Sumenep dan Elitisme Sejarah

Pada bulan Oktober ini Kabupaten Sumenep akan merayakan hari jadinya yang ke-741. Dalam penelusuran sejarah, hitungan 741 tersebut dimulai dari didelegasikannya Raden Aria Banyak Wedi atau disebut pula sebagai Raden Aria Wiraraja, punggawa kenamaan keraton Singasari menjadi bupati Sumenep pada tahun 1269. Arya Wiraraja dikenal sebagai aktor dibelakang layar berdirinya kerajaan Majapahit karena dukungan strategisnya pada Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit.

Oleh Syarif Hidayat Santoso

Historis merupakan alur dimana konstruksi ruang sebuah entitas diekstensifkan. Namun, bukan saja sejarah dapat ditawar, bahkan sejarah sendiri sebenarnya merupakan pertautan kompetitif antar kekuasaan dalam pentas sejarah sendiri. Arya Wiraraja misalnya, sudah dianggap cukup representatif mewakili panggung sejarah Sumenep. Sinergitas ini juga diajarkan formal sebagai materi pengiring muatan lokal pelajaran bahasa Madura di sekolah-sekolah.

Ironisnya, studi sejarah lokal Sumenep hanya finis pada insiden politik di sekitar para raja. Riwayat hanya berputar secara elitis disekitar Arya Wiraraja, Joko Tole, Panembahan Sumolo, Notokusumo, Cakraningrat ataupun Sultan Abdurrahman. Parahnya lagi, pembelajaran sejarah malah bercampur baur dengan legenda dan mitos yang termuat pada buku Babad Sumenep karya Raden Werdisastro. Tidak dapat dibedakan lagi antara sejarah dan cerita rakyat. Karenanya, Sejarah yang demikian menurut C.C Berg tak lebih dari self image (kesaksian kultural diri sendiri), bukan local knowledge (keilmuan local) informatif-empiris.

Sejarah Sumenep yang sebenarnya kaya dengan muatan fakta diluar istana jarang digali dan direkontruksi bagi pembelajaran sejarah lokal. Apalagi, sejarah Sumenep melupakan peran kaum minoritas Arab dan Cina. Padahal, Kampong Arab dan Pecinan hadir lebih tua dari Babad Sumenep sendiri. Rantai geneologis para keturunan Arab Hadramaut di Sumenep misalnya telah mencatat silsilah generasi kelima sampai kesepuluh yang menunjukkan kehadiran mereka telah mencapai angka ratusan tahun. Orang Cina dalam catatan Hindia Belanda tercatat sejak abad 18 lalu, sementara dalam legenda rakyat, komunitas Singkek (Cina dalam dialek Sumenep) digambarkan setua usia Masjid Jamik Sumenep yang terpengaruh arsitektur Tiongkok.

Bahan-bahan tentang orang Sumenep di luar area istana jarang digali. Padahal sumber-sumber itu tersebar di mana-mana. Data-data VOC dan pemerintah Hindia Belanda banyak menyebut heroisme orang Sumenep seperti pangeran Kaap yang diasingkan ke Cape Town, Afrika Selatan. Sumber lokal nusantara seperti hikayat prang Sabil Aceh juga bercerita tentang kebengisan Marsose Sumenep dalam setiap operasi penumpasan pemberontakan. Tak ketinggalan, Sumber-sumber Arabpun menyindir tentang komunitas bermarga Al Manduri dalam perjalanan menuntut ilmu maupun hajinya ke Mekah.

Sumber pesantren yang berporos pada figur tertentu dan biasanya dibaca dalam perayaan Haul juga jarang dipertimbangkan sebagai navigator pelacak jejak orang Sumenep masa lampau. Menelusuri sejarah Sumenep dari sumber tertulis pesantren-pesantren kuno merupakan afirmasi menggairahkan karena komunitas Madura masa lalu merupakan sebuah network pencari ilmu yang tersebar sejak di Jawa Timur sampai pesantren tradisional di Mekkah, Madinah dan Yaman. Jaringan Al Manduri diyakini telah menghuni ruang publik internasional sejak ratusan tahun lalu.

Karenanya diperlukan otentisitas sejarah yang berpihak kepada kalangan periferal diluar istana. Untuk itu diperlukan kombinasi antara filologi, arkeologi dan pendekatan kearsipan guna menemukan jatidiri Sumenep masa lampau. Sudah saatnya kajian sejarah Sumenep tidak berkutat di sekitar para raja, tapi juga menjangkau masyarakat kebanyakan. Sejarah yang hanya mementaskan para raja, hakekatnya telah mengebiri mekanisme historis yang terdapat dalam struktur geografis, ekonomi dan kultural (Bloch:1954). Sejarah harus mampu membuang aspek elitisnya, kemudian mampu menjadi usaha total menggali warisan masa lampau. Redefinisi semacam ini bukan saja akan mampu menguak tabir elitisme para raja sendiri tapi juga akan menciptakan nalar kultur yang sama sekali baru yang tidak berkutat disekitar turbulensi kultural semata. Elitisme dalam penggalian sejarah sedikit banyak hanya menyetor emotional backgroud semata, bukannya persepsi interuptif dalam nalar berkebudayaan. Contohnya terdapat pada prosesi ziarah yang sering dilakukan masyarakat Sumenep terhadap kuburan para raja Sumenep masa lalu. Mereka menziarahi para raja itu tanpa partisipasi kerja nalar kontemplatif. Secara pukul rata, mereka menganggap para raja itu sebagai orang suci, padahal sejarah kritis yang dapat digali dari data-data non mainstream bisa menunjukkan betapa despotis dan otoriternya raja-raja itu di masa lalu.

Kita berharap, penggalian sejarah kaum marjinal dapat dilakukan di masa depan, sehingga publik Sumenep mampu menjelaskan detail sejarah dunia santri, garam Sumenep, mentalitas blater dan lingkungan historisitas periferal lainnya serta tidak terfokus mitos kuda terbang Joko Tole semata.

Syarif Hidayat Santoso: Peneliti Muda NU. Berasal dari Sumenep



.

Label: , ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda