Muhammad Noer Genap 90 Tahun


Minggu, 13 Januari yang lalu, mantan Gubernur Jatim H Muhammad Noer genap 90 tahun. Meski sepuh, putra Madura itu tetap aktif dalam kegiatan sosial. Kepada Jawa Pos, Pak Noer mengungkapkan rahasianya tetap sehat.

Ruang tamu rumah di Jalan Ir Anwari itu tertata rapi dan khas. Barang-barang dikumpulkan berdasar bentuk dan jenisnya. Foto keluarga berjajar di sebelah kiri, sedangkan di sebelah kanan guci-guci berisi tongkat diatur rapi dekat sofa. Seluruh dinding nyaris tertutup foto keluarga dan piagam penghargaan.

Itulah kediaman H Muhammad Noer, Gubernur Jatim pada 1967 - 1976. Pada Minggu keluarga itu punya acara, tidak tampak kesibukan berlebihan di rumah tersebut. "Bapak inginnya memang perayaan sederhana. Paling cuma tumpengan," kata Fenny Herawati, putri keenam Noer. "Maunya sih di rumah, tapi perkiraan kami tidak cukup menampung semua. Makanya dipindahkan ke hotel," lanjutnya.

Ditemui di rumahnya kemarin, wajah mantan duta besar Republik Indonesia untuk Prancis itu tampak ceria. Didampingi Fenny dan cucunya, Myrna Sawitri Primadani, Pak Noer -panggilan akrabnya-- mengungkapkan harapannya di usianya kini. "Usia boleh panjang, tapi tetap harus berguna," katanya.

Meski berjalan dengan bantuan tongkat, namun Pak Noer masih cukup cekatan. Belum tampak tanda-tanda keletihan di wajahnya. "Diberi umur panjang kalau tidak sehat ya.. percuma. Diberi umur panjang dan sehat kalau tidak berguna malah lebih percuma lagi," tegasnya.

Pak Noer, sangat bersyukur dengan keadaannya sekarang. Sebab, Tuhan menganugerahinya umur panjang, kesehatan, serta masih berguna bagi orang lain, terutama orang di sekitarnya.

Asal tahu saja, sampai sekarang pria kelahiran Sampang itu tetap aktif di berbagai yayasan. Setidaknya dia mempimpin empat yayasan. Yakni, Dewan penyantun seluruh universitas negeri dan beberapa universitas swasta di Surabaya, Jember serta Madura, Yayasan Jantung Jatim, Yayasan Asma Jatim, dan Yayasan Aji Dharma Bhakti. Keaktifannya di berbagai yayasan itu, kata Pak Noer, merupakan salah satu cara agar tetap berguna.

Pada ulang tahunnya nanti, keluarga besarnya bakal hadir. Wati -panggilan Fenny Herawati- sudah mengontak semua keluarga. "Mungkin tidak semua bisa datang, tapi kami ingin menunjukkan pada Bapak betapa kami mencintai dan mengagumi Bapak," katanya.

Keluarga Pak Noer memang besar. Dari pernikahannya dengan Mas Ayoe Siti Rachma, 87, dia dikaruniai delapan anak, yang kini sudah memberinya 21 cucu dan tiga cicit. "Ulang tahun Bapak ini merupakan momen berharga. Sebab, tak banyak penduduk kota besar, termasuk Surabaya, yang mampu bertahan hingga usia 90 tahun," kata Wati.

Punya resep panjang umur? "Resepnya sehat," kata Pak Noer. Ternyara, SEHAT Pak Noer adalah singkatan dari Seimbangkan gizi, Enyahkan rokok, Hindari stress, Ambil tensi secara teratur, dan Teratur berolahraga. "Kalau semua bisa dijalankan dengan baik, semua orang bisa panjang umur," katanya.

Mantan anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) itu mengaku sudah menerapkan resep itu sejak muda. Hidupnya sangat teratur dan terjadwal. Setiap hari dia tidur pukul 22.00 dan bangun pukul 04.30. Setelah salat subuh, mandi, kemudian membaca koran dan majalah yang dikirim ke rumahnya. Sarapan dilakukan pukul 08.00.

Setiap Senin dan Rabu, seusai sarapan mantan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional itu ke rumah sakit untuk mengontrol kesehatannya. Selain hari-hari itu, seusai sarapan dia punya jadwal berenang. "Meski cuma 15 menit, harus olahraga. Disiplin harus dijaga. Itu salah satu resep tetap sehat," tegasnya.

Disiplin memang sudah melekat pada Pak Noer, termasuk disiplin waktu. Dia tidak pernah terlambat datang pada setiap kegiatan. Sebaliknya, dia juga tidak mentolerir orang yang datang terlambat saat membuat janji bertemu dengannya.

Putra Raden Arjo Tjondropratikto itu juga sangat teliti menempatkan barangt-barangnya. Sifat itu diturunkan pada anak dan cucunya. Sejak kecil mereka dididik untuk bertanggung jawab terhadap peletakan barang-barang kepunyaannya serta patuh terhadap jadwal. "Akung memang orang yang rapi dan disiplin. Sifat itu ditanamkan pada kami," ungkap Myrna Sawitri.

M.Noer memang menjadi kebanggan keluarga. Kiprah dan pemikirannya banyak memberikan sumbangsih untuk pembangunan Jatim. Salah satu idenya yang fenomenal adalah Jembatan Suramadu.

Jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura itu terbetik di pikirannya sejak 1950. "Sebagai pemimpin, kita memang harus berpikir ke depan. Jangan hanya berpikir saat ini," katanya. Dia bangga Suramadu telah terealisasi dan hampir rampung.

Di usianya kini, Pak Noer tidak punya keinginan khusus. Dia hanya ingin didoakan agar diberi tambahan umur dan tetap dapat berguna bagi orang lain. Semoga panjang umur Pak Noer. (LUSIE WARDANI)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 10 Jan 2008

Label: ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda