Budaya Madura pasca Jembatan Suramadu

Orang yang tidak pernah ke Madura, memiliki gambaran yang kelam tentang Orang Madura. Rata-rata pejabat yang dipindah tugas ke Madura, berangkat dengan diliputi penuh rasa was-was, karena benak mereka dihantui citra Orang Madura yang serba tidak bersahabat. Akan tetapi kemudian setelah berada di Madura, ternyata hampir semuanya berubah 180 derajat pandangannya tentang Orang Madura. Mereka dengan penuh ketulusan mengatakan bahwa Orang Madura ternyata santun, ramah, akrab dan hangat menerima tamu.

Citra negatif ini pula yang kemudian melahirkan sikap pada sebagian Orang Madura, utamanya kaum terpelajar, merasa malu menunjukkan diri sebagai Orang Madura, karena Madura identik dengan keterbelakangan atau kekasaran Keadaan ini harus diakhiri. Perlu dilakukan upaya untuk menunjukkan bahwa Orang Madura dan budayanya tidak sejelek yang diduga orang lain.

Membangun citra positip, memang tidak bisa serta merta, perlu proses, akan tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Itupun harus dimulai sekarang juga, agar keadaan tidak semakin parah. Hal yang sangat penting adalah adanya kesadaran bahwa membangun citra positip harus dilakukan sendiri oleh Orang Madura, sebagaimana semboyan kelompok Pakem Maddhu, Pamekasan yang berbunyi: “Coma reng Madhura se bisa merte bhasa Madhura”.

Jembatan Suramadu tidak hanya sekadar jembatan secara fisik. Ia telah menjelma jembatan yang menghubungkan berbagai dimensi masyarakat Madura dengan dunia luar. Dengan terbentangnya Jembatan Suramadu, masyarakat Madura tidak lagi inferior, menyitir kata-kata D. Zawawi imron. Istilah toron (:turun) yang digunakan orang-orang yang akan kembali ke Madura dan onggah (:naik) yang disematkan pada orang-orang yang akan bepergian ke Surabaya, kini telah terjembatani kesenjangannya. Tidak ada lagi naik-turun antara Surabaya-Madura. Yang ada hanya kesetaraan, yang dihubungkan Jembatan Suramadu.

Selain itu, Jembatan Suramadu ini, dalam pengamatan beberapa pakar, diproyeksikan akan menjadi penghubung antara masyarakat Madura dan non-Madura dalam berbagai dimensi. Jembatan Suramadu akan menjelma jembatan industri, jembatan akulturasi budaya, jembatan percepatan ekonomi, jembatan modernisasi.

Lalu bagaimanakah wajah Madura pasca-Suramadu ini? Bagimanakah potret budaya Madura, sebagai jati diri masyarakat Madura pasca dioperasikannya jembatan ekspansi multi-dimensi ini?

Ada enam persoalan paradoks yang dihadapi bangsa ini dalam percaturan peradaban digital ini. Pertama, paradoks pengetahuan, yaitu paradoks antara pengetahuan/sampah pengetahuan. Kedua, ketelanjangan budaya (cultural transparency). Ketiga, budaya ekses (culture of excess). Keempat, ketakpastian etis (ethical indelerminacy). Kelima, kesenjangan digital (digital discrepancy). Keenam, kegamangan seni (dizziness of arts). Dari berbagai tantangan yang mendasar tersebut, bahwa pembentukan karakter jatidiri lebih menentukan sebuah masyarakat bisa bertahan dalam percaturan global ini.

Dengan kata lain, di samping kemampuan skill individu yang mesti dikuasai oleh setiap individu masyarakat Madura, terutama generasi mudanya, apresiasi nilai-nilai budaya harus ditekankan sebagai transformasi jari diri. Dengan kata lain, kegamangan dan kehampaan serta kebrutalan masyarakat modern tidak dapat dipungkiri sebagai akibat hilangnya nilai-nilai budaya jati dirinya.

Tak bisa dipungkiri keterpurukan suatu bangsa mula-mula disebabkan karena hilangnya jati diri mereka. Turki pascamodernisasi Kemal Attarturk hanya menyisakan kegelisahan, kegalauan seperti kita lihat dalam karya-karya Orhan Pamuk. Sebaliknya, Jepang mampu bangkit dan maju pesat pascaperang dunia II hanya berbekal dengan spirit samurainya.

Indonesia pun terkatung dalam dilema modernisasi. Banyak yang terkuras dan tercerabut demi dengung kemajuan, tapi tingkat kesejahteraan masih dalam konsep ‘berusaha’. Kesenjangan sosial semakin menjurang saja. Yang paling akut krisis dan chaos sosial akibat modernisasi semakin menjadi-jadi.

Mengingat hal paradoks modernisasi tersebut, perlu kiranya disodorkan sebuah konsep pembangunan Madura ke depan. Sebuah arah gerak maju modernisasi demi kesejahteraan masyarakat. Bukan ‘penghancuran’ dan penghisapan sari madu Madura demi modernisasi. Modernisasi dengan birahi pembangunannya, dengan retorika elektroniknya memang tidak dapat ditolak. Tapi demi keberlangsungan masyarakat Madura untuk sekian waktu yang tidak ditentukan, perlu kiranya menata ‘birahi’ kemajuan yang paradoks ini.

Dengan kata lain, pemodernisasian Madura seyogyanya memiliki orientasi yang jelas dan terarah. Jelas untuk mengembangkan dan memajukan Madura. Terarah untuk memerhatikan kemajuan pada dua sisi. Pertama sisi fisik. Sisi ini lebih menekankan pada pembangunan struktur dan infrastruktur sosial-budaya-ekonomi-politik. Kedua, sisi psikis. Pembangunan Sisi ini mengupayakan terciptanya mental dan jati diri masyarakat Madura

Lebih jauh, pembanguan psikis ini, tentunya terletak sejauh mana transformasi kultur budaya msyarakat dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan kata lain, dalam mempersiapkan masyarakat Madura untuk berlaga di arena modernisasi, maka pelestarian dan pengapresiasian budaya lokal merupakan modal utama.

Agenda apresiasi budaya lokal Madura ini selain membekali setiap individu dengan kesadaran realitas sejarahnya, juga bertujuan untuk menyelamatkan khazanah kebudayaan bangsa.

1 Komentar:

Pada 2 Juli 2010 07.45 , Blogger AK Tontowi mengatakan...

artikelnya bagus2 Pak. Semoga bisa ikut bersumbangsih sekecil apa pun terhadap perkembangan Madura pasca Suramadu. Engghi senika ?

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda