Jual Nasi, Sekolahkan 12 Anaknya

ZAKIYAH, 54, dan Hasan, 52, harus bekerja keras untuk bisa menyekolahkan selusin putra-putrinya. Sebab, dia tergolong keluarga miskin. Namun, semangat untuk menyekolahkan anak-anaknya tak pernah redup.

Nama Zakiyah tidak asing lagi di telinga warga Desa Batang-Batang Utara, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Apalagi jika sebutan Zakiyah diikuti dengan kalimat embel-embel yang punya selusin anak. Warga sudah paham dan menunjuk arah timur daya dari pertigaan (persimpangan tiga) Batang-Batang menuju rumah Zakiyah.

Sesampainya di rumah Zakiyah, sejumlah bocah dan remaja tampak berkumpul. Sebagian masih mengenakan seragam sekolah dan lainnya mengenakan celana jins pendek dan kaos.

Zakiyah tidak menutup-nutupi jumlah anaknya. Dengan tegas perempuan ini mengatakan memiliki selusin anak. "Anak saya sekarang tinggal sebelas, Satu anak saya sudah meninggal," tuturnya.

Dikatakan, anak adalah titipan Tuhan yang harus mengenyam pendidikan. Selusin anak Zakiyah disekolahkan mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Sebagian sudah tamat SMA.

Sebelas anak pasangan Hasan dan Zakiyah itu secara berurutan mulai dari yang tertua hingga bungsu, adalah Redi Kurniawan, 29, Nengsi Suahmad, Herian Kurnia, dan Moh Fikri. Kelima anak tersebut sudah lulus SMA.

Lalu, Firda dan Dian S. masih SMA. Ikbal K. sekolah SMP. Sedangkan Irwan K., Ulandari, dan Imam Rofiki, 11, yang bungsu sekarang masih duduk di bangku kelas V di SDN Batang-Batang. Sementara anak yang meninggal merupakan anak sulung.

Dari sebelas anak itu, empat yang disebut terakhir lahir dengan jarak waktu sekitar setahun. Jadi, kalau Imam Rofiki sebagai putra bungsu berumur 11, maka secara berurutan Ulandari, Irwan K dan Ikbal ditambah masing-masing setahun.

Sedangkan tujuh putra yang lebih tua berjarak masing-masing sekitar dua tahunan. Kalau Redi Kurniawan sebagai putra sulung berumur 29, maka secara berurutan enam adiknya masing-masing dikurangi dua tahun.

Ditanya soal uang jajan yang diberikan kepada anaknya, Zakiyah mengaku hanya mengandalkan nasi yang dijual setiap sore hari di pinggir jalan. "Yang sekolah sekarang tinggal enam anak. Setiap hari menghabiskan Rp 20 ribu untuk uang jajan mereka," katanya.

Menurut dia, uang jajan bergantung pada jenjang sekolah masing-masing anaknya. Anak yang SMA diberi uang jajan Rp 7.500, SMP Rp 3.000, dan SD Rp 2.000. "Tapi, seringkali tidak diberi uang jajan. Soalnya modal dagangan saya setiap harinya masih ngutang. Jadi, termasuk untung sebelum berangkat diberi makan," katanya.

Hal yang sama disampaikan Hasan. Pria yang setiap harinya bekerja sebagai kuli bangunan itu menuturkan, setiap hari keluarganya selalu kekurangan. "Seperti sekarang, saya sudah lama tidak kerja karena tidak ada garapan," katanya.

Herian Kurnia, anak keempat, menuturkan, dirinya sudah dua tahun lulus SMA. Namun, hingga sekarang belum bekerja. "Saya cari kerja ke Jakarta, tapi masih belum sukses. Kalau untuk kuliah, jelas tidak punya biaya. Seragam sekolah saja kami dikasih orang," katanya. (uji/mat)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 22 April 2010

Label: , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda