Prof Dr Ir HM Rachimoellah, Dip EST

Ingin Karya Nyata untuk Memajukan Madura

Mengisi pulau Madura dengan berbagai penelitian dan prestasi adalah cita-cita Prof Dr Ir HM Rachimoellah Dip EST. Sehingga, Dosen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini membulatkan tekad menuntut ilmu ke luar pulau bahkan ke luar negeri. Alasannya, tanpa bekal keilmuan yang cukup, membangun Madura hanya akan menjadi wacana dan pembicaraan belaka.

Pria kelahiran Pamekasan 17 November 1949 ini berharap apa yang dicita-citakan menjadi kenyataan. Tentu saja, langkah yang ditempuh dengan menuntut ilmu setinggi mungkin. Harapannya, Madura mampu mengejar ketertinggalannya. Karena beberapa kalangan menilai Madura berkembang sangat pelan dibanding daerah lainnya.

"Paling tidak bisa sama. Kalau bisa, Madura harus lebih maju dibandingkan daerah lain dalam beberapa dekade ke depan," tegasnya saat di temui wartawan koran ini di kediamannya, Perum ITS Jalan Teknik Arsitektur Blok J/5, Surabaya.

Nah, untuk mewujudkan ci-citanya memajukan Madura, dia hijrah ke Surabaya. Setelah menamatkan sekolah menengah tingkat atas (SMA) di Pamekasan 1969, dia melanjutkan studi di Institut Teknik Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Saat itu, tidak banyak mahasiswa ITS berasal dari Madura. Kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Padahal, kala itu biaya kuliah di ITS tidak semahal biaya kuliah di universitas lain. Hingga akhirnya dia berhasil meraih gelar insinyur teknik.

Namun, gelar tersebut tidak membuatnya puas menuntut ilmu. Setelah menyelesaikan kuliah S1, dia menjadi staf pengajar di ITS. Bahkan, Rachim mendapat kepercayaan untuk melanjutkan studi S2 dari pihak kampus. Tentunya, kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Pihak universitas menilai, ayah tiga anak inilah yang pantas mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Setelah menuntaskan urusan administrasi, berangkatlah dia ke Belanda untuk mendalami ilmuan kimia. Pada 1981, suami Ir Indah Mutiara MSi ini berhasil menyelesaikan S2. Di ITS, Rachim kembali menjalankan profesinya sebagai dosen.

Tiga tahun kemudian, dia kembali mendapatkan kesempatan menambah pengetahuan di luar negeri. Pada 1984, Rachim berangkat lagi ke luar negeri untuk mendapatkan gelar Doktor di INSA de Lyon, Perancis.

Setelah menyelesaikan desertasi berjudul Pemanfaatan Energi Surya dalam Pengolahan Air Limbah Organik dia bertolak ke tanah air setelah empat tahun tinggal di Perancis. Menurutnya, desertasi S3-nya telah dipublikasikan ke seluruh dunia. Sayang, di Indonesia tidak satupun perusahaan tertarik menggunakan hasil penelitiannya untuk pengolahan limbah.

"Sebenarnya sudah ada yang datang untuk memanfaatkan hasil penelitia saya. Tapi sampai sekarang masih belum ada tindak lanjutnya," ujar Rachim.

Diusia 46 tahun, dia mendapatkan anugerah. Dia diangkat menjadi guru besar ITS. Saat itu, dia orang termuda yang pernah mendapatkan gelar guru besar. "Kata orang, saya guru besar termuda waktu itu," tandas pria lulusan SD Manten Pamekasan ini.

Tanggung jawab sebagai direktur pasca sarjana diembannya. Yang konon, pasca sarjana yang dipimpin Rachim rintisan pertama di ITS. "Saya sebenarnya berharap banyak mahasiswa dari Madura yang mendaftar di pasca sarjana. Ternyata tidak banyak," ulasnya. Sejak itu, dia berpikir bagaimana memajukan Madura dengan berbagai keahlian yang dimiliki.

"Saya pernah menyalonkan diri sebagai rektor Unijoyo (Universitas Trunojoyo Madura, Red) beberapa tahun lalu. Sayang, saya tidak terpilih," tuturnya. Alasannya maju sebagai rektor semata-mata ingin memberi karya nyata memajukan masyarakat Madura.

Menurut dia, semua tokoh Madura memberikan dukungannya. Mulai pemerintah hingga alim ulama yang memiliki pengaruh besar bagi masyarakat Madura. Visinya menonjolkan semua civitas akademik Unijoyo dengan berbagai prestasi. Sebab, dia melihat terlalu banyak hal mubadzir di Madura belum digali manfaatnya. Jika diteliti secara cermat, tidak satu pun yang ada dan tumbuh di bumi Madura tanpa manfaat.

Terlebih lagi di Unijoyo. Banyak dosen muda yang harus memerdalam pengetahuan dengan berbagai penelitian. "Sayang, sistem tidak memilih saya," tandasnya.

Saat ini, dia menilai greget perubahan di Unijoyo masih harus terus ditingkatkan. Paling tidak, problem yang selama ini dialami Unijoyo bisa teratasi. Bagi dia, tantangan terpenting Unijoyo adalah merubah pemikiran masyarakat yang cenderung lebih memilih menyekolahkan anaknya ke luar Madura. Bahkan, yang menuntut ilmu Universitas tersebut justru mahasiswa yang berasal dari luar Madura. (nra/tra)

Harus Mengabdi Kepada Madura

Gagal terpilih sebagai rektor Unijoyo tidak membuatnya berhenti mengabdikan diri kepada Madura. Kini, dia bergabung dalam sebuah organisasi Dewan Pembangunan Madura (DPM). Dosen teknik kimia ITS Surabaya ini dipercaya sebagai dewan pakar.

Sejak kapan bergabung dengan DPM?

Sebenarnya, kalau organisasi ini ada dari dulu, saya pasti sudah bergabung sejak lama. Awalnya saya tidak tahu. Tapi H Zaini (ketua harian DPM) datang ke kantor saya. Kemudian, dia mengajak saya untuk bersama-sama memikirkan Madura ke depan. Terutama pasca pembangunan jembatan Suramadu. Setelah itu dia mengajak saya bergabung dalam Forum Intelektual Indonesia (FII) dan DPM.

Apa yang ingin dicapai?

Saya ingin mengabdi pada Madura dengan cara yang baik. Dan saya tahu siapa yang telah membawa Madura hingga sejauh ini. Makanya, saya ingin memberi kontribusi kepada orang yang telah berjuang agar Madura berkembang. Selain itu, sudah menjadi kewajiban saya membantu saudara-saudara di Madura.

Caranya?

Bersama-sama dengan pengurus lain, kami telah merumuskan kerjasama dengan empat kabupaten di Madura. Tujuannya, bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan menghadapi industrialisasi. Disamping memersiapkan sumber daya manusianya.

Apa yang dilakukan untuk peningkatan SDM?

Dibidang itu (SDM, Red), DPM merekrut 20 putra-putri terbaik dari empat kabupaten di Madura untuk di kuliahkan di ITS. Mereka dibiayai sepenuhnya selama berkuiah. Kami berharap ini akan berhasil dan menunjang penguasaan mereka di bidang teknik. Sehingga, apa yang mereka dapatkan di bangku kuliah bisa diimplementasikan di kampung halamannya.

Bagaimana ukuran tingkat keberhasilannya?

Ukurannya bukan hanya dari mahasiswanya saja. Tapi DPM yang sudah membiayai mereka. Mengapa? ini yang pertama kalinya. Tentunya semua pihak berharap berhasil. Jika yang pertama berhasil, maka untuk selanjutnya berbagai pihak pasti memberikan dukungan.

Artinya, mereka akan diawasi secara ketat?

Barangkali tidak sejauh itu. Yang terpenting jangan sampai mereka yang datang dari Madura terpengaruh gemerlapnya kota Surabaya. Sebab, sudah banyak buktinya mahasiswa-mahasiswa yang terpaksa bertahan lama karena sibuk bermain. Saya harap, mereka yang sudah memeroleh beasiswa tidak demikian. Karena itu, dibutuhkan pengarahan yang benar sejak dia berangkat dari rumah. (nra/tra)

Kiat Sukses Prof Dr Ir HM Rachimoellah Dip EST

Belajar, Berdoa, dan Meminta Restu Ibu

Rachimoellah bukan dilahirkan dari keluarga berada yang bisa menyekolahkan anaknya hingga memeroleh gelar S3. Sehingga, tak pernah terfikir dibenaknya menjadi guru besar di salahsatu universitas terkemuka di Indonesia. Tapi, berkat kegigihan menempuh pendidikan tidak berhenti karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Berkat kegigihan menuntut ilmu serta rajin beribadah dan berdoa mengantarkan Rachim menjadi guru besar termuda di ITS. Resepnya sederhana. Meminta restu ibu. "Yang tak kalah pentingnya restu ibu. Ketika hendak melangkah, saya selalu meminta restu ibu," tuturnya.

Menurut dia, tidak satupun keberhasilannya dicapai tanpa tiga hal. Yaitu, belajar dengan tekun, berdoa pada Tuhan, dan mendapatkan restu dari ibu. "Saya tekankan kepada anak-anak, jangan sekali-kali melawan atau berkata kasar kepada ibu," katanya.

Rachim menceritakan pengalamannya saat menghadapi ujian S3-nya di Prancis. Waktu itu dia berada di negara pemilik menara eifel ini empat tahun. Satu setengah tahun belajar bahasa Prancis. Sisanya dimanfaatkan untuk kuliah serta menyusun desertasi.

Diakuinya, saat ujian di hadapan para dosen, Rachim belum sepenuhnya menguasai bahasa Prancis. Padahal, dia wajib menggunakan bahasa Prancis untuk uji desertasi. "Bahkan, saya masih kalah jauh dengan istri saya," tandasnya.

Beberapa saat sebelum ujian dimulai, dia kembali meminta ibunya agar mendoakannya. Hasilnya bukan cuma lulus. Dia juga mendapatkan nilai terbaik dalam ujian. "Saya yakin, tanpa restu ibu, saya tidak mungkin bisa melewati ujian itu dengan baik," kenangnya.

Sepulang dari Prancis, dia membawa kebanggan yang lebih daripada sekedar lulusan S3 lainnya. Sebab, Rachim yang dilahirkan dari keluarga kurang mampu bisa sukses memeroleh gelar doktor dengan predikat terbaik. Hal itu dipersembahkan pada ibunda tercintanya sebagai suatu hadiah atas jerih payah membesarkan dan mendoakannya.

Begitu juga saat dia diangkat sebagai guru besar termuda di ITS. Kebanggaan itu juga diberikan untuk ibunya. "Dia (ibunya, red) hadir saat saya dinobatkan menjadi guru besar," katanya. Saat itulah, dia seakan-akan menunjukkan pada sang ibu bahwa putranya tidak menyerah meski memiliki keterbatasan di bidang ekonomi.

"Saya benar-benar bangga kepada ibu. Dialah yang membuat saya seperti sekarang dan menginspirasi segala prestasi yang sudah dan akan saya capai," ujarnya. Diungkapkan, salahsatu cita-cita yang belum tercapai adalah membuat publikasi ilmiah internasional semua hasil uji laboratoriumnya. (nra/tra)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 04 Agustus 2008

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda