Bambang Irawan Hafiluddin
Masjidil Haram Menggapai Cahaya
Terbius satu aliran sesat, Bambang Irawan Hafiluddin, 59, kehilangan sikap kritis selama 23 tahun. Dia menerima saja setiap doktrin pemimpin jamaahnya - dijuluki Amir - yang mengaku sebagai satu-satunya sumber kebenaran di muka bumi. Beruntung, Allah menunjukinya jalan kembali, justru ketika dia menjadi orang nomor dua setelah Sang Amir. Minggarini, reporter magang dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), mewawancarai ayah dari 15 anak ini untuk Anda.
Sepertinya sudah menjadi suratan hidup saya untuk selalu gelisah sejak muda. Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, pada 1950-an, saya sudah didera dengan sederet pertanyaan yang tidak gampang: kenapa umat Islam selalu terbelakang? Setiap hari saya melihat, di jalan-jalan, di pasar-pasar, umat Islamlah yang menjadi pengemis. Di pinggir rel kereta, merekalah yang menjadi gelandangan. Di penjara, mereka pulalah yang menjadi pesakitan. Bahkan, tidak hanya di lapisan masyarakat kelas bawah seperti itu, di panggung politik, di dunia usaha, atau di bidang pendidikan, mereka pun selalu menjadi kelas teri. Pokoknya, kesan umum umat Islam mestilah kumuh, bego, gudikan, dan seterusnya.
Sementara, dari berbagai literatur--saya sudah menjadi kutu buku sejak kecil. Karya-karya Buya Hamka dan Muhammad Iqbal sudah saya baca sejak saya masih di bangku sekolah menengah pertama - saya ketahui, Islam adalah agama universal, agama yang paling benar, agama yang paling sempurna, yang diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Mestinya keadaan umat Islam di seluruh penjuru dunia sejahtera. Mereka seharusnya kuat, kaya, pintar, bahkan bisa tampil memimpin. Tapi, nyatanya kan tidak demikian. Kenapa?
Eksentrik
Usai SMA, pada 1958, kegelisahanku tak kunjung reda, bahkan makin bertambah. Saya yakin, ada yang salah dalam kehidupan beragama kita selama ini. Kita tak ubahnya itik yang lemas kehausan padahal sedang berenang di sungai, atau ayam kelaparan padahal sedang berada di dalam lumbung padi. Cara beragama kita tidak jelas juntrungan-nya, tidak terprogram, tak memiliki tujuan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kita membutuhkan pembaruan dalam kehidupan beragama, baik dalam pemikiran, tindak tanduk, organisasi, dan sebagainya. Umat Islam harus bangkit merebut kejayaannya yang memang telah dijanjikan.
Akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di IAIN Yogyakarta, meninggalkan cita-cita saya untuk masuk AMN (Akademi Militer Nasional, Akabri sekarang). Ini membuat ayah yang perwira tinggi ABRI kecewa berat. Di perguruan tinggi agama Islam tertua itu saya bertekad meneruskan pencarian.
Di Yogya, ayah menitipkan saya di rumah seorang temannya, seorang dosen senior, Prof. Abdullah Sigit. Saya tentu saja senang karena bisa lebih intensif membaca literatur di perpustakaan pribadi Pak Profesor yang memang dipenuhi buku-buku. Selain itu, juga bisa mengikuti perbincangan ilmiah bila dosen-dosen yang lebih muda bertandang. Saya makin tenggelam dalam pencarian panjang, di antara berbagai pendapat dan ide, di tengah rimba analisis. Akibatnya, saya seperti terpisah dari kehidupan normal para mahasiswa. Bahkan penampilan saya sehari-hari di kampus - ini saya sadari kemudian - menjadi eksentrik seperti seorang pemikir: selalu pakai peci, berjanggut panjang, berbaju jubah panjang, dan duduk di bangku paling pojok.
Rindu Imam Mahdi
Tapi, ternyata di IAIN pun saya kecewa. Semua dosen yang mengajar, dalam pengamatan saya kala itu, justru merupakan bagian dari penyebab keterbelakangan umat Islam selama ini. Sebagai kalangan terdidik dari umat Islam, mereka seharusnya progresif, berpandangan luas, dan tidak jumud. Namun, nyatanya, sampai kiamat pun mereka tidak bisa diharapkan mengubah keadaan umat Islam, kecuali bila mereka mau merombak cara berpikirnya.
Akhirnya, atas saran beberapa dosen yang diam-diam memperhatikan kegelisahan saya, pada 1960 saya meninggalkan IAIN untuk berkelana, mengunjungi pesantren-pesantren yang ada di Jawa. 'Berbahaya,' ujar seorang dosen kepada temannya tentang saya. 'Bisa-bisa dia murtad atau terekrut PKI,' sambungnya. Dalam perkiraan mereka, dengan mengunjungi beberapa pesantren yang ada, saya bisa melihat secara langsung kehidupan umat Islam di tataran realita, bisa mendapatkan nilai-nilai luhur dari kejujuran dan kepolosan rakyat kecil, dan bisa bersikap lebih realistis.
Namun, lagi-lagi, kegelisahan saya justru makin bertambah, terutama setelah melihat keadaan para santri yang kumuh dan pesantren yang kotor. Padahal, kalangan inilah yang menurut saya seharusnya paling bisa mencerminkan cara hidup yang islami. Saya tiba-tiba sampai pada satu kesimpulan, umat Islam membutuhkan seorang Ratu Adil, Imam Mahdi, atau apalah namanya, yang bisa memberi pencerahan untuk bisa bangkit dari kubangan keterbelakangan.
Akhirnya 'Ketemu'
Eh, tumbu ketemu tutup alias gayung bersambut, pada masa-masa itulah saya diperkenalkan dengan seorang pemimpin kelompok keagamaan (jamaah) yang amat 'luar biasa'. Dari fisiknya saja sudah terlihat bahwa dia bukan orang sembarangan. Tubuhnya tinggi besar, kekar, gesit, dan menguasai banyak ilmu kanuragan. Penampilannya eksentrik, tidak hanya bisa berjubah, tetapi juga sering berjaket kulit sambil mengendarai motor besar. Di kantongnya selalu ada segepok uang dolar dan markasnya sangat mewah. Dia hafal - paling tidak dari pengakuannya - Al-Quran 30 juz, memiliki gaya retorika yang sangat menarik, cerdas, herois, pekerja keras, dan berwawasan sangat luas. Pokoknya, betul-betul memukau.
Di markasnya yang sangat luas dan megah, di satu kota di Jawa Timur, secara rutin diadakan pengajian khatam Al-Quran dengan metode yang unik. Tidak sekadar membaca, ayat per ayat dari Al-Quran dia baca di depan ratusan murid-muridnya, sambil memberikan terjemahan kata per kata dengan gaya yang sangat menarik. Kegiatan seperti ini berlangsung dari pagi hingga malam selama 40 hari.
Bila tubuhnya mulai terasa pegal karena duduk seharian, dia segera saja melompat dari kursinya ke tengah-tengah ruangan yang lebih mirip gedung olahraga, sambil menarik pedang, lalu memainkan jurus-jurus pencak silat diiringi tepuk tangan dan tetabuhan gendang para muridnya. Saya terpengaruh, memang orang seperti dialah yang bisa mengubah nasib umat ke arah yang lebih baik. Singkat kata, saya pun akhirnya bersedia dibaiat menjadi anggota setia jamaah itu.
Terbius dan Mabok
Itulah awal dari 23 tahun perjalanan kehidupan keagamaanku yang justru sangat menyedihkan. Bagaikan tersihir oleh kekuatan yang begitu kuat, selama itu saya tak pernah lagi menggunakan akal sehat bahkan dengan begitu bersemangat menerima saja setiap ajaran dari pemimpin jamaah - yang kami sebut Amir - sebagai kebenaran mutlak. Bahkan karena loyalitas dan pengabdian yang begitu tinggi, saya kemudian bisa menjadi orang nomor dua di kelompok itu, mendampingi Sang Amir dalam urusan apa pun dan ke mana pun dia pergi.
Aneh, begitu banyak ajaran Sang Amir yang di kemudian hari saya ketahui menyimpang dari prinsip-prinsip Islam. Di antaranya, Sang Amir mengklaim hanya dirinyalah - atau anaknya bila sudah tampil - penyampai kebenaran di muka bumi ini. Semua ajaran yang tidak melalui mulutnya pastilah sesat dan yang mempercayainya akan masuk neraka. Begitupun setiap orang di luar jamaah tak lebih dari cecunguk sesat yang tolol, khianat, pikun, dan pasti masuk neraka. Untuk menunjukkan keagungan dirinya, Sang Amir sering membakar kitab-kitab kuning di depan kami sambil mengatakan bahwa kitab-kitab tersebut tak berguna dan menyesatkan.
Kami diajari untuk kawin-cerai sesering mungkin untuk melebarkan pengaruh jamaah. Terutama untuk menggaet wanita-wanita kaya yang pada akhirnya bersedia menyerahkan semua hartanya demi kepentingan Sang Amir. Tak urung, saya pun sempat beberapa kali dia kawinkan dengan motivasi jahat seperti itu. Dia sendiri tidak pernah memiliki istri kurang dari empat.
Ajaran lainnya, kami diperkenankan menggunakan segala cara untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, yang kemudian harus diserahkan kepada bagian keuangan Sang Amir. Menurut Amir, orang-orang di luar jamaah adalah kafir yang pantas diperangi dan diambil hartanya. Tapi, tentu saja dengan cara yang licik sehingga tidak membawa dampak buruk pada jamaah secara keseluruhan.
Karena kerja keras para anggota, jamaah ini pada akhirnya memang bisa merambah ke mana-mana. Bahkan bisa membuka cabang di Sydney, Singapura, dan New York di samping beberapa kota besar di Indonesia. Setiap bulan, semua cabang diharuskan mengirimkan sumbangan, yang lagi-lagi dikumpulkan oleh bagian keuangan Amir dan pada akhirnya hanya untuk kepentingan pribadi Sang Amir.
Kembali Mendapatkan Cahaya
Mengingat itu semua, terus terang, saya merasa sangat malu. Malu kepada Allah, malu pada sesama manusia, malu kepada sejarah. Bayangkan, selama 23 tahun, sejak berusia 20 sampai 43 tahun, saya bisa terbius dan mabuk karena aktif di jamaah yang seperti itu, tanpa sikap kritis sama sekali. Saya bahkan 'sangat berjasa' karena berhasil menarik begitu banyak anggota ke dalam jamaah. Bukan hanya keluarga saya sendiri, melainkan juga teman-teman, tetangga, kenalan, sampai orang yang hanya sekadar bertemu. Untunglah pada akhirnya Allah berkenan memberi saya cahaya-Nya. Itu pun, dengan jalan yang sama sekali di luar dugaan saya sendiri, justru ketika saya sedang dekat-dekatnya dengan Sang Amir.
Begini ceritanya. Saat itu, 1974, jamaah kami mendapat batu sandungan. Pasalnya, seorang anggota jamaah telah salah pilih dalam merayu gadis yang sudah menjadi tunangan anak seorang petinggi ABRI (PM), untuk dinikahi sebagai bagian dari upaya menjalankan misi jamaah. Sang anggota PM ini terang saja mengamuk dan mengobrak-abrik markas jamaah bahkan menangkap Sang Amir untuk dipermak. Untunglah Sang Amir kemudian dilepaskan karena berpura-pura sakit, lumpuh, dan gagu. Tentu, dengan kemungkinan ditangkap lagi bila ketahuan ternyata dia sehat walafiat.
Ada akal menghindari ancaman serius itu. Sang Amir kemudian memutuskan untuk mukim beberapa waktu di Arab Saudi untuk berobat karena hanya di Tanah Suci-lah penyakitnya bisa disembuhkan. Sang Amir mengajak saya, orang terdekatnya, di samping tujuh anggota keluarganya yang lain. Kami pun terbang ke Tanah Suci dengan perbekalan yang lebih dari cukup, hasil upeti dari para anggota jamaah selama ini.
Di Tanah Suci, saya tidak mempunyai kegiatan lain kecuali melihat-lihat pengajian yang memang banyak diadakan di Masjidil Haram. Niat saya, pada awalnya, tentu saja untuk sekadar melecehkan. Karena, bukankah hanya Sang Amir sumber kebenaran?
Namun, masya Allah, setelah beberapa kali saya mengikuti pengajian, hati saya terasa mulai terbuka kembali. Ya, kenapa selama ini saya begitu picik, menyembah orang yang berkoar-koar sebagai tuhan sementara ulama-ulama besar yang memberikan pengajian di Masjidil Haram itu begitu rendah hatinya meski memiliki ilmu yang jauh lebih luas? Astagfirullah, saya sadar telah menjalani cara beragama yang jauh lebih melenceng ketimbang para santri yang paling bodoh sekalipun. Saya menangis. Sejak itu, tanpa sepengetahuan Sang Amir dan keluarganya, saya pergunakan kesempatan selama empat tahun di Tanah Suci untuk betul-betul memperbaiki akidah.
Namun, itu sangat tidak mudah karena saya telanjur tenggelam dalam kesesatan ajaran kultus dari jamaah yang selama puluhan tahun saya geluti. Upaya perbaikan diri itu saya lanjutkan di Tanah Air, juga secara diam-diam. Barulah pada 1983 setelah saya betul-betul merasa telah 'bersih' dari pengaruh jamaah yang membius saya sekian lama, saya nyatakan kepada orang-orang di sekitar bahwa saya bukan lagi bagian dari jamaah tersebut. (Muzakkir Husain)
BIODATA
Nama : Bambang Irawan Hafiluddin
Lahir : Pamekasan, Madura, 10 Maret 1940
Pendidikan :
- SR Pamekasan, 1952
- SMPN XI Kebayoran Baru, 1955
- SMAN VI Kebayoran Baru, 1958
- IAIN Yogyakarta, 1960
Ya, kenapa selama ini saya begitu picik, menyembah orang yang berkoar-koar sebagai tuhan sementara ulama-ulama besar yang memberikan pengajian di Masjidil Haram begitu rendah hatinya meski memiliki ilmu yang jauh lebih luas
Sumber: Panji Masyarakat, Februari 1999
Label: bambang irawan, dokumentasi, sosok

26 Komentar:
Bahwa apa yang dikatakan beliau tentang jama'ah tersebut adalah bohong. Beliau sakit hati ketika tidak dijadikan amir di jama'ah tersebut
kalo dulu LDII difitnah,dicaci cuma sabar diam saja,becik ketitik olo ketoro ,kesabaran ada batasnya ,setelah diPTUNkan ternyata Bambang Irawan gk bisa membuktikan fitnah2anya,akhirnya Beliau terpaksa harus mendekam di penjara hasil perbuatan mulut ghibahnya.kalo orang Indonesia berakal waras mesti teliti kebenarannya dulu sebelum ikut2 memfitnah.mungkin teman2 Bambang Irawan,seperti hartono Ahmad jais masih sabar mengantre untuk dimeja-hijaukan pula biar sama2 bisa kumpul teman sejawatnya di penjara.
cik goblok men sing percoyo omongane Bambang Irawan clap-clup tlonyar-tlonyor,nek pingin ruh sopo bambang Irawan ,takon ae konco2ne saklettinge ben genah !!!
Setelah merasa menjadi orang kedua tertinggi, Bambang Irawan (BI) sangat berambisi dan 'ge-er' untuk menjadi pimpinan nomor satu. Ketika KH.Nurhasan al Ubaidah wafat, dewan ulama yang sudah mengendus ambisi BI justru memilih orang lain sebagai pimpinan. BI yang merasa lebih pintar dan lebih pantas dari pimpinan baru kecewa berat dan marah, kemudian dia memilih keluar dari Jama'ah. Kelebihan BI sebenarnya hanya dia itu seorang orator, ceramahnya menggelora menimbulkan semangat, tapi dari segi ilmu Quraan & Hadits pengetahuannya sangat terbatas. Dia mengatakan mengaji ilmu langsung dari ulama-ulama besar di Makkah, seharusnya dia membuat tulisan ilmiah dilengkapi dalil-dalil dari Al Quraan & Hadist shohih mengenai 'kesesatan' Islam Jamaah, untuk ‘menginsyafkan kembali’ pengikut Islam Jamaah, tapi yang ada ( di majalah Persis, " Al Muslimun") ternyata dia hanya bisa memaki-maki, mengumpat, mengarang-ngarang cerita bohong kepada Jama'ah dan KH.Nurhasan al Ubaidah yang telah memberinya ilmu Quraan & Hadits.
Apakah sebenarnya yang membuat Bambang Irawan merasa ‘terbius’ oleh ‘Sang Amir’ sampai 23 tahun lamanya….., padahal selama ini berjuang mencari petunjuk/agama (lewat diskusi2, berkunjung ke pesantren2 dan banyak membaca buku agama Islam) yang benar…? Kalau kelakuan ‘Sang Amir’ sedemikian jeleknya, banyak melakukan pelanggaran prinsip2 Islam sesuai yang dia ceritakan, apa yang membuat dia bertahan sampai 23 tahun….? Apakah mungkin seseorang yang baik/sholeh bisa ‘dihipnotis/dibius’ sekian lama….?
akhirnya SI PENGKIANAT mampus juga.hahahahahahahahaha
saya sudah 34 th di ldii..enjoy-enjoy aja tuh..selalu dinasihatkan untuk konsekuen thdp islam..sedikitpun tdk merasakan ada indikasi penyimpangan..wong semuanya terang-benderang kok(Qur'an&Hadist tok!). Kalau beliau tetap konsisten mencari kebenaran ya mestinya tetap menghargai keyakinan org lain..(org yang menghargai keyakinan-pilihan org lain berartti menghargai keyakinan-pilihan dirinya sendiri) sebab hidup adalah pilihan...untung org ind. sudah pintar2 dan semakin sadar hukum,tdk mudah terhasut..oleh orang yang berniat menghasut..I'm proud to be an Indonesian!GBU
aq jga di ldii sngat mantap,krna apa?
slruh orangx baik2 n yang d ajarkan adalah pdoman orang islam,yatu qur'an dan al-khadist
Hanya orang2 "GOBLOOOOOOK" yang percaya dg bambang irawan,klo omongan nya itu benar kenapa dy masuk bui dan terbukti bersalah.udahlah klo emg mau njelek2kin LDII jgn keterlaluan."BASI" Tauuuuuuuuuu.........!!!!!!!!
Subhanallah......walau antum di cerca oleh jamaah LDII yg tidak senang dengan kemurtadan antum(menurut mereka)...hidayah telah antum dapat....semoga para jamaah LDII yg meresahkan yg menganggap golongan selain mereka pasti masuk neraka cepat mendapatkan hidayah Allah SWT.....siapakah yg berani mengklaim dirinya pasti masuk syurga Allah selain jamaah LDII yg tersesat?,,para ulama saja tidak berani memutuskan bahwa mereka pasti masuk syurga Allah......
Org yg dpt hidayah/petunjuk adlh org yg menjumpai pedoman-petunjuk-cara utk bisa kembali ke syurga (sbab Bp kita asli/asalnya dari syurga-mknya smua org pengennya snang2 mlulu).Dan justru krn tdk ada yg bisa menjamin dimasukkan kdlm syurga mk kt hrs berusaha dgn sbaik2nya mengikuti petunjukNya melalui warisan nabiNya..jgn lupa loh kt smua sdang tersesat..ibarat dlm hutan smua sdang mncari jln pulang .. .. klo ada yg mnmukan jln stapak mnuju rmh ya jgn lngsung dianggap sesat..sapa tau itu bnar..bijaksana itu lbh baik..sejuta org masih menganggap jln itu benar sdangkn bbrp org bilang itu salah..mungkin bbrp org2 tsb lupa tujuan awal (masyuk syurga/ridloNya) ataupun mungkin tdk diberi kesabaran...
Smoga kita smua mendapat petunjukNya...amiin..peace ah!
udah udah,ribut mulu
Anda LDII kaum pembohong bagaimana mungkin anda menyampaikan kebenaran ...
LDII atau Islam Jamaah, atau Lemkari atau Darul Hadits adalah aliran sesat model syiah yang mengkafir2kan orang yang tidak berbaiat kepada imam/ amirnya.
http://salafytobat.wordpress.com/2010/04/25/bukti-kesesatan-ldii-darul-hadits-ajaran-manqul-beraqidah-wahhaby-takfiri/
LDII tak akan menuduh sesat/kafir atau macem2 yang lainnya terhadap keyakinan/agama lain..(ingat kata2 Gusdur: org yang tdk menghargai keyakinan-pilihan org lain berarti dia tdk menghargai keyakinan-pilihannya sendiri) Tp klo dituduh sesat sering..tak masalah krn QS:83, ayat 32 berbunyi : "Ketika mereka (kaum yg blm tahu) melihat pd kamu sekalian (org beriman) mereka berkata :ssg mrk org2 yg sesat-menyesatkan...
Balaslah fitnahan & kebencian dgn perilaku baik serta kasih sayang..spt yg sudah dicontohkan rasululloh SAW.Trim's/-ajkbh-
ldii memang sesat!!!, bukti :
yang benar hanya menurut amir (harus mankul melalui amir). pertanyaannya terus dari si amir sampai ke nabi muhammad siapa saja pembawa pesan yang katanya harus mankul? karena terpisah jarak kediri dengan tanah suci ribuan kilometer dan terpisah sekian abad dengan jaman nabi. padahal lddi, lem karet atau apalah namanya baru ada dan dibentuk madigol di abad 20. ini ditinjau dari sudut mankulnya saja.
2. banyak syariat dari nabi yang telah dirubah antara lain zakat dari dari nabi ada nisobnya, sodakoh sesuai kemampuan, namun oleh lddi ditetapkan angkanya (%) kalau punya harta sekian zakatnya sekian persen, terus meningkat % seiring jumlah harta,
3. taubat adalah urusan pribadi dengan Alloh, tidak ada yang mengetahuinya, tapi oleh ldii dibukukan sebagaimana halnya kalangan nasrani, bahkan ada surat pernyataan dan denda yang menyertai, memang si amir itu mengaku tuhan bisa menentukan diterimanya tobat.
4. terlalu banyak kesesatan jika diungkapkan semuanya.
terakhir sebagai penutup menurut ldii, islam tidak sah tanpa berbaiat kepada amir. memangnya nabi memberikan teladan seperti itu? syarat islam paling awal adalah ikrar dua kalimah syahadat dengan lisan selanjutnya diamalkan dengan perbuatan. jadi tidak dibutuhkan baiat atau sumpat untuk menunjuk amir/pemimpin, rt ada yang memimpin sampai negara pun sudah ada yang memimpin, mau cari pemimpin apa lagi?
Indonesia bukanlah negara agama.. hal ini pernah diakui oleh Bp Presiden (Presiden bertanggung jawab thdp kehidupan beragama yang beragam di negeri tercinta ini agar harmonis). Tapi seorang pemimpin agama bertanggung jawab thdp keselamatan yg dipimpinnya di dunia & akhirat ..maka dibuatlah ijtihad. Tapi sekali lagi ldii akan selalu menghargai keyakinan orang/ agama lain..tidak akan pernah menuduh/ memvonis sesat rang lain krn memang tdk enak dituduh sesat itu dan cenderung menimbulkan ketidak rukunan antar&inter umat beragama di Indonesia, negeri yg indah dengan segala perbedaannya... Trim's & Peace!
Lebih baik kita bergandengan tangan,saling melihat persamaan bukan perbedaan,daripada meributkan perbedaan aqidah lebih baik kita bersinergi menyatukan langkah mengejar ketertinggalan & keterbelakangan,satu untuk semua-semua untuk satu, ingat pesan Bung Karno: Indonesia didirikan bukan hanya oleh para malaikat dr surga tp juga oleh para syetan dr neraka so jangan hilangkan perbedaan, apalagi agama itu bukan milik kita,sudah ada yg punya & kita bukan pemiliknya tp pemeluknya,MARI KITA MAJU BERSAMA!
Sejauh yg kuamati tuduhan miring ttg ldii tdklah cocok,semua praktek pengamalan ldii berdasarkan tuntunan Nabi Muhammad S.A.W.(semua ada dasarnya),hanya memang..bbrp hal (mungkin banyak)dijumpai terasa asing..tp ternyata hadistnya asli (terutama kithabusittah-6 hadist shoheh) dan tdk ada sedikitpun yg dikarang (diro'yi)..Hmm mungkin benar juga hal ini disebabkan krn antara Nabi dan kita skrng sudah terpisahkn oleh jarak,waktu dan tempat serta sejarah yg dmkian panjang dan jauh..apalagi ada masa vakum selama masa penjajahan yg khabarnya kaum penjajah juga melakukan usaha2 pelemahan Islam dg cara melakukan penggalian dan pendalaman Islam secara utuh dan menyeluruh dgn mngutus seseorang secara khusus ke Mekah-Medinah, negeri aslinya agama islam.. untuk kemudian Islam dikaburkan dan ditutupi faktor2 yg menyebabkan org islam dmk bersatu,militan dan mempunyai jiwa berani mati(syahid) yg dmk tinggi.. sehingga ktk sekarang kita mempelajarinya dgn leluasa banyak hal-hal yag asing terungkap. Hal ini mencocoki salah satu hadis bhw :"Islam dtg secara asing dan akan kembali secara asing pula.. maka beruntung org-org yang asing (atau dianggap asing)". Faktor lain, Islam bukan agama asli leluhur/nenek-moyang kita bangsa Indonesia yg waktu itu mayoritas hindu..sesuai dgn namanya Indo-nesia yang berarti kepulauan-hindu!
hanya orang yg lebih dungu dari keledai saja yg tersesat selama 23 tahun. mau tahu contoh orang yg lebih dungu dari keledai ? ya.... dialah si Bambang Irawan itu.
yang pembohong itu bukan orang LDII tapi si dungu Bambang Irawan itu.
Merupakan suatu isyarat..bahwa siapapun boleh mengagumi terhadap seseorang atau bahkan terhadap nabi sekalipun,,tetapi lihatlah apa yang dikatakannya dan jangan melihat siapa yang mengatakannya..sehingga ketika orang yang dikagumi tersebut meninggal dunia ia akan tetap istiqomah...
Hanya orang bodoh yang mempercayai perkataan Bambang Irawan.
mampus kamu ,,, penghianat
kalau memang Bambang mendakwahkan kebenaran,,Beranikah dia sewaktu hidupnya mengupas NU yg jelas2 banyak syirik khurofat tahayul lan bid'ah2nya??
Nyatanya???
Diindonesia letaknya orang2 yg ngaku Islam tp ya ngga ibadah2 an, ngga solat2an, sukanya kuburan2,sedekah lautan,sedekah bumian...
Hanya orang yg dihapus bashirohnya kl mengatakan ttp masih muslim.
Tp mana ustadz yg ngaku membawa kebenaran ??
beraninya mbahas LDII,tp mbahas kerusakan masyarakat yg parah, ndak berani mgkn takut Bukunya ora LARIS.
Saya adalah menantu dari salah satu mubaliq jamaah LDII,Sampai saat ini tdk ada paksaan ke pd saya utk menjadi anggota jamaah.Namun saya slalu di suruh ikut pangajian. Akhirnya saya yakin untuk menyuruh istri saya keluar jamaah.Smoga usaha saya berhasil amiin . . Tolong do'a nya ya
Poskan Komentar
Berlangganan Poskan Komentar [Atom]
<< Beranda