Prof Dr H R Soedarso Djojonegoro AIF

Pernah Berjuang Bersama Barisan Pelajar

Jarak antara Madura dan Surabaya hanya beberapa kilometer. Namun berbagai kemajuan di Madura jauh tertinggal dibandingkan ibukota Provinsi Jawa Timur ini. Alasan utama ketertinggalan Madura adalah selat yang memisah pulau Jawa dan Madura.

Meski demikian, jarak pemisah harus disyukuri. Sebab, tanpa pemisah, masyarakat Madura tidak akan tekun dan bersungguh-sungguh saat memutuskan merantau ke luar daerah.

Hal tersebut dirasakan Guru Besar Unvesersitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Dr H R Soedarso Djojonegoro AIF. Pria yang dilahirkan di Kabupaten Pamekasan pada 8 Desember 1931 ini juga salah satu perantau yang sukses.

"Saya dilahirkan sebelum Indonesia Merdeka. Jadi, saya sempat merasakan tidak enaknya Madura saat perang berkecamuk," ungkapnya saat ditemui wartawan koran ini di kediamannya Jalan Raya Darmo 171, Surabaya.

Mendiang ayahnya, Abdul Mutallib, saat itu bekerja sebagai guru. Dijaman sebelum kemerdekaan, orangtuanya sering berpindah tugas. "Kalau dulu, yang namanya guru selalu dipindah setiap dua tahun sekali," tandasnya.

Menurut dia, almarhum ayahnya beberapa kali pindah tugas mengajar. Orangtuanya lebih sering bertugas di luar Madura. Seperti di Sumatera, Jateng, Samarinda, hingga Balikpapan. Setelah berkali-kali pindah tugas mengajar, ayahnya kembali bertugas ke Pamekasan. Hingga istri Abdul Mutallib yang berasal dari Jawa Tengah melahirkan Darso, panggilan akrab Soedarso.

Darso menjelaskan, pertemuan ayah dan ibunya berawal dari cita-cita yang sama untuk menjadi pendidik. Karena di masa sebelum kemerdekaan, sekolah guru hanya ada di Probolingo dan Jawa Tengah.

"Saya masih ingat. Begitu pindah ke Pemalang, saya masuk SD. Waktu itu masih SR (Sekolah Rakyat, Red)," tuturnya. Saat di Pemalang, lanjutnya, ayah saya bukan lagi bekerja sebagai guru. Tapi dipercaya menjadi Kepala Sekolah (Kasek). Tak lama menjadi Kasek, ayahnya kembali pindah tugas ke Bandung untuk menjadi Wakil Kepala Sekolah di sana. "Tapi, yang hijrah ke ke Bandung hanya ayah," kenangnya. Sementara, Darso melanjutkan sekolah di Pemalang.

Darso menjelaskan, berpindah-pindah sekolah tidak pernah lepas dari kehidupannya. Pada 1943, setelah lulus sekolah dasar, dia dan keluarganya kembali ke tanah kelahirannya. Di Pamekasan, ayahnya dipercaya menjadi Kepala Sekolah Menengah Pertama SMP Jung Cang-Cang, Pamekasan.

"Setahu saya, waktu itu SMP Jung Cang-cang adalah SMP pertama di Madura," ujarnya. Lalu, Darso melanjutkan di sekolah Jepang Chu Gakko atau setara sekolah menengah (SMP).

Setelah dibombardir Amerika, Jepang menyerah. Lalu Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka, ayahnya diangkat menjadi Inspektur Pendidikan (sekarang setara Kakanwil Pendidikan) di Probolinggo yang sudah menjadi bagian dari RI. Sebab, Surabaya dan beberapa kabupaten lain masih dikuasai Belanda.

Dari Madura, Darso dan keluarganya berpindah menggunakan perahu dan berlabuh di Jangkah Probolinggo. Saat melanjutkan sekolah di Probolinggo, Darso mengaku pernah ikut berjuang dalam barisan pelajar di Asem Bagus.

"Sebenarnya, waktu itu masa liburan sekolah. Saya mendapat bagian berkunjung ke Asem Bagus. Kebetulan, saat itu Belanda menyerang. Jadi, saya dan teman lain ikut berperang," paparnya.

Sayang, Jember tidak bisa dipertahankan. Kabupaten Kota yang kini menjadi salah satu kota pelajar di timur itu jatuh ke tangan Belanda. Darso-pun kembali memboyong buku-bukunya untuk melanjutkan SMP di Malang.

Memasuki 1951, perang berakhir. Surabaya kembali ke pangkuan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Ayah Darso kembali diangkat menjadi Insektur di Surabaya. Sedangkan Darso meneyelesaikan pendidikan SMA di Surabaya. Lalu, melanjutkan di Fakultas Kedokteran yang saat itu cabang Universitas Indonesia (UI) di Jakarta.

"Dulu, di Indonesia hanya ada tiga universitas. Yakni UI, ITB Bandung, dan UGM. Di Surabaya ada dua cabang UI. Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Satu lagi cabang UGM yaitu Fakultas Hukum," terang profesor yang telah mengabdi 27 tahun di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Pada 1954, Presiden Soekarno, meresmikan Universitas Airlangga yang terdiri dari lima fakultas. Yaitu; Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, Hukum, Ekonomi, dan Sastra yang berada di Bali. Beberapa tahun kemudian, Fakultas Sastra di Bali lepas karena sudah didirikan Universitas Udayana.

Memasuki 1957, Darso lulus sebagai Sarjana Kedokteran. Empat tahun kemudian, tepatnya 1961, Darso dinobatkan sebagai dokter. "Agak terlambat. Seharusnya untuk menjadi dokter kan hanya tujuh tahun. Saya 10 tahun. Karena diangkat menjadi asisten dosen yang 50 persen mengajar dan 50 persen belajar," ulasnya.

Lalu, pria kelahiran Pamekasan ini diangkat menjadi dosen Unair. Kemudian menjadi sekretaris rektor (pembantu rektor). Pada 1984-1999 dia dipercaya menjabat sebagai rektor selama dua periode. Di sela kesibukannya, Darso diangkat sebagai Duta Besar UNESCO (United Nation Education Science Cultural Organisation) di Paris, Perancis. Setelah jabatan rektor selesai, dia kembali menjadi dosen.

Kini di masa pensiunnya, Darso tetap dibutuhkan sebagai pengajar di program studi pasca sarjana S2 dan S3 di beberapa universitas. Diantaranya Unair, Unesa, dan beberapa universitas di Surabaya. "Itu pengalaman saya dari Madura hingga ke Surabaya. Perjuangannya tidak sedekat Selat Madura memisahkan pulau Madura dengan Surabaya," pungkasnya. (nra/tra)

Tepis Anggapan Madura Tak Intelek

"Saya bangga menjadi orang Madura". Itulah kalimat yang disampaikan Prof Dr HR Soedarsono Djojonegoro AIF ketika diwawancarai pandangannya tentang orang Madura. Kebanggan itu cukup beralasan. Sebab, profesor yang telah mengabdi 27 tahun di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bukan hanya sukses menimba ilmu.

Sederet prestasi berhasil raih. Diantaranya menjadi duta besar UNESCO di Paris, Perancis. Di era pemerintah Soeharto, dia dipercaya memelihara kebudayaan dan aset sejarah di Indonesia.

Dia mengakui, image masyarakat Madura hanya bisa berdagang memang sudah melekat hampir di seluruh nusantara. Meski hal tersebut bukan suatu kelemahan, semangat untuk menyatakan orang Madura juga terdiri dari kaum intelektual mulai tertanam sejak Darso, panggilan akrab Soedarso menjadi dosen.

Pasalnya, warga di luar Madura berpikir tidak ada satupun orang Madura yang melanjutkan sekolah hingga tingkat tertinggi. Mereka mengira, anak-anak Madura selalu berhenti sekolah di tengah jalan untuk berdagang.

"Saya ingin menepis image itu. Sekarang lihat saja berapa banyak orang asli Madura yang sudah diangkat menjadi guru besar di beberapa universitas di Indonesia," ungkapnya bangga. Tapi, dia mengakui saat menjadi salah seorang guru besar di Unair, masih jarang guru besar di Indonesia yang berasal dari Madura.

Dia menjelaskan, bahwa orang Madura kini telah jauh seperti apa yang diungkapkan orang lain. Sebab, ungkapan dan cara pandang negatif terhadap orang Madura adalah hasil cekokan saat masa kolonial Belanda.

"Saya juga heran, mengapa stereotip Madura yang ditanamkan oleh Belanda bisa bertahan sedemikian lama," ujar pria berumur 77 tahun ini.

Dijelaskan, pada masa pendudukan Belanda, pualu Madura memang dibiarkan tandus, tidak subur, kering, dan dibuat segersang mungkin. "Dulu waktu saya kecil, Madura itu tandus luar biasa. Tidak ada tanaman sama sekali. Nah, kalau sekarang bisa ditanami, itu semua berkat Pak Noer (H Mohammad Noer, Red)," tuturnya.

Karena gersang, orang Madura merantau untuk memertahankan hidupnya. Sebab, kekerasan dan kemauan orang Madura sudah dipelajari mendalam oleh kolonial Belanda. Jika mereka tetap bertahan di Madura, maka pendudukan Belanda di Madura akan terancam. Cara mencerai berai itu terbukti ampuh. Bahkan, di daerah luar Madura juga ditanamkan sifat buruk orang Madura. (nra/tra)


Perkembangan Pendidikan Tidak Secepat di Jawa

Bagi suami almarhum Mieke Laksmiati ini, kemajuan di Madura hanya dibatasi waktu. Dia memprediksi, ketika jembatan Suramadu selesai, maka perubahan di Madura akan berjalan cepat. Sebab, dia menilai warga Madura sudah siap menerima perubahan dengan segala konsekwensinya.

Kapan terakhir ke Madura?

Dulu, sebelum saudara-saudara saya pindah ke Surabaya, setiap tahun saya pulang kampung ke Pamekasan. Tapi, sekarang sudah jarang. Kecuali ada acara penting atau mengisi seminar sebagai pembicara.

Bagaimana perkembangannya?

Kalau dibandingkan dengan Surabaya, sejak dulu hingga sekarang jelas beda jauh. Itu kalau ditinjau dari derap perubahan. Tapi, itu bisa dipahami. Sebab, pengaruh perekonomia yang ada di Surabaya masih kurang masuk. Insya Allah, kalau jembatan Suramadu selesai, perubahannya akan cepat. Masyarakat Madura sudah siap. Tinggal menunggu kenyataannya.

Perkembangan di bidang pendidikan?

Saya tahu betul perkembangan pendidikan di Madura. Sebab, saya pernah menjabat di Kopertais pada 1979-1985. Dan saya sangat menyesal perkembangannya tidak bisa secepat di Jawa.

Kenapa?

Sekali lagi masalah jarak. Kita lihat, orang Madura yang memiiki uang, mereka lebih memilih menyekolahkan anaknya di Jawa. Itu terjadi karena mereka melihat mutu pendidikan di sana (Madura, Red) masih kurang. Penyebabkan sederhana. Karena jarang sekali ada dosen atau tenaga pendidik dari Jawa yang mau mengajar di Madura. Waktu yang dihabiskan dalam perjalanan terlalu panjang.

Apa Suramadu bisa menjamin?

Menurut saya bisa. Kalau waktu yang dihabiskan untuk transportasi berkurang signifikan, saya yakin akan banyak tenaga pengajar berkualitas datang ke Madura. Jadi, mereka (tenaga pengajar, Red) bisa membagi waktu. Misalnya, siang mengajar di Madura, malamnya di Surabaya.

Ada hal lain yang bisa menjamin kemajuan Madura?

Suramadu sudah cukup mewakili semua. Jika secara ekonomi dampaknya bisa baik, maka yang lainpun akan mengikutinya. Tentunya, dukungan pemerintah dan semua tokoh di Madura sangat diperlukan selain menjadi benteng pertahanan budaya dan social. (nra/tra)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 09 Agustus 2008

Label: , ,