Bu Poeng Lestarikan Budaya lewat Riasan


Menekuni dunia kecantikan sampai tiga dekade seperti sekarang tak pernah terbayangkan dalam benak Nur Purnamawati, spesialis perias pengantin adat Madura. Maklum saja, ketika muda, sosok yang lebih dikenal oleh warga metropolis sebagai Bu Poeng itu sedikit pun tidak tertarik dengan urusan berbau kecantikan.

Lahir di Sumenep, 24 Februari 1948, Poeng meninggalkan kota kelahirannya itu karena mengikuti ayah yang ditugaskan di Surabaya. Sang bunda meninggal sejak dia masih kecil. Hidup bersama ayah yang berprofesi sebagai polisi, pertumbuhan Poeng banyak terpengaruh.

Poeng muda lebih sering menghabiskan waktu dengan ikut pergerakan menegakkan keadilan ketimbang berada di rumah dan merias diri layaknya remaja cewek seusia. Dulu dia lebih pas dijuluki perkasa daripada anggun. "Hampir tiap hari saya ikut demo di jalan. Pokoknya ada ketidakadilan di rakyat, saya sama teman-teman langsung turun ke jalan. Sampai, saya pernah tertangkap Brimob," tuturnya.

Alih-alih akrab dengan lipstik dan bedak, Poeng saat itu justru bersahabat dekat dengan megafon yang berguna melantangkan suaranya ketika demo. "Tomboi sekali saya dulu. Nggak sempat dandan. Kalau sibuk dandan, malah ditinggal teman-teman," cetus anak pertama di antara dua bersaudara itu.

Semua berubah ketika Poeng bertemu dan menikah dengan Abdul Rachman Wirya pada 1971. Pria yang berprofesi sebagai karyawan swasta itu secara pelan tapi pasti mendorong Poeng untuk mulai memperhatikan kecantikan. Alat make-up yang sengaja dibelikan oleh suami lambat laun menggeser kedudukan perlengkapan demo Poeng. "Suamilah yang mengubah kepribadian saya. Saya disuruh ikut kursus-kursus kecantikan biar bisa dandan," ungkapnya.

Berkat pelatihan tersebut, Poeng tak hanya bisa dandan untuk diri sendiri. Tapi, dia juga mulai mendandani orang lain. Menemukan keasyikan merias orang, pada 1978 Poeng memilih belajar tata rias kepada Nani Saryoto, penata rias dari Solo. "Kalau rias orang, enaknya rias pengantin. Makanya, saya fokus belajar rias pengantin," jelas ibu empat anak tersebut.

Sukses belajar tata rias Solo, Poeng lantas berturut-turut belajar tata rias pengantin daerah lain. Nenek tujuh cucu itu melengkapi keahliannya dengan belajar riasan pengantin kampung halamannya, Madura. "Sebagai jebing (gadis Madura, Red), saya terpanggil untuk melestarikan budaya tanah kelahiran," ujarnya.

Lama-lama, Poeng lebih dikenal sebagai perias pengantin spesialis Madura. Menurut dia, tata rias pengantin Pulau Garam itu bisa dibedakan menjadi tiga. Yakni, pengantin kebesaran (legeh), keputren, dan lilin.

Perbedaan ketiganya terletak pada hiasan bunga yang dikenakan pengantin putri. Pengantin legeh menggunakan ganggung (bunga hiasan panjang). Untuk keputren, hiasan bunganya lebih simpel, sedangkan pengantin lilin memakai bunga melati yang dirangkai seperti lilin. Biasanya, dandanan pengantin lilin digunakan oleh orang Madura dalam tradisi ngunduh mantu. Sementara itu, legeh atau keputren dipakai untuk resepsi pernikahan.

Pemahaman menata rias tersebut, papar Poeng, berhasil menjadikannya sebagai wanita yang begitu memperhatikan penampilan. Hingga di usia kini yang memasuki 60 tahun, dia tetap mempertahankan keanggunan. Make-up wajah selalu dipadankan dengan baju yang dikenakan. Melihat keanggunan itu, orang tak akan menyangka bahwa dulu Poeng gadis tomboi. "Yo piye rek, masak mendandani orang, tapi saya sendiri gak dandan. Yang didandani cantik, saya juga harus cantik," ucapnya lantas tertawa. (dha/ayi)

Tip Cantik Bu Poeng
  • Bersihkan wajah sebelum dan sesudah dirias.
  • Jangan terlalu tebal memakai foundation dan bedak.
  • Gunakan make-up yang soft.
  • Pilih baju dengan warna mencolok agar terlihat segar.
  • Lulur badan minimal dua kali sebulan.
  • Memudahkan penataan, sebaiknya, rambut dipotong pendek.
Sumber: Jawa Pos, Senin, 03 November 2008

Baca juga:
Wajah Segar Dengan Riasan Terang
Kulit Bersih Nilai Tambah Kecantikan

Label: , ,

Wajah Segar dengan Riasan Terang

Kemahiran Poeng dalam memberikan riasan tidak hanya terlihat pada make-up pengantin yang didandani, tapi juga tecermin di wajahnya sendiri. Usia kepala enam, menurut Poeng, bukan hal tabu baginya untuk menyapukan make-up. Tapi, agar tak terlihat norak, dia memilih warna-warna soft (lembut).

"Orang yang sudah tua sebaiknya menggunakan make-up yang transparan. Karena jika menggunakan warna yang gelap, akan semakin memberikan kesan tua," kata Poeng memberikan tip.

Warna-warna soft, misalnya pink atau merah, menurut Poeng, bagus dipakai untuk kaum evergreen seperti dirinya. Alasannya, warna-warna cerah tersebut jatuh lebih segar di kulit orang tua sehingga memberikan efek lebih muda.

Sebaliknya, pemilihan warna gelap, seperti biru dongker atau hijau, akan menghasilkan kesan berat bagi pemakainya. Dilanjutkan Poeng, warna seperti itu lebih cocok digunakan anak-anak muda.

Warna kulit juga menjadi perhatian Poeng. Untuk kulitnya yang terbilang tidak putih, dia memilih warna oranye yang lembut. Poeng menjelaskan, orang yang berkulit hitam sebaiknya juga tidak memakai warna-warna gelap karena rona muka menjadi tidak terpancar. "Wis ireng, dandane peteng, ya nggak kelihatan nanti," ucapnya.

Poeng mengakui, kesukaannya pada warna terang berpengaruh pada tampilan baju. Dalam setiap kesempatan, Poeng rajin sekali memakai baju berwarna menyala dengan tujuan supaya orang melihat ke arahnya.

"Kalaupun tidak melihat wajah saya, ya segak-gaknya melihat baju saya. Makanya, pakai yang ngejreng biar dilihat orang," tutur wakil sekretaris Yayasan Asma Indonesia Wilayah Jatim itu. "Juga untuk menghindari kelesuan. Kalau pakai baju terang, jadi seger, semangat," imbuhnya.

Pemilihan warna juga berlaku pada penggunaan pensil alis. Poeng tidak memilih pensil warna hitam. Menurut dia, jika dipakai orang seusianya, warna hitam akan memberikan kesan galak. Dia lebih memilih cokelat. "Orangnya biasa, tapi kalau pintar memadupadankan warna, pasti terlihat menawan," tutupnya. (dha/ayi)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 03 November 2008

Label: ,

Kulit Bersih Nilai Tambah Kecantikan

Wajah cantik akan berkurang nilainya jika tidak ditunjang dengan kulit yang bersih. Untuk itu, luluran, kata Poeng, sebaiknya tidak hanya dilakukan sebagai tradisi menjelang pernikahan. Tapi, sebaiknya, luluran menjadi rutinitas bagi semua perempuan yang ingin tampil cantik.

Meski tidak ke salon, Poeng selalu merawat kebersihan kulitnya dengan menggosokkan lulur ke seluruh badan seminggu sekali. "Tapi, jika tidak ada waktu, sebulan dua kali sudah cukup," kata pemilik rias pengantin Tri Purnama itu.

Urusan lulur, Poeng mengaku lebih suka melakukan sendiri di rumah. Lulur dengan bahan alami kunyit, bengkuang, dan temu giring merupakan andalan Poeng. Saat luluran, yang wajib diperhatikan adalah cara mengoleskan adonan lulur ke kulit. Poeng terbiasa menekan-nekan lulur agar daki yang menempel di kulitnya rontok.

Untuk perawatan wajah, Poeng mewajibkan diri membersihkan muka sebelum dan sesudah make-up. "Kalau sebelum, biar make-up-nya bisa menempel dengan bagus. Kalau sesudah, ya biar wajah nggak kena masalah. Jerawat misalnya," ujarnya.

Tidak menggunakan foundation dan bedak secara tebal diungkapkan Poeng merupakan cara praktis menjaga wajah dari jerawat. "Pipi saya alhamdulillah nggak pernah ada masalah," tuturnya.

Untuk mendukung kebersihan penampilan, Poeng juga sangat memperhatikan kondisi rambut. Perempuan, lanjut dia, akan terlihat cantik jika rambutnya ditata dengan rapi. Poeng tidak suka melihat orang tua yang rambutnya panjang dan dibiarkan terurai. Kesannya kusut. "Karena itu, saya potong pendek. Gampang ngatur-nya. Apalagi, saya pakai kerudung. Kalau panjang, jadi lembap dan bikin cepat apek," kata pemilik hobi jalan-jalan itu. (dha/ayi)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 03 November 2008

Label: , ,