Sampit Kini Sudah Berubah

Orang Madura Diterima, Beraktivitas seperti Dulu Lagi

Sampit adalah kota yang sangat menakutkan bagi orang Madura pada awal 2001 lalu, saat terjadi kerusuhan etnis. Tapi, sekarang kota ini sudah berubah. Kembali ramah kepada orang Madura. Banyak orang Madura yang dulu mengungsi, kembali lagi dan menjalani aktivitas sehari-harinya seperti biasa. Berikut oleh-oleh Agustini, kru KèKER Plus, yang baru pulang dari Sampit.

Kota Sampit merupakan kota yang lumayan ramai. Di kota ini ada pelabuhan untuk kapal besar. Biasanya, tiga hari sekali ada kapal pengangkut penumpang dari Kota Surabaya sandar.

Bila ingin ke Sampit, bisa menggunakan jalur laut. Jika naik kapal dari Pelabuhan Perak Surabaya, waktu tempuhnya satu hari satu malam. Tapi kalau tidak ingin mabuk laut, bisa naik pesawat udara. Hanya, mendaratnya di Kota Palangkaraya. Dari ibu kota Kalimatan Tengah ini dilanjutkan perjalanan darat naik tarvel, selama tujuh kemudian baru sampai Sampit.

Sampit memang punya kenangan pahit tentang konflik antara orang Madura dan Dayak pada pertengahan Februari 2001. Kota ini saksi bisu ribuan korban melayang dan harta benda hangus. Saat itu puluhan mungkin ratusan ribuan warga yang bersuku Madura mengungsi ke daerah lain. Kala itu, Sampit merupakan kota yang sangat tidak ingin memiliki warga yang bersuku Madura.

Tapi, tujuh tahun kemudian, keadaan Sampit sudah jauh berbeda. Kini bila berkunjung ke sana, dapat menemui lagi warga asal Madura. Mereka melakukan aktivitas seperti warga Sampit pada umumnya.

Pola relasi antara orang Madura dan warga sekitar kembali seperti ketika konflik belum terjadi. Banyak yang sudah memerbaiki rumahnya yang hancur akibat konflik kala itu. Bahkan, mereka terlihat akrab dengan warga Sampit lainnya.

Saat saya mencari rumah Ibu Endang di Sampit, warga yang ditanya terlihat ramah. Meski saat itu saya mengatakan bahwa saya orang Madura. Bahkan, orang itu mengantar sampai ke rumah Ibu Endang.

Suasana seperti dulu, tampak terlihat saat mengunjungi pasar PPM (Pusat Perbelanjaan Mentaya). Di pasar ini banyak orang Madura berjualan. Mereka sudah berani mengaku bahwa mereka berasal dari Madura ketika ditanya saat berjualan di pasar. Begitu juga dengan warga Sampit lainnya tidak takut lagi ketika membeli barang dari orang Madura.

Kondisi ini sungguh berbeda dengan suasana dua tahun lalu ketika saya mengunjungi Sampit. Ketika itu suasana masih tegang dan masih banyak kecurigaan-kecurigaan dari warga Sampit kepada orang Madura yang baru kembali. Saat itu orang Madura yang berjualan di pasar belum mau mengaku bahwa mereka orang Madura. Mereka juga ketakutan bila ditanyakan tempat tinggalnya oleh orang yang belum dikenal.

Ketika itu orang Madura di sana mengeluh pembeli sepi. Alasannya pun tak wajar, warga Sampit takut kalau dagangan yang dijual orang Madura diberi racun dan takut orang Madura akan membalas dendam kepada mereka.

Itu dua tahun lalu. Kini tingkat penerimaan warga sudah meningkat. Hal itu atak lepas karena prilaku orang Madura di sana sudah berubah. Menurut H Rahmawati anggota Komisi A DPRD Sampit, Sekarang orang Madura lebih menjaga tingkah lakunya dibanding dulu. "Jadi, kini mereka bisa di terima masyarakat sekitar. Kalau dulu mereka sering seenaknya dan terkadang mau menang sendiri," katanya.

Dia mengimbau, perubahan sikap itu harus tetap dijaga. Itu agar suasana yang kondusif terjaga dan tidak menimbulkan bibit-bibit permusuhan di antara orang Madura dan Dayak.

Menurut Tajuddin Nor, staf di Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Sampit, warga Sampit yang berasal dari Madura sudah banyak yang kembali. "Orang Madura yang sudah kembali ke Sampit sekitar 70 sampai 80 persen," ungkapnya.

Mereka kembali ke rumahnya yang dulu didiami sebelum konflik terjadi. Namun, ada juga yang mengontrak. Ini biasanya orang Madura yang tidak punya rumah atau yang enggan memerbaiki rumahnya yang rusak akibat konflik.

"Rata-rata orang Madura itu kembali ke rumahnya yang dulu. Yang mengontrak sedikit sekali," terang Tajuddin.

Untuk pengurusan surat-surat, seperti kartu tanda penduduk (KTP) maupun surat lainnya sudah tidak ada diskriminasi lagi antara warga Sampit yang bersuku Madura maupun warga yang bukan bersuku Madura. Menurut Desmiyanto, pegawai di Kelurahan Sawahan, sejak ada perda penanganan etnis Madura tahun 2006 lalu, orang-orang Madura sudah bisa bikin KTP sama seperti warga lainnya.

"Sebelum ada perda itu, orang Madura hanya bisa membuat KTP sementara yang berlaku hanya tiga bulan. KTP itu harus diperpanjang bila berniat untuk tinggal," kata pria yang sejak 1998 sudah menjadi ketua RT 14 RW X Sawahan ini.

Begitu juga pembedaan atau pemisahan antara suku Madura dengan suku lain tidak ada lagi. Menurut Desmiyanto, sejak 2006 ada program pembauran antarakar rumput yang difasilitasi oleh pemerintah daerah setempat. "Itu terus menerus dilakukan sampai sekarang," tegasnya.

Dia cerita, orang Madura yang baru kembali ke Sampit, biasanya, mengontrak atau menginap di musala. Mereka sambil lalu memerbaiki rumah mereka yang rusak.

Untuk proses diterima ataupun ditolaknya orang Madura bergantung masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. "Orang Madura yang kembali itu bisa diterima, asalkan dulu tidak bermasalah sebelum konflik. Yang menyaring mereka kembali adalah lingkungan sekitar. Kalau dulu tidak ada masalah, biasanya mereka akan diterima secara baik" terangnya.

Beraneka ragam pekerjaan yang digeluti orang Madura di Sampit. Mulai jadi pedagang di pasar, tukang bangunan, sampai petani. Bahkan, ada yang sudah diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS), baik sebagai guru ataupun staf di kantor-kantor pemerintahan.

Menurut orang Madura yang sudah kembali ke Sampit, kini warga sudah tidak mudah terpancing emosi. Itu terbukti ketika ada pembunuhan yang terjadi di Sampit pada pertengahan Desember 2007 lalu. Isu yang dihembuskan, ada orang Madura membunuh orang Dayak karena ingin membalas dendam. Suasana saat itu agak tegang, tapi tidak sampai menimbulkan konflik.

Aparat keamanan cepat bertindak untuk mengusut kasus tersebut. Petugas kemudian menjelaskan bahwa motif pembunuhan itu murni tindakan kriminal. Pemicunya, pelaku jengkel upahnya yang enam bulan belum dibayar oleh majikannya.

Berita ini juga dimuat di harian Kalteng Pos yang beredar di Kalimantan Tengah. Sehingga masyarakat dengan segera mengetahui persoalan yang sebenarnya.

Dirikan TPA, Sarana untuk Mengakrabkan Diri

Orang asal Madura di Sampit kini sudah bisa berbaur lagi. Mereka tak hanya bisa mencari nafkah, juga aktif dalam kegiatan pendidikan dan sosial.

Mengajar anak-anak. Itu salah satu yang dilakukan orang Madura yang kini hidup di Sampit. Seperti yang dilakukan Endang Zaitun dan Siti Rahmatun.

Ibu Endang-begitu biasanya Endang Zaitun dipanggil-bersama dengan suaminya mengelola sebuah taman pendidikan Alquran (TPA) di Desa Ketapang. Kegiatan TPA dimulai setelah salat magrib sampai setelah isa (17.30-20.00 WIB). Muridnya 80 anak lebih, yang berasal dari berbagai suku atau etnis yang ada di Sampit. Selain mengelola TPA, pasutri ini membuka les untuk anak-anak SD di sana.

Guru yang mengajar TPA maupun les sebanyak tujuh orang. Mereka juga berasal dari suku yang berbeda. "Walaupun para guru di sini berbeda suku, tapi akrab. Kami juga mendiskusikan masalah- masalah yang ada di TPA secara bersama-sama," ujar Endang yang ditemui di sela-sela mengajar.

Selain mengajar mengaji dan les, Endang juga melatih rebana dan hadrah, kesenian khas benuansa Islam yang sangat terkenal di Kalimantan, kepada para murid-muridnya. Juga ada pelajaran pidato dan azan.

Hasil dari latihan itu cukup memuaskan. Murid-murid Ibu Endang pernah menang dalam beberapa lomba yang diadakan di Kabupaten Kota Waringin Timur. Prestasi ini semakin memacu dia dan guru-guru lainnya untuk mengajar murid-muridnya lebih baik.

Pada awalnya Endang dan suaminya hanya berniat mengajar mengaji pada anak-anak di sekitar rumahnya. Itu karena di sekitar rumahnya belum ada guru ngaji. Tapi dalam perkembangannya, ada beberapa anak yang gemar hadrah dan rebana. Kemudan muncul ide mengagar hadrah dan rabana itu.

Selain itu, sebagian muridnya pandai pidato dan azan. Latihan pidato dan azan pun dialukan rutin tiap hari Jumat.

Semakin lama, ternyata semakin banyak anak yang mengaji di rumahnya. Endang pun cukup kewalahan mengajar, meski telah dibantu suami dan anaknya. Karena itu, kemudian dia mencari orang yang bersedia membantunya mengajar mengaji di rumahnya. "Sekarang sudah ada tujuh orang," ujar Endang.

Ide mendirikan TPA ini, selain memang di kampungnya tidak ada TPA, untuk wahana mengakrabkan diri dengan warga sekitar setelah konflik terjadi. Sebab, kata Endang, saat dia kembali warga Sampit belum seramah sekarang. Masih ada kecurigaan-kecurigaan kepada orang Madura yang baru kembali. "Saya kembali ke Sampit pada Agustus 2004. Saat itu semuanya masih cuek. Mungkin mereka masih takut dengan orang Madura," katanya.

Dia yakin, anak-anak tidak memiliki rasa benci dan curiga kepada orang Madura. Sehingga, ide untuk mendirikan TPA itu muncul. Meski pada awalnya murid yang mengaji di TPA-nya hanya 10 anak, Endang dan suaminya tetap bersemangat mengajar. "Kami senang anak-anak bisa tertawa bersama, bercanda bersama tanpa ada rasa curiga sama sekali," ungkap Endang.

Dari ide pendirian TPA itu, kini Endang dipercaya sebagai ketua kelompok pengajian di daerahnya. Dia pun akrab dengan tetangganya.

Endang sekarang sudah menjadi PNS. Dia mengajar di SDN IV Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru.

Tidak berbeda jauh dengan Endang, Siti Rahmatun juga jadi PNS guru di SDN II Sumber Makmur, Mentaya Hilir Utara. Dia kembali ke Sampit pada 2005. Saat itu dia masih merasa waswas dan takut. Apalagi, dia tidak langsung kembali ke tempat tinggalnya yang dulu, karena rumahnya sudah hancur.

"Tetangga saya yang dulu (ketika Siti Rahmatun baru kembali) tidak ramah dan cuek. Mungkin karena saya orang baru di lingkungan Sawahan," kata Atun- panggilan akrab Siti Rahmatun .

Tapi, kini dia sudah menjadi bagian dari warga Sawahan. Dia aktif ikut pengajian dan arisan PKK. Kegiatan tersebut bikin Atun lebih akrab tetangganya. Bahkan, dia menikah dengan warga Sampit. (*/mat)

Sumber: Jawa Pos, 16/04/08 dan 17/04/08

Label: , , ,

2 Komentar:

Pada 6 Maret 2009 15:13 , Blogger Ismail Tompo mengatakan...

ass. wr.wb
salam super
saya ingin menwarkan kerjasama untuk menjadi distributor buku mengaji kilat saya yang sangat spektakuler dan dapat membuat kita bisa mengaji dalam waktu 30 hari sj.
harga awal 30 ribu saudara dapat diskon 40%, bisa akses ke http://www.foslamic.blogspot.com
kalau saudara berminat hub. saya di 085242795822 atas nm ismail
sistem bukan konsinyasi, tapi pembelian langsung. Buku kami adalah buku laris dimks, sudah terjual 20 ribu ex dalam setahun
makasih

 
Pada 29 Mei 2010 12:58 , Anonymous Intan mengatakan...

alhamdulillah...ternyata sudah kembali ke sediakala... :)

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda