Mien Ahmad Rifai, Penulis dan
Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

Meneliti Manusia Madura dari 2000 Peribahasa

Banyak tulisan yang menggambarkan orang Madura memiliki sifat kurang baik. Hal itu berbeda dengan apa yang ditemui Mien A Rifai selama dibesarkan di Madura. Sehingga, dia tertarik untuk mencari kebenaran dan jawaban atas pertanyaannya mengenai manusia Madura yang dia tuangkan dalam buku.

Rasa ingin tahu tentang Manusia Madura memaksa Mien melakukan beberapa hal untuk menemukan cara terbaik membahas bagaimana sebenarnya orang Madura. Diapun memutuskan menggunakan 2000 ribu peribahasa sebagai bahan dasar menelaah pribadi saudara-saudaranya di pulau garam.

"Yang saya temukan dalam sekian banyak peribahasa, ternyata hampir semua yang dikatakan orang luar terhadap Madura benar. Pendapat-pendapat orang luar itu banyak saya temui kebenarannya melalui peribahasa yang dipakai jaman dulu," terangnya.

Dia mengatakan, banyak ungkapan tentang orang Madura beringas, berani mati, dan memiliki watak keras terungkap dalam potongan-potongan kalimat dalam peribahasa. Meski demikian, warga Madura tak boleh menutup-nutupi identitasnya sebagai warga Madura karena malu.

"Kalau memang begitu, mau bagaimana lagi. Saya yakin, dengan penanaman pendidikan yang intensif dan benar, orang Madura akan berubah menjadi baik," tuturnya.

Bagi dia, yang penting menghilangkan stereotip buruk tentang Madura yang terkadang banyak dimanfaatkan salah beberapa oknum. Misalnya, dijadikan alat untuk menakut-nakuti warga lain yang sudah tercekoki stereotip buruk itu.

Pada dasarnya, lanjut Mien, stereotip merupakan gambaran yang salah dan berkembang sebagai pencitraan dari mulut ke mulut di masa silam. Gambaran salah itu merupakan gabungan dari potongan-potongan pendapat secara sepintas yang dijadikan bahan olok-olok. Sama halnya dengan stereotip yang dilekatkan pada masyarakat Jawa Tengah alon-alon asal kelakon. "Tak ada stereotip yang permanen," tegas mantan Kepala Herbarium Bogor ini.

Misalnya Jepang yang pernah digambarkan sebagai mata sipit yang kejam pada masa sebelum perang dunia II. Saat ini, gambaran tentang manusia Jepang sudah berubah. Kini, mereka digambarkan sebagai masyarakat yang tekun dan ulet dalam berbagai usaha di bidangnya masing-masing.

"Yang saya herankan, mengapa gambaran tentang Madura dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Padahal gambaran tentang Madura yang sedemikian buruk itu sudah ada sejak masa kerajaan," jelasnya.

Menurut Mien, satu-satunya cara menghilangkan citra negatif yang individualistik, teguh pendapatnya, dan lantang suaranya dengan mengarahkan dan mendidik masyarakat Madura. Tujuannya menjadi manusia sejati seutuhnya. Sehingga, citra negatif yang dulunya menjadi kelemahan bisa menjadi nilai lebih yang tidak dimiliki warga daerah lain di Indonesia.

Dia berharap, di masa yang akan datang pendidikan di Madura bisa mendapatkan dukungan dari lingkungannya. Ketidak berhasilan sistem pendidikan dalam merubah citra Madura, salahsatunya disebabkan kurang dukungan dari lingkungan setempat. Sehingga, perubahannya tidak siginifikan. Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi di luar daerah yang telah banyak menghasilkan perubahan dan kemajuan pola pikir masyarakatnya. (nra/tra)

Mien Ahmad Rifai

Temukan Lebih dari 100 Jenis Tumbuhan Baru

Nama Mien Ahmad Rifai sudah tidak asing di telinga masyarakat Madura. Selain penulis, sebelum pensiun dia aktif di lembaga ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang taksonomi tumbuhan. Kala itu, peneliti yang dilahirkan di Sumenep 1 Januari 1940 ini bertugas menglasifikasikan jenis tumbuhan.

Wilayah kerja Mien Ahmad Rifai cukup luas. Sehingga tidak asing baginya bepergian ke luar negeri. Mulai Thailand Selatan, Malaysia, Papua Nugini, hingga Solomon. Negara-negara yang menjadi wilayah kerjanya tergabung dalam satu wilayah yang dikenal dengan provinsi botani. Menurut Mien, pemisahan tumbuhan tersebut didasarkan pada jenis atau flora yang tumbuh di daerah masing-masing.

Setelah meneliti dan observasi lapangan, Mien menemukan lebih dari 100 tambuhan baru yang belum bernama. Diapun menambahkan nama Rifai di belakang nama tumbuhan yang ditemukan. Hanya, tidak satupun jenis tanaman baru itu temukan di Madura.

Meski demikian, beberapa tahun dia melakukan penelitian tanaman di tanah kelahirannya. Ternyata Madura memiliki satu jenis tanaman khas yang tidak tumbuh tempat lain di dunia. Tanaman ini sejenis pacar air yang hanya ditemui di Sumenep. Sedangkan pohon khas lainnya seperti siwalan, tlobur, lempeng, dan palembang masih bisa di temui di tempat lain.

"Sebenarnya, tumbuhan yang dijadikan nadi perekonomian di Madura bukanlah tumbuhan yang berasal atau asli Madura sendiri. Misalnya tembakau yang memiliki cita rasa berbeda karena terbaik di dunia. Itu bukan tumbuhan asli Madura. Tapi ada yang membawanya ke Madura untuk percobaan hasil dan kualitasnya," tuturnya.

Mien menjelaskan, jaman dulu Madura tidak segersang sekarang. Karena di Madura terdapat beberapa hutan. Sisa hutan asli yang ada hingga sekarang bisa dijumpai di daerah Nipah, Kabupaten Sampang. "Di Madura, dulu ada hutan. Tapi bukan hutan basah. Di seluruh Madura dikenal dengan hutan kering," terangnya.

Saat pendudukan Belanda, sistem kerajaan di Madura dan daerah lainnya mulai lemah. Akibatnya, sedikit demi sedikit mulai hilang kekuatannya. Melihat kesempatan itu, masyarakat berani membuka lahan dengan menebangi hutan kering. Kemudian dijadikan tanah pertanian.

Sebelum kerajaan di Madura kehilangan kontrol kekuasaannya, warga enggan membuka lahan pertanian. Karena begitu lahan dibuka, secara otomatis lahan itu milik raja. Sehingga, apapun hasil bumi yang diperoleh dari tanah harus diserahkan kepada raja sebagai upeti. Atau secara otomatis menjadi milik raja. Sementara mereka yang membuka lahan menjadi pekerja di tanah pertanian tersebut.

Hutan kering atau biasa disebut hutan mansun itu akhirnya mulai habis ditebang dan dijadikan lahan pertanian. Hingga sekarang, sisa hutan hanya bisa dijumpai di beberapa daerah yang tanahnya benar-benar tidak bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. "Kalau mau ke Blega, kita melihat hutan sekitar 1 kilometer. Seperti itulah hutan asli di Madura yang tidak ditebang karena tidak bisa ditanami," jelasnya.

Hingga kini, kondisi hutan di Madura sangat memprihatinkan. Dari 22 persen lahan yang seharusnya menjadi hutan, kini tinggal 1 persen saja. Kondisi itu membahayakan dan sangat beresiko. Hutan yang berfungsi penahan kandungan air tanah akan membuat banjir dan erosi tanah jika gundul. Selain itu, tidak adanya hutan akan membuat tanah menjadi sangat kering dan kekurangan air saat musim kemarau. "Hal itu harus diatasi, jika tidak pasti akan menyesal," ingatnya.

Menurut dia, untuk mengembalikan hutan-hutan di Madura hingga mencapai target 22 persen cukup sulit. Kepemilikian tanah secara pribadi oleh masyarakat menjadi penghambat terbesarnya. Tapi, semua pihak akan berhasil jika mereka bisa memberikan pemahaman dan penyadaran akan pentingnya hutan untuk menjaga keseimbangan lingkungan. (nra/tra)

Di Madura Harus Ada Pemulia Tumbuhan

Pada masa orde baru banyak ditemui kebun tebu untuk memasok pabrik-pabrik gula yang ada di Jawa dan daerah lain di Indonesia. Namun, keberadaan kebun-kebun tebu itu tidak bertahan lama. Sebab tanah di Madura tidak cocok ditanami bahan dasar pembuatan gula itu.

Selain itu, jenis tebu yang dikembangkan di Madura tidak sesuai dengan kontur kebanyakan lahan di Indonesia. Tanaman akan menyesuaikan diri dengan media tanamnya. Jika tanah kurang air, maka pertumbuhannya berjalan lambat dan kecil.

Begitu juga tebu dan pohon buah-buahan lain yang tumbuh di Madura. Sehingga, Mien menyarankan agar Madura memiliki banyak ahli pertanian yang bisa memuliakan jenis tumbuhan yang akan dibudidayakan.

"Untuk memuliakan tanaman butuh pengetahuan. Tapi, di Indonesia ini pengetahuan tentang pemuliaan tanaman itu kurang populer," papar suami Nurul Hayati ini.

Menurutnya, Indonesia hanya memiliki penghulu tanaman. Tapi minim sekali mak comblang yang mengetahui banyak hal tentang tanaman. Penghulu hanya bisa mengawinkan satu jenis tanaman dengan tanaman lain tanpa meneliti terlebih dahulu riwayatnya. Sedangkan mak comblang lebih banyak paham tentang riwayat dan jenis tanaman. Sehingga, mereka bisa menghasilkan perkawinan tanaman yang baik dan unggul. Mereka akan memilih tanaman-tanaman unggul untuk dikawinkan dan dicocokkan dengan media tanamnya.

Salahsatu negara yang kaya mak comblang tanaman adalah Thailand. Sehingga tidak mengherankan jika segala jenis tanaman yang dihasilkan di negeri berjuluk Gajah Putih itu lebih besar, manis, dan punya keunggulan lain daripada buah yang dihasilkan daerah lain. Pemerintah Thailand yang dipimpin raja sangat antusias dan mendukung pembudidayaan hasil perkawinan dan pemuliaan tanaman. "Jadi, begitu ada temuan jenis bibit baru yang unggul, rajanya sangat tertarik dan langsung mematenkannya," terang Mien.

Dia menyontohkan bunga anggrek. Sebenarnya tanaman itu bukan tanaman asli Thailand. Tanaman tersebut sebenarnya berasal dari Indonesia. Namun setelah dimuliakan, anggrek dipatenkan menjadi milik Thailand. Tentu saja setelah melalui penelitian dan menjadi bibit unggul yang jauh lebih baik daripada bnga anggrek di tempat aslinya Indonesia.

Begitu juga durian dan buah bukkol (Madura, Red) yang di Indonesia hanya seukuran bola dan kelereng. Di Thailand, pohon dari buah itu bisa mehasilkan ukuran dua kali lebih besar. Sehingga, bisa dijadikan komoditas ekspor. Malah, Indonesia menjadi salahsatu negara tujuan penjualan hasil buah pemuliaan.

"Seandainya di Indonesia ada banyak pemulia tanaman, saya yakin Thailand akan kalah. Sebab, di Indonesia banyak terdapat buah-buahan yang jenisnya bisa dimuliakan," ujarnya.

Untuk tanaman padi, dia berharap ke depan harus ditemukan biit unggul yang benar-benar bisa bertahan dalam kondisi panas. Hal itu harus dilakukan sebagai antisipasi pemanasan global yang mengakibatkan peningkatan suhu. "Kalau padi yang ditanam sekarang tidak bisa dikembangkan, maka kita akan terancam gagal panen. Sebab, padi di Indonesia ini manja air," jelasnya.

Di Madura, dia berharap pengembangan tersebut dilakukan Unijoyo. Meski pemuliaan tanaman bukanlah ilmu yang mudah dipelajari, tidak ada halangan untuk bisa menjadi ahli di bidang tersebut.

"Sebenarnya ilmu pemuliaan tanaman tidak terlalu sulit. Asalkan ditekuni. Sekarang saya sedang mendidik beberapa mahasiswa untuk mengembangkan jenis pisang dan mangga," tutur pria kelahiran Sumenep ini.

Menurut dia, ada beberapa buah yang justru diimpor dari luar negeri. Padahal buah itu banyak terdapat di Indonesia. Misalnya pepaya turen yang banyak ditemui di pasar-pasar tradisional. "Sayangnya, kita ini tetap bangsa kerdil. Kita lebih suka membeli papaya turen karena ada branding Thailand-nya," sindirnya. (nra/tra)


Sumber: Jawa Pos, Kamis, 07 Agustus 2008

Label: , ,

1 Komentar:

Pada 29 September 2014 19.30 , Anonymous Anonim mengatakan...

fakta di lapangan ,,,adalah suku madura yg paling sering bentrok dengan suku lain non madura....

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda