Jembatan Suramadu Dorong Investasi

Kehadiran Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) memberi harapan, termasuk bagi pelaku industri baik dari dalam negeri maupun internasional. Beberapa di antaranya bahkan telah memulai realisasi investasi sejak beberapa tahun lalu. “Untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mulai beroperasi sejak 2008. Untuk Penanaman Modal Asing (PMA) sejak 1997,” ujar Hari Soegiri, Kepala Badan Penanaman Modal (BPM) Jawa Timur, Rabu (3/6).

Sejauh ini, menurut Hari, sudah ada lima investor yang telah sepakat untuk melakukan investasi di daerah Madura dan kawasan di sekitar kaki jembatan Suramadu. Kelima investor tersebut dua di antaranya adalah PT Dwi Bina Utama dan Aneka Boga Nusantara yang merupakan PMA. “PT Dwi Bina Utama pemodalannya dari Jepang sedang PT Aneka Boga Nusantara merupakan hasil kerjasama antara Jepang dan Korea Selatan,” jelasnya.

Hari mengungkapkan bahwa sektor industri yang digeluti oleh PT Dwi Bina Utama adalah pengolahan ikan dan teri nasi di Sumenep. “Sedang PT Aneka Boga Nusantara berinvestasi di bidang pengolahan dan pengawetan ikan. Industri mereka juga berada di Sumenep,” tambahnya.

Hari menjelaskan, proses industri yang dilakukan oleh dua perusahaan tersebut telah menyerap investasi sebesar 1,85 juta dollar Amerika. “Paling besar dilakukan oleh PT Aneka Boga Nusantara yaitu sebesar 1,7 juta dollar Amerika,” papar Hari. Sedang PMDN, Hari mengungkapkan bahwa telah ada tiga pemain yang merealisasikan investasinya. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Karya Dibya Mahardika, PT Adi Luhung Karya Segara dan PT Maxima Nusantara Indonesia. “Keseluruhan investasi dari ketiga perusahaan ini adalah sebesar Rp 27 miliar,” tukasnya.

PT Karya Dibya Mahardika, sebagai investor terbesar dalam PMDN, menurut Hari melakukan investasi sekitar Rp 17 miliar. Perusahaan yang membuka lokasi industrinya di Sumenep ini bergerak di sektor tembakau. Sedang, PT Adi Luhung Karya Segara, lanjutnya, bergerak di bidang perbaikan dan perawatan kapal.

“Dia beroperasi di Bangkalan. Sedang PT Maxima Nusantara Indonesia bergerak di bidang budidaya mutiara dan memilih tempatnya di Sumenep,” papar mantan Kepala Dinas Perhubungan dan Direktur Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) ini.

Selain industri yang telah berjalan, BPM mengaku tengah mempersiapkan sektor lain untuk terus mengundang investor untuk menanmkan modalnya di Jatim, khususnya di Madura. “Beberapa yang kami persiapkan untuk jadi andalan Madura dalam mendatangkan investasi adalah budidaya tanaman melati jenis ratoh ebuh,” ujar A.S. Hamzah, Kepala Bidang Pengembangan dan Kerjasama Investasi BPM Jatim.

Salah satu yang menyedot perhatian adalah pembangunan PT Madura Industrial Estate Sea Port City (MIECi). Proyek ini adalah proyek pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang meliputi industri, perdagangan, perumahan, pelabuhan petikemas dan lain-lain yang dibangun di atas lahan di sekitar kaki-kaki jembatan Suramadu yang masing-masing seluas 600 hektare. (a5)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 4 Juni 2009

Label: , ,