KH Abuya Busyro Karim

Berjuang Nyaris Tanpa Dukungan Kolega

Menjelang peringatan HUT RI ke-63, masyarakat Sumenep disuguhkan beredarnya buku biografi dua putra terbaiknya. Yakni, Ketua DPRD KH Abuya Busro Karim dan Bupati KH Ramdlan Siraj. Dua buku ini layak dijadikan referensi pembanding bagi mereka yang gandrung politik.

Glosarium kehidupan tokoh politik yang diabadikan dalam sebentuk buku, bukan hanya gairah orang-orang pusat. Sosok dan perjalanan perjalanan tokoh politik Sumenep kini mulai dimintai para penulis muda. Hal ini dibuktikan dengan beredarnya dua biografi politik, Kiai Busyro dan Kiai Ramdlan.

KH Abuya Busyro Karim selaku ketua DPRD Sumenep (1999-2004 dan 2004-2009) ditulis secara utuh sebagai pribadi dan pemimpin dalam dinamika politik. Penulisnya, Hambali Rasyidi, menggambarkan Busyro sebagai politisi yang sulit dicari padanannya di gedung parlemen Sumenep. Alasannya, sosok Busyro memancarkan karisma dan kecerdasan.

Para koleganya di parlemen, seakan manut dan merasa nyaman bila bersamanya. Termasuk "macan parlemen" seperti Malik Effendi dan Raud Faiq Jakfar, di hadapan Busyro seolah-olah tidak menjadi "macan". Sosok Busyro menjadi ikon politisi di gedung parlemen Sumenep.

Dalam banyak kesempatan, Busyro sering dinobatkan sebagai figur utama dalam setiap sidang parlemen. Tanpa Busyro, sidang ibarat kehilangan mahkota. Pada saat tertentu, rapat berjalan gaduh karena masing-masing anngota sama-sama ngotot dan nyaris debat kusir. Busyro mampu membuat peserta sidang terhenyak diam, berbalik mendengarkan apa yang disampaikan kata demi katanya.

Busyro tidak hanya bisa duduk di kursi pimpinan, tetapi juga menguasai materi dalam setiap sidang. Saat berpidato, Busyro seakan menjadi magnet dan menyedot perhatian publik.

Dia selalu menghadirkan solusi setiap wacana yang berkembang di antara anggota dewan. Kemampuan memahami emosi setiap gagasan peserta sidang, argumen dan keluhan anggota, Busyro mampu menyelesaikannya dengan arif. Buku betjudul Jejak Perjalanan KH A Busyro Karim; Berjuang Seorang Diri ini menggambarkan Busyro sebagai politisi yang disegani, kendati berjuang sendiri dan nyaris tanpa kolega. Sebagai manusia, Buysro pun berkeluh.

Sebelum menjadi politisi yang disegani, dia bersama orang bawah berdakwah dari desa ke desa, hingga namanya kesohor lewat radio se antero Madura. Di era reformasi, dia diamanati kiai sepuh NU Sumenep untuk menahkodai PKB. Posisinya di pucuk PKB dua periode sempat jadi rasan-rasan koleganya lantaran dia bukan dari kalangan trah yang dominan di PKB.

Penulisan buku ini tergolong unik karena mencoba menghidupkan sejarah yang hilang menjadi ada. Seperti keluarga besar Kiai Kariman yang 'dihadirkan' dalam bentuk kisah hidupnya. Kakek buyut Kiai Busyro ini menjadi mantu cicit Kiai Ali Brambang, seorang ulama besar yang tercatat cucu Pangeran Katandur. Sehingga, Busyro masih keturunan ke-10 dari Pangeran Katandur, sebagai cucu Sunan Kudus, salah satu Wali Songo.

Sebelum buku ini ditulis, tidak banyak orang tahu tentang sosoknya. Wajar bila Kiai Kariman tidak sepopuler nama Kiai Syarqawi, pendiri Ponpes An-Nuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Kiai Kariman tidak menjadi salah satu ikon ulama Madura yang disegani di zamannya. Sebab, di eranya, Kiai Kariman hanya menjadi kiai langgar dan mencetak santri dan putra-putrinya menjadi orang-orang yang hafal Alquran (tahfidz). Diantaranya, Kiai Miftah, kakek mendiang Ny Hj Anisa (tokoh PPP); Kiai Haji Said Pangarangan; Fudholi Zaini (doktor tasawuf); dan Kiai Haji Zaini Miftah, guru ngaji Kiai Taifur Ali Wafa Abilkis, Ambunten Timur.

Sedangkan Kiai Syarqawi semasa hidupnya di Sumenep menjadi penggerak pedagang muslim yang berpusat di Prenduan untuk melawan penjajah. Sehingga, namanya menjadi salah satu ikon ulama Madura. Para keturunannya kini menunduki jabatan elite di Sumenep.

Penulis buku ini pernah menjadi saksi sejarah kehidupan Kiai Busyro di parlemen Sumenep. Selama hampir dua tahun Hambali Rasyidi menempati pos gedung DPRD sebagai sosok yang berkeringat dalam jurnalistik. Ghairah jurnalistiknya dia tampakkan dalam penulisan riwayat buku ini.

Kondisi masa lalu seorang Kiai Busyro menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Setiap langkahnya mampu memberikan "warna" kepada lingkungan sekitarnya. Sosoknya menjadi besar bukan lahir dan menjadi seperti saat ini. Dia lahir dan besar penuh perjuangan, keringat, bahkan berdarah-darah. (abe/mat)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 15 Agustus 2008

Label: , ,

2 Komentar:

Pada 12 September 2008 01.13 , Blogger AH mengatakan...

Ah, ini kan hanya kerjaan orang fanatik...tanpa menghilangkan penghormatan saya terhadap KH.Busyro Karim, saya melihat buku ini terlalu berlebihan...!

 
Pada 25 Desember 2009 06.32 , Blogger Junaidi mengatakan...

ya aku setuju atas apa yang telah di tulis di buku tersebut, sebab aku juga merupakan saksi hidup yang sedikit banyak tahu atas kharismatik beliau. oleh karena itu aku sangat mendukung akan terbitnya buku tersebut agar se-antero dunia tahu bagaimana sebenarnya sosok seorang KH Abuya Busyro Kariem yang sebenarnya.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda