Banyak Anak, Pendidikan Tetap Yang Utama

Didik Anak dengan Cinta

Mas Ayoe Siti Rachma kelahiran Desa Dharma Camplong, Kec Camplong, Sampang, 4 Oktober 1920. Dia mendampingi RP Moh. Noer (Pak Noer) selama 69 tahun. Tak sekadar menjadi pendamping, ibu delapan anak ini berhasil mendidik empat putrinya menjadi Kartini-Kartini baru.

KINI di usia 90 tahun, Ibu Rachma masih lancar berkomunikasi. Bahkan, saat datang ke Sampang dia masih bugar dibandingkan dengan perempuan sebayanya. Senin (20/4) koran ini menghubungi Ibu Rachma yang berada di kediamannya Jalan Anwari 11 Surabaya.

Dia banyak cerita tentang kehidupannya sebagai wanita di belakang tokoh besar almarhum Pak Noer. Menurut dia, tak mudah menjalani hidup sebagai istri seorang pemimpin sekaligus ibu delapan anak. Banyak suka duka yang beliau jalani dalam memerankan tugas sebagai istri sekaligus ibu. Namun, menurut dia, hal itu menjadi mudah ketika cinta dan pengabdian diberikan seutuhnya.

Suka duka yang dialami Ibu Rachma sejak pernikahannya dengan Pak Noer pada 1941. Nenek dari 21 cucu ini mengatakan, masa tuanya lebih banyak diisi dengan suka. Namun, ketika awal-awal menjadi ibu, dia justru banyak mengalami penderitaan. Maklum, saat itu masih masa penjajahan.

"Dulu banyak dukanya. Bahkan, saya harus hidup mengungsi dari satu tempat ke tempat yang lain. Saya juga sempat ditinggal di tempat pengungsian karena Bapak harus menjalankan tugasnya di Tuban, Jawa Timur," kenangnya.

Dia masih ingat pada 1947 harus mengungsi dari Kawedanan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, ke sebuah desa terpencil bernama Karang Duwak di Arosbaya. "Saat itu saya baru memiliki dua anak," katanya.

Pengungsian masih belum selesai. Dari Desa Karang Duwak perempuan yang baru ditinggal Pak Noer ini harus kembali mengungsi. "Berikutnya kami harus mengungsi hingga ke daerah pegunungan yang ada di sana. Di tempat ini saya harus ditinggal karena Bapak harus menjalankan tugasnya dan berangkat ke Tuban naik kapal laut. Sementara saya berbulan-bulan harus menunggu di pengungsian," kenangnya.

Menurut dia, semua itu mampu dilewatinya karena besarnya cinta yang dimiliki kepada sang suami. "Suami kerja, saya mendukung, karena hidup saya untuk berbakti kepada suami. Itu sudah kewajiban seorang istri sesuai dengan ajaran agama," terangnya.

Ibu Rachma mengatakan, yang terpenting dalam perjuangan hidup adalah cinta. "Saya mencintai bapak, begitupun sebaliknya. Almarhum senantiasa mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada saya. Hal itulah yang memberikan kekuatan kepada saya sehingga mampu ikut berjuang dengan bapak selama 69 tahun," paparnya.

Lain dulu lain sekarang. Seperti yang dikatakan Ibu Rachma, di masa tuanya hidup lebih banyak memberikan suka daripada duka. Delapan anaknya sudah mandiri. Mereka adalah Hj Siti Noeroel Hajati BA Prof dr M. Sjaifullah Noer SpA, Prof dr M. Sjaifuddin Noer SpBP, Ir M. Sjaifurrachman Noer, Drg Sri Sjahadatinah Noer, Dra Hj Fenny Herawati Noer, Dra Titiek Rachmawati Noer Ak, dan Ir M. Achiruddin Noer.

Lalu, bagaimana cara mendidik anak sehingga mampu orang sukses? Wanita lulusan MULO Malang (sekolah setingkat SMP pada zaman Jepang) ini mengatakan, apa yang dia lakukan sama seperti ibu pada umumnya. Yakni, memberikan cinta dan perhatian sepenuhnya. "Ketika Bapak bertugas, anak-anak adalah tanggung jawab saya. Waktu zaman saya, belum ada yang namanya baby sitter. Jadi, semua saya lakukan sendiri," paparnya.

"Sekarang suasananya sudah berbeda. Sudah tidak seperti dulu. Cara mendidik anak pun disesuaikan dengan zaman. Namun, dari dulu anak-anak saya berikan kebebasan dalam menentukan pilihan mereka. Kecuali untuk hal pendidikan, saya memang keras. Alhamdulillah mereka tumbuh menjadi anak-anak yang penurut kepada kedua orang tuanya," terangnya.

Anak keenam Pak Noer dan Ibu Rachma, Feni Herawati Noer, mengatakan, ibunya adalah sosok istri yang benar-benar mengabdikan hidupnya demi suami dan anak-anaknya. "Beliau adalah seorang ibu yang sangat telaten, sabar, dan tidak pernah marah saat mengasuh dan mendidik kami hingga kami berhasil menempuh pendidikan tinggi. Selain itu, ibu adalah sosok yg sederhana, sangat tegar, dan tawakal serta penuh pengabdian kepada suami. Jika menggunakan istilah dalam bahasa Jawa, beliau adalah garwa (sigare nyawa) yang berarti belahan jiwa dari Bapak," ungkapnya.

Meski lahir di kalangan keluarga yang kuat dengan adat Timur, putri keenam yang akrab disapa Wati Noer ini mengatakan, ibunya adalah perempuan yang sangat demokratis. "Walaupun beliau sangat menjunjung tinggi adat timur, yangg penuh unggah ungguh, namun pola pikir beliau sangat moderat," katanya. (fei/lah/mat)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 22 April 2010

Label: ,