahayul dsb.meskipun dgn menanggung resiko dicap aneh,lain dari yang kebanyakan,asing dlsb...meskipun memang nabi bersabda bahwa surga itu diliputi dgn kebencian dan membawa kebenaran itu ibarat memegang bara api...

 
Pada 24 Februari 2013 pukul 21.03 , Anonymous Anonim mengatakan...

http://kesesatan-frih.blogspot.com/2013/02/bambang-irawan-bin-hafiludin-dan-dakwah.html

 
Pada 22 April 2013 pukul 09.58 , Anonymous Anonim mengatakan...

hari gni masih ada Bamabang irawan,sekarang gak jaman!!!

bambang dh meninggal, emang ada orang yang pengen meninggal kaya' bambang??

 
Pada 3 September 2013 pukul 03.25 , Anonymous Anonim mengatakan...

tidak di katakan islam kalau tidak berjamaah. dan tidak dikatakan berjamaah kalau tidak beramir dan tidak beramir kalau perintah nya tidak di taati

 
Pada 3 September 2013 pukul 03.30 , Anonymous Anonim mengatakan...

‘La yahillu lithalathatin yakununa bifalatin minal-ardi illa ammaru ‘alaihim ahadahum.’ [Maksud: Tidak halal bagi tiga orang yang berada atau bertempat di tanah lapang di atas bumi, kecuali mengangkat seorang imam atas mereka bertiga.] [Hadith Imam Ahmad, Sahih Laghirah]

 
Pada 3 September 2013 pukul 03.38 , Anonymous Anonim mengatakan...

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ”Siapa yang mencabut tangan dari menaati imam (yaitu tidak mau taat kepadanya), maka akan bertemu Allah di hari kiamat nanti dalam keadaan tidak punya alasan. Dan siapa yang mati sedangkan di lehernya tidak ada ikatan baiat, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah. “

 
Pada 30 November 2013 pukul 11.10 , Anonymous Anonim mengatakan...

umat Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam- di atas kesesatan, dan tangan Allah bersama jamaah, dan barang siapa yang menyempal maka dia menyempa menuju neraka. - Tirmidzi, Bab Maa Ja'a fi Luzumil Jamaah, No. 2167

"Dan berpegang-teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Alloh dengan jama'ah, dan janganlah kamu sekalian firqoh". (QS. Ali 'Imron,No. Surat: 3, Ayat: 103).

"Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu berfirqah-firqah (bergolong-golongan),dan ingatlah akan ni’mat Allah atas kamu tatkala kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah jinakkan antara hati-hati kamu, maka dengan ni’mat itu kamu menjadi bersaudara, padahal kamu dahulunya telah berada di tepi jurang api Neraka, tetapi Dia (Allah) menyelamatkan kamu dari padanya; begitulah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali ‘Imran:103 )

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rosululloh dalam ‘Amrin Jaami’in’ (sambung berjama’ah; sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan), mereka tidak meninggalkan (Rosululloh) sebelum meminta idzin kepadanya. Sesungguhnya orang-orangy ang meminta idzin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka apabila mereka meminta idzin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah idzin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nuur, No. Surat: 24, Ayat: 62).

Kamu sekalian menetapilah pada Al-Jama’ah, dan takutlah kamu sekalian pada Al-Firqoh, maka sesungguhnya syetan bersama satu orang dan syetan itu akan menjauh dari dua orang, dan barangsiapa yang ingin berada di tengah-tengah surga maka hendaklah dia menetapi Al-Jama'ah". (HR. Tirmidzi juz 3 hal 207).

“Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, mereka semua masuk di dalam neraka, kecuali hanya satu golongan (yang tidak masuk neraka). Mereka (sahabat) berkata: “Dan siapakah yang satu golongan itu, ya Rosulalloh? Rosululloh, bersabda: “yaitu (golongan) yang mengerjakan apa yang saya kerjakan dan yang dikerjakan oleh sahabat-sahabat saya”. (HR. Tirmidzi, No. Hadits: 2565).

“Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at kepadamu sesungguhnya mereka berbaiat kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang mengingkari bai’atnya niscaya akibat pelanggarannya akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa yang menepati bai’atnya, maka Allah akan memberikan pahala yang besar.” (Q.S. Al Fath : 10).

“Kami berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan semangat ataupun lemah (berat), dan untuk tidak menentang perintah kepada ahlinya serta untuk menegakkan (kebenaran) atau berkata dengan benar di manapun kami berada, tidak takut dalam membela agama Allah dari celaan orang-orang yang mencelanya.” (HR. Al Bukhari dari Ubadah bin Shamit, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/96, Muslim, Shahih Muslim: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/202, An-Nasai, Sunan An-Nasai VII/137-138. Lafadz Al-Bukhari)

“Apabila dibai’at dua khalifah (dalam satu masa), maka bunuhlah yang lain dari keduanya. (yaitu yang terakhir).” (HR. Muslim dari Abi Sa’id Al Khudri, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/137)

“Barangsiapa melepas tangan dari taat akan bertemu dengan Allah pada hari kiyamat dengan tidak punya alasan. Dan barangsiapa mati sedang tidak ada ikatan bai’at pada lehernya maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh : II/136)

Yang dimaksud “seperti mati Jahiliyah” adalah kematian dalam kesesatan, perpecahan dan tidak mempunyai imam yang dibaiat dan ditaati. (Hamisy Shahih Muslim II/136)

 
Pada 30 November 2013 pukul 11.11 , Anonymous Anonim mengatakan...

“Dan barangsiapa membai’at imam dengan berjabat tangan dan kesungguhan hati, maka haruslah ia mentaatinya semampunya. Maka jika datang orang lain akan merebutnya, maka pukullah leher orang tersebut.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/467, An-Nasai, Sunan An-Nasai VII/153-154. Lafadz Muslim)

“Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Menetapilah kamu (Hudaifah bin Yaman) pada jamaah muslimin dan imam mereka (artinya: carilah Islam yang berbentuk jama'ah dan yang mempunyai imam sebagai pemimpinya), aku (Hudaifah bin Yaman), berkata: “(Bagaimana) jika tidak ada jama’ah dan imam mereka? Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Uzlah-lah (Pisahilah) segala bentuk firqoh-firqoh (ada 72 firqoh Islam), sekalipun kamu hanya makan akar / umbi pohon sehingga maut menjemput kamu sementara kamu atas keadaan demikian”. (HR. Bukhori, Kitabul Fitan).

“...maka wajib atas kamu berjama’ah, karena sesungguhnya serigala itu makan kambing yang sendirian.” (HR.Abu Dawud dari Abi Darda, Sunan Abi Daud dalam Kitabus Shalah: I/150 No.547)

"Jama’ah itu rahmat dan firqoh itu adzab.” (HR.Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/278, Silsilah Ahaditsush Shohihah No.667)

“Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Ad-Dien, apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami (Allah) wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: “Tegakkanlah Ad-Dien dan JANGANLAH kamu ber PECAH-BELAH di tentangnya.” Berat bagi musyrikin menerima apa yang engkau serukan kepada mereka itu. Allah menarik kepada Ad-Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petun juk kepada (Ad-Dien)-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (QS.Asy-Syura:13)

“Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia taat kepada Allah dan barangsiapa yang memaksiati aku maka sungguh ia telah memaksiati Allah. Barangsiapa yang mentaati amirku maka sungguh ia telah mentaati aku dan barangsiapa yang memaksiati amirku maka sungguh ia telah memaksiati Aku.” (HR.Al-Bukhari dari Abi Hurairah, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/77. Dalam Riwayat Ibnu Majah)

“Dan barangsiapa yang mentaati imam maka sungguh ia telah mentaatiku dan barang siapa yang memaksiati imam ku maka sungguh ia telah memaksiatiku.” (HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah dalam bab Tha’atul Imam : II/201)

“Sekalipun kamu dipimpin oleh seorang budak Habsyi yang rumpung hidungnya, wajib kamu mendengar dan mentaatinya selama ia memimpin kamu dengan Kitabullah.” (HR.Ibnu Majah dari Ummul Hushain dalam bab Tha’atul Imam: II/201, Muslim, Shahih Muslim: II/130, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi: IV/181 No.1706. Lafadz Ibnu Majah

“Tiga macam orang yang Allah tidak akan berkata kata kepada mereka pada hari kiyamat dan tidak akan membersihkan (memaafkan), dan bahkan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itu adalah: 1) Orang yang mempunyai kelebihan air di tengah jalan tetapi menolak permintaan orang yang dalam keadaan bepergian, 2) Orang yang berbai’at pada seorang imam, tetapi tidaklah ia

 
Pada 30 November 2013 pukul 11.11 , Anonymous Anonim mengatakan...

berbai’at kecuali karena dunia, jika diberi menepati bai’atnya dan jika tidak diberi (ditolak tuntutannya) ia tidak menepatinya, 3) Orang yang menjual barang pada orang lain setelah ‘Ashar dan bersumpah dengan nama Allah, sungguh akan diberikan dengan ketentuan begini dan begini, lalu ia membenarkannya dan hendak mengambilnya, tetapi ia tidak memberikannya.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/99, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/204, At-Tirmidzi, Sunan At Tirmidzi IV/128 No: 1595. Lafadz Al-Bukhari)

“Dahulu bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap meninggal seorang Nabi diganti oleh Nabi lainnya, sesungguhnya setelahku ini tidak ada Nabi dan akan ada setelahku beberapa khalifah bahkan akan bertambah banyak, sahabat bertanya: ”Apa yang tuan perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: ”Tepatilah bai’atmu pada yang pertama (artinya baiat yang pertama dilakukan pada saat itu), maka untuk yang pertama dan berikan pada mereka haknya. Maka sesungguhnya Allah akan menanya mereka tentang hal apa yang diamanatkan dalam kepemimpinannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/204. Lafadz Muslim)

“Dari ‘Urwah bahwasanya ‘Aisyah menceritakan kepadanya tentang bai’atnya kaum wanita, ia berkata: “Tidaklah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menyentuh seorang wanita (yang bukan muhrimnya) dengan tangannya sedikitpun, apabila kaum wanita telah mengikrarkan bai’atnya, beliau menerimanya, lalu bersabda: “Pergilah sungguh saya telah menerima bai’atmu.” (HR. Muslim, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/142. Al Bukhari, Shahih Al-Bukhari IX/99, Abu Dawud, Sunan Abu dawud II/133. Lafadz Muslim)

“Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita (yang bukan muhrimnya), maka sesungguhnya ucapanku (dalam menerima bai’at) bagi seratus wanita itu sebagaimana ucapanku bagi seorang wanita.” (HR. An-Nasai dari Umayyah binti Rufaiqah, Sunan An-Nasai dalam Kitabul bai’ah: VII/149, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi IV/149 No: 1597)

“Saya mengulurkan tangan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam supaya beliau membai’atku, pada waktu itu saya masih kecil, maka beliau tidak membai’atku.” (HR. An-Nasai, Sunan An-Nasai dalam Kitabul Bai’ah: VII/150)

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)". [Al-fath : 18]

“Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada baiat, maka sungguh dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya"[Dikeluarkan oleh Muslim dari Ibnu Umar]

“Barangsiapa berjanji setia kepada seorang imam dan menyerahkan tangan dan yang disukai hatinya, maka hendaknya dia menaati imam tersebut menurut kemampuannya. Maka jika datang orang lain untuk menentangnya, maka putuslah ikatan yang lain tersebut" [Dikeluarkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Abdillah bin Amr bin Ash]

“Dan barangsiapa yang berbaiat kepada seorang imam lalu bersalaman dengannya (sebagai tanda baiat) dan menyerahkan ketundukannya, maka hendaklah dia mematuhi imam itu semampunya. Jika ada yang lain datang untuk mengganggu imamnya (memberontak), penggallah leher yang datang tersebut.” (HR. Muslim no. 1844)

 
Pada 30 November 2013 pukul 11.12 , Anonymous Anonim mengatakan...

Dari sahabat nabi Abu hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda: “Barang siapa yang mentaati aku sungguh ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang taat pada pemimpin sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang durhaka pada pemimpin sungguh ia telah durhaka padaku”. (HR.Muslim 3/1466 No.1835)

Dari Abdullah bin mas’ud ia berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan datang sesudahku kezhaliman, dan tindakan-tindakan yang kalian ingkari.” Lalu para sahabat bertanya, “ya Rasulullah apa nasehat engkau bagi orang yang mendapat keadaan yang demikian, lalu Beliau bersabda: “Tunaikan kewajiban yang dibebankan kepada kalian, dan minta kepada Allah sesuatu yang untuk kalian”.(HR.Muslim 3/1472 No.1843)

Huzaifah bin al Yaman bertutur; aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Rasulullah!, dulu kami berada dalam kejelekan (masa jahiliyah) lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) yang kami sekarang berda dalamnya, apakah dibelakang kebaikan ini akan ada lagi kejelekan?“, Beliau menjawab; “Ya”.lalu Huzaifah berkata lagi: “Apaka setelah itu akan ada lagi kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya”, Huzaifah berkata lagi, “Apakah setelah itu akan ada lagi kejelekan?” Beliau menjawab,“Ya”. Huzaifah berkata lagi, “Bagaimana hal demikian?”, Beliau menjawab, “Akan datang pada suatu masa setelah aku para pemimpin yang tidak berpedoman kepada petunjukku, dan tidak melaksanakan sunnahku, dan akan berdiri di tengah-tengah mereka para lelaki yang hati mereka adalah hati syaitan yang terdapat dalam tubuh manusia.” Lalu Huzaifah berkata, “Apa yang harus aku lakukan ya Rasulullah, jika aku mendapati keadaan yang demikian?” “Dengar dan taatlah pada pemimpin, sekalipun ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka tetaplah dengarkan dan patuhi perintahnya”.(HR.Muslim 3/1476 No.1847)

Dari Ibnu abbas ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, sesungguhnya siapa yang meninggalkan jamaah barang satu jengkal saja lalu ia mati maka kematiannya berada dalam kejahiliyaan”.(HR.Muslim 3/1477 No.1849)

“Maka sesungguhnya saja, barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah kira-kira satu jengkal, maka sungguh tali Islamnya telah lepas dari lehernya kecuali jika ia kembali lagi”. (HR. Abu Daud).

“Maka sesungguhnya saja, barangsiapa yang memisahi Al- Jama’ah satu jengkal saja, lalu ia mati, maka ia mati dengan kematian jahiliyah”. (HR. Bukhori).

“Barangsiapa yang beramal dalam Jama’ah, lalu benar, maka Alloh menerimanya, dan jika salah, Alloh mengampuninya. Dan barangsiapa yang beramal mencari yang Firqoh, lalu benar, maka Alloh tidak akan menerimanya, dan jika salah, maka hendaklah ia bertempat duduk pada tempat duduknya dari api (mak: di neraka)”. (HR. Thobrooni).

“Dan tangan (pertolongan) Alloh atas Al-Jama’ah, dan barangsiapa yang membelot, maka ia membelot ke neraka”. (HR. Tirmidzi).

 
Pada 13 Januari 2014 pukul 10.44 , Anonymous Anonim mengatakan...

Miris memang membaca kutipan diatas.

Terlepas dari problematika Organisasi LDII,,ya..Saya akui setelah saya mencari,,mempelajari ormas2 islam lain mulai dari NU,Muhamaddyah,Persis (BI),kaum2 salafi,atau dari para mantan LDII lainnya. Saya akui LDII yang terbaik dan yang termurni ajarannya itu menurut saya lho karna wallohu alam.

MAAF SAYA BUKAN LDII

TAPI Ini FAKTA:
1. Belum pernah saya liat baik di media sosial maupun media cetak manapun LDII menjelek2an Ormas Lain kecuali sebaliknya di jelek2i,itu menunjukan kalo LDII mengajarkan Hal2 yang BAIK kan??? AYO JUJUR ini FAKTA lho...

2. Kata2 sesat yang dilontarkan kpd LDII lagi2 menurut saya tidak mendasar bagaimana tidak cuman gara2 (Najis atau tdknya suatu tempat itu dikatakan sesat??? Lah...lah...lah...bukannya Alloh itu maha suci dan Alloh itu mencintai sesuatu yang bersih dan suci),(katanya mengkafir2kan orang diluar LDII) inipun menurut saya tidak benar LDII setau saya selalu berbudi luhur lho tidak pernah menjelek2kan org tidak pernah menajis2kan org mengkafir2kan orang INI FAKTA kecuali oknum LDII yang tidak menjalankan berbudi luhur terhadap org lain.

3. LDII beramir/berimam dan mnjalankan agama dengan menekuni Quran-Hadist dan Jamaah. INI FAKTA ya kan ya kan???

4. Fathanah Bithanah dan budi luhur (Kenapa harus ada sih kalo memang LDII benar???)
dan ini pula yang menjadikan LDII punya predika jelek dimata org lain karena demi kelancaran semuanya sadar atau tidak ini suatu kebohongan,Seandainya saja LDII lebih terbuka dan jujur sekalipun diperangi jatohnya ini akan jadi jihad lho..betul gak?? ini FAKTA.

NB : kenapa saya tau banyak tentang LDII karena keluarga saya kebanyakanya warga LDII dan saya sempat belajar banyak tetapi tidak sampai masuk ini karena ada beberapa hal yang saya pertanyakan dan belum terjawab dan meyakinkan saya

08991980766
ini nomor HP saya
kalo ada warga LDII yang ingin meramut saya ada syaratnya jawab dulu pertanyaan saya dengan jujur dan dengan dasar quran dan hadist yang jelas. INSYA ALLOH saya serius berminat belajar karena saya belum pernah menemui Organisasi lain yang murni selain LDII.

 
Pada 3 Agustus 2014 pukul 17.17 , Anonymous Anonim mengatakan...

Semua ceramah agama Islam yang ada di media massa itu baik dan wajib kita amini karena semua benar-benar bersumber dari dua pedoman agama Islam yaitu Al-qur'an dan Al-hadis... tetapi mengapakah tidak dibahas/disampaikan yaitu baik dari Qur'an maupun Hadis bagaimana perintah Tuhan untuk berjama'ah dan pentingnya mempunyai pemimpin serta bagaimana syarat persyaratannya...ibarat pohon hanya ranting dan daunnya saja tapi tidak ke Batang pohonnya itu sendiri...padahal ranting dan daun tumbuh karena ada batang yang tumbuh lebih dulu...MA'AF SAYA WARGA LDII. Terimakasih (Ajk)

 
Pada 9 April 2016 pukul 18.02 , Anonymous Anonim mengatakan...

Dalam melaksanakan sholat sangat dianjurkan untuk berjamaah.
Saat sholat belum dimulai diusahakan memilih imam yang sesuai anjuran rosulillah dalam hadits.
Tapi saat kita masbuk/sholat telah dimulai dan kita tertinggal, maka kita harus menyusul/mengikuti jamaah sholat tsb
tanpa harus mempertimbangkan/memperdebatkan lagi siapa imam yang pantas (sesuai anjuran rosulillah) dan sangat tidak dianjurkan untuk sholat sendiri. Bahkan dilarang membuat barisan sholat berjamaah lain selama sholat jamaah yang ada belum selesai.
Dalam melaksanakan sholat, gerakan dan bacaan imam tidak selalu/mutlak benar dan makmum berhak,boleh bahkan wajib mengingatkan imam.
Jadi..
Kalau belum ada sholat berjamaah maka saya berusaha mengajak minimal 1 orang untuk sholat berjamaah.Seandainya dari 10 orang yang saya ajak ternyata hanya 1 atau 2 orang yang mau, sholat berjamaah sudah bisa dilaksanakan tanpa menunggu persetujuan semua orang yang ada di situ maupun orang yang tidak/belum ada di situ.Imam sholat dimusyawarohkan diantara mereka yang setuju melaksanakan sholat berjamaah saja.
Kalau sudah/sedang ada sholat berjamaah maka saya harus menyusul/ikut sholat tsb tanpa harus protes dulu tentang siapa yang pantas jadi imam sholat.
Jadi...
Kalau untuk menegakkan sholat berjamaah hanya butuh 2 orang yang mau,lantas kenapa kita harus menunggu dan berdebat dengan satu kampung, satu daerah atau satu negara bahkan sedunia?
Kalau sudah ada yang melaksanakan sholat berjamaah lantas kenapa lagi kita perdebatkan? kenapa kita tidak ikut saja sholat berjamaah bersama mereka dengan legowo dan mengingatkan bila ada kesalahan?kenapa kita malah sholat sendiri-sendiri?
Bukankah sesuatu yang besar berawal dari kecil dulu?
Kalau kita hanya bersedia ikut berjamaah bila sudah ada imam sholat berjamaah dengan jumlah makmum satu negara atau satu dunia,kemungkinan besar sampai mati pun kita tidak akan pernah bisa melaksanakannya.

Bukankah Rosulullah dahulu membangun "jamaah" islam dengan jumlah pengikut yang sedikit, tidak langsung jadi besar?

peace....

 
Pada 14 Januari 2018 pukul 19.51 , Blogger anosh mengatakan...

شركة تنظيف مجالس بخميس مشيط
شركة تنظيف موكيت بخميس مشيط
شركة تنظيف كنب بخميس مشيط
شركة تنظيف سجاد بخميس مشيط

 
Pada 14 Mei 2018 pukul 21.36 , Blogger anosh mengatakan...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

 
Pada 28 Juli 2018 pukul 12.44 , Blogger Unknown mengatakan...

www0728

true religion jeans
kate spade
jordan shoes
off white outlet
christian louboutin sale
canada goose jackets
ugg boots uk
ugg boots clearance
prada outlet
off white shoes







 
Pada 31 Januari 2019 pukul 15.09 , Blogger Zihan Amelia mengatakan...

I have not been lucky, failed and always failed again. I will not give up

Obat Nyeri Punggung Tradisional
Mengatasi Gatal Di Selangkangan
Obat Leukemia Alami
Cara Menghilangkan Benjolan Dibawah Telinga
Herbal Solusi Sehat

 
Pada 5 Maret 2020 pukul 22.52 , Blogger mbah arjo mengatakan...

Krlihaian iblis

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda