How many cows can you pack on an island?

Cultural commodity: Aside from being used for farming, strong Madurese bulls are also raced for money. Madura bulls are not just renowned as racing animals that have become symbols of honor and prestige. They are also the foundation of the nation’s bid to cover its deficit of beef in the country.

The director general for livestock at the Agriculture Ministry, Tjeppy D. Soedjana, says cattle was once abound in Indonesia, but since the 1980s the country had begun importing beef cattle.

“At first we imported 100,000 heads of cattle. This year, the number has increased to 600,000,”
he says.

By Indra Harsaputra and Achmad Faisal

“Although we continue to import, we’re still short of beef cattle, so cows that are still productive are getting slaughtered.”

He adds that the nation current consumes 2.2 million heads of cattle a year. More than a quarter are imported, while 1.6 million are sourced from within the country. The amount of beef consumed annually in Indonesia is expected to continue to rise in line with the growing population.

“This year we’re trying to cut back our beef cattle imports,” Tjeppy says.

“To reduce imports, the government will develop livestock farms in certain areas. One of these is Madura, which has long been famous for its cattle.”

Sofyan Sudrajat, in his 2005 book Care of Livestock—Cattle, notes that in the 1980s, Sapudi Island off Madura was famous for having the highest cattle population density in the world. It was also around that time that Indonesia began importing cattle to meet its domestic demand for beef.

The island had 115 heads of cattle per square kilometer, and the animals were notoriously hardy beasts, able to live off dried-out pastures.

East Java Animal Husbandry Agency secretary Henny Muhardini says the number of cattle in Madura is now in decline. The current population is estimated at 602,000 animals, or almost a fifth of the total cattle population of East Java of 3,456,000 animals.

“The number of cattle in Madura continues to decline because the Madurese people still use the traditional system to breed them,” Henny tells The Jakarta Post.

“Some refuse to adopt artificial insemination because they say it’s forbidden by their religion.”

He adds that a third of the current Madura cattle population, or 200,000 animals, can be used as potential breeders through artificial insemination, but only 30,000 have been inseminated this way.

“We’ve approached the farmers and educated them about artificial insemination, but they find it hard to accept,” he says.

“This has made many inseminators give up. From the 200 inseminators working there, only 85 are still actively conducting social education programs.”

To increase the cattle population of Madura, Henny goes on, the East Java administration will designate the island as the province’s cattle husbandry hub. Part of its plan will be to raise farmers’ business capital by providing funding.

“Each group of cattle farmers in Madura will be eligible for Rp 300 million [US$30,000] in aid,” he says.

“We’re also rolling out low-interest loans for small and medium enterprises, particularly cattle
farmers.”

With this ambitious plan in its sights, the provincial administration is targeting a cattle population of 4,665,000 by 2014, or a 6 percent growth rate each year. This is designed to drastically reduce the number of cattle being imported.

The Diamond Cow program, is also helping boost the cattle population, targeting 5 million calves to be born each year. The program is a continuation of the earlier Artificial Insemination of One Million Cattle (Insan Sejati) program, which was achieved in 2008.

Sumber: The Jakarta Post, Fri, 01/22/2010

Label: , , ,

Memasok Kebutuhan Daging Nasional
Dengan Sapi Madrasin

Di Pamekasan, program IB sudah dilaksanakan sejak tahun 1970. Saat itu IB dilakukan masih antara sapi betina dan sapi jantan Madura. Dalam perkembangannya, program ini berjalan sangat lamban. Sepanjang tahun respon masyarakat rendah. Ini ditandai dengan rendahnya sapi akseptor. Ini terjadi karena hasil IB antar sapi Madura hasilnya sama dengan hasil kawin secara alaim. Tidak ada hasil yang ekstrem.

Oleh MASDAWI DAHLAN

Melihat kondisi itu Pemkab Pamekasan melakukan berbagai terobosan. Pada tahun 2001 diadakan semacam legal opinion. Saat itu masyarakat menyepakati perlunya terobosan teknologi IB dengan menggunakan sapi luar Madura, yakni sapi Limusin. Dipilihnya sapi limusin ini karena dari segi performance. Warna bulu sama dengan sapi Madura, yakni berwarna merah bata. Hanya dari segi fisiknya saja, sapi Limusin lebih besar daripada sapi Madura.

Kawin silang dengan memadukan antara sapi Madura dengan sapi Limusin ini ternyata menghasilkan sebuah kejutan baru bagi upaya peningkatan persediaan sapi potong. Bobot lahir meningkat, bobot sapih meningkat, dan pertumbuhan bobot badan juga meningkat. Dengan upaya ini, status Madura sebagai gudang ternak sapi potong yang berkualitas untuk menuhi kebutuhan regional dan nasional akan tetap bertahan.

Kepala Dinas Peternakan Pamekasan, Ir R Hanafi Hendrayana, mengatakan secara terencana program IB sapi Limusin ini digerakkan mulai tahun 2002. Saat itu mulai diujicobakan di Pamekasan. Ternyata hasilnya sampai sekarang tetap banyak diminati. Ini terlihat dari peningkatan jumlah, baik dari segi jumlah akseptor IB yang terus meningkat maupun jumlah peternak yang berminat untuk mengembangkan kawin silang antara sapi Madura dengan sapi Limusin.

“Hingga saat ini sudah terdapat sekitar 2.000 ekor sapi Madrasin atau sapi hasil IB kawin silang antara sapi Madura dengan sapi Limusin yang ada di seantero Pamekasan. Yang perlu kami tegaskan di sini adalah bahwa sapi Madrasin ini adalah sapi untuk dipotong, bukan untuk dikembangbiakkan lagi. Ini harus dipahami,” tandasnya

Pemkab Pamekasan kini juga telah menetapkan embrio kawasan sapi Madrasin, antara lain di Desa Plakpak Kecamatan Pegantenan. Mayoritas di desa ini penduduknya beternak sapi Madrasin. Desa ini merupakan desa yang paling banyak jumlah peternak sapi Madrasin sehingga desa ini dikenal sebagai kawasan peternak sapi Madrasin.

Selain di Plakpak, embrio kawasan sapi Madrasain lainnya adalah Desa Akor Palengaan, Lancar, Montok, Duko Timur di Kecamatan Larangan. Semua desa ini kini menjadi desa binaan program pengembangan sapi potong sapi Madrasin. Kini program itu juga tengah digalakkan untuk kecamatan lainnya, yakni Kecamatan Tlanakan, Pademawu dan Galis.

Pengembagan sapi Madrasin sangat terasa keuntungannya bagi peternak. Seekor sapi Madrasin yang berusia 3 bulan lepas sapih untuk jenis kelamin jantan harganya sekitar Rp 5 juta, sedangkan untuk jenis kelemin betina harganya Rp 4 juta. Sementara harga sapi Madrasin yang siap potong minimal harganya Rp 15 juta dan ada yang mencapai Rp 20 juta. Selama ini hasil produksi sapi Madrasin ini selain dikirim keluar Madura ada juga yang dipotong untuk memenuhi kebutuhan di Pamekasan sendiri. Daging sapi Madrasin ini tidak jauh berbeda dengan daging khas sapi Madura.

Menurut Hanafi, program pengembangan sapi Madrasin ini sangat cocok untuk menyambut program nasional swasembada daging pada tahun 2012 nanti. “Biaya yang dibutuhkan untuk program ini memamg banyak, karena butuh banyak pakan yang meliputi dedaunan, makanan tambahan konsentrat, dan sebagainya. Namun, jika dibandingkan dengan hasilnya, ternyata lebih banyak dan pasti menguntungkan,” jelasnya.

Semangat pengembangan program IB yang menghasilkan sapi Madrasin ini bukan tanpa hambatan. Berbarengan dengan tingginya minat masyarakat untuk program ini, muncul kekhawatiran akan terjadinya kepunahan sapi asli Madura. Karena itu, pemerintah kini membuat program Pembibitan Sapi Potong Pedesaan, yaitu program pengembangan sapi potong yang menggunakan bibit sapi asli Madura. Untuk keberhasilan program ini diperkirakan membutuhkan sekitar 10 ribu ekor bibit sapi Madura.

Kini, penyediaan 10 ribu ekor sapi asli Madura itu sudah terpenuhi. Karena itu, kekhawatiran akan terjadinya kepunahan sapi asli Madura akibat gencarnya program sapi Madrasin ini tidak perlu terjadi. Selain itu, pemerintah kini juga melakukan upaya pemurnian sapi Madura dengan pelastarian plasma nutfah yang dikembangkan di kawasan utara Pamekasan, meliputi Kecamatan Batumarmar, Pasean dan Waru. Tiga kecamatan ini dikenal dengan nama kawasan sumber bibit sapi potong Madura. adv

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 3 Desember 2009

Label: , ,

Ulema protests torture against racing cows

A number of ulemas in Madura have been urging the regional administration to issue bylaws against the use of torture on cows used in the traditional karapan sapi (cow race).

Munif Sayuti, one of the ulemas, said he acknowledged the race was a source of pride for the Madurese. Yet, he added, some ulemas had declared it was haram (prohibited under Islamic teaching) to use torture to encourage the cows to win the race.

He said that a number of methods used to make the cows run faster inflicted harm upon the animals. Applying heating balm to a cows' anus and eyes and beating them with nailed sticks are some commonly used methods.

"The ulemas do not want to ban karapan as it is part of Madurese culture. What we won't allow is physical violence both against animals and human beings," Munif told The Jakarta Post in Pamekasan, Madura, East Java.

Munif said that calls to avoid violence against racing cows had began a few years ago, but no action had been taken.

Torture against racing cows has continued, including during the recent karapan for the President Trophy held at Soenarto Hadiwidjojo Stadium in Pamekasan last Sunday.

"The 24 participants still used nailed sticks to beat the cows to make them run furiously. Unfortunately, the local administration and the organizing committee seemed to have turned a blind eye to the matter," Munif said.

He suggested that to prevent further violence from being committed in the future, a bylaw was needed.

According to Pamekasan historian Sulaiman Sadik, karapan sapi was first introduced by Prince Katandur of Sapudi Island, Sumenep, in the 13th century, and was named karapan salaga, to refer to the traditional cow-ridden plow used by farmers in the region.

At that time, only whips were used to encourage the cows to run faster. "In its development, however, karapan has become a form of animal torture. That's why we want to preserve the race by returning it to its original form," Sulaiman said.

Speaker of the Pamekasan Legislature Council Iskandar, said his office had been receiving complaints from both activists in Madura and tourists visiting the region regarding the use of torture in the karapan race.

This, he said, had resulted in a constant decrease in the number of tourist visits to the island over the past few years.

"The interest in seeing karapan sapi is still high among the Madurese, as shown by the number of people flocking to such events," Iskandar said.

"Yet, if we observe it much closer, fewer foreign tourists have been enjoying it lately," he added.

Iskandar said his office planned to conduct a publicity program both among the owners of the cows and other related parties to help eliminate the torture of cows in the traditional race.

Katijo, a cow owner in Pamekasan, however, expressed pessimism that eliminating torture in karapan would be successful as each cow owner wanted their animal to win.

"The cows that are beaten with nailed sticks and applied with balm run much faster than those that are only whipped," Katijo said. (Indra Harsaputra)

Sumber: The Jakarta Post, Fri, 10/30/2009

Label: , ,

Madura Hidup dengan Budaya Sapeh Sono'

Oleh: Masrur

Hasil budaya masyarakat sebelum dan setelah kemerdekaan yang masih layak diperjuangkan untuk masyarakat Madura adalah sapeh sono'. Pergelaran dan lomba sapeh sono' merupakan ciri khas kegiatan orang Madura yang telah bertahun-tahun berlomba-lamba mencari sapi terbaik yang layak dijadikan tontonan.

Nah, sering kali kita melihat sapi dihiasi dengan berbagai macam ragam perhiasan dari tingkat yang lebih rendah sampai pada yang paling mahal dengan kolaborasi batik tenun Madura.

Pergelaran itu merupakan suatu hakikat rasa cinta terhadap hewan peliharannya dan makhluk ciptaan Tuhan yang harus dicintai, dilindungi, dan diayomi oleh makhluknya. Ini ditandai dengan melakukan pengobatan agar sapi bisa gemuk dan layak untuk dipertontonkan. Di satu sisi sapi diajari berjalan perlahan-lahan, tertatih-tatih, kemudian didiamkan tanpa beranjak dari tempatnya. Untuk itulah pelatihan khusus melatih agar sapi tunduk pada majikan yang telah memelihara dirinya. Dari sinilah akan ada sebuah keistimewaan yang diharapkan dari sapi nomor satu yang layak untuk dijadikan tontonan dan dilombakan.

Untuk menambah keyakinan pada sapi yang telah dilatih oleh majikannya, pemilik sapi datang pada orang yang dianggap sebagai orang pintar dalam dunia mistis atau orang yang punya mantera. Mereka menggunakan jalan dunia mistik atau mantera bukanlah sesuatu yang kebetulan saja. Mereka melakukan hal itu untuk melancarkan jalannya permainan dan membuat sapi tunduk, pasrah, dan siap menghadapi lawan tangguh sekalipun.

Ini bukan hal baru bagi mereka sehingga tanpa diimbangi hal-hal tersebut seakan kurang sempurna dan kurang pasrah. Karena dalam prinsipnya segala cara mereka lakukan untuk memenangkan sebuah pertandingan, apalagi dalam mempertahankan sebuah kehormatan. Mereka tidak memperhitungkan dana yang digunakan, asal mereka berhasil.

Kita tahu bahwa budaya sapeh sono' menjadi bagian tersendiri dan telah melebur di hati masyarakat Madura. Dari golongan anak-anak sampai golongan tua sekalipun masih mengagungkan sapeh sono'. Sapeh sono' merupakan suatu pergelaran yang menarik dan menjadi hiburan masyarakat, baik dari dalam maupun luar daerah Madura. Kita sering mendengar ucapan-ucapan yang terlintas dari masyarakat tentang sapeh sono' bahwa inilah sapi yang harus dikembangkan untuk dijadikan budaya khas Madura yang berjalan lembut indah seindah matahari pagi baru beranjak dari tempat peraduannya.

Kita tahu bahwa orang senang berkorban segala macam untuk mendapatkan sesuatu demi tujuan yang harus dicapai. Mereka beranggapan kalau kalah dalam pertandingan, maka 'dianggap suatu yang naif' sehingga kemudian mencari sapi terbaik mulai dari fisiknya sampai pada karakter sapinya. Hal ini dapat dilihat dari sifat dan karakteristik orang Madura yang memiliki sifat gigih memperjuangkan apa yang diinginkan sampai berhasil.

Kegiatan masyarakat Madura berinteraksi melalui sapeh sono' telah melebur, menyatu, dan menjadi pemuja 'cinta sapi' sehingga tidak bisa melepaskan diri dari karakter kebudayaan sapeh sono' di Madura. Perjuangan mereka dalam memperjuangkan sapeh sono' tanpa mereka sadari sebenarnya telah mengembangkan budaya Madura yang memiliki karakter berbeda dengan daerah lain. Alhasil, masyarakat Madura telah melebur dan berkolaborasi dengan masyarakat luas. Sapeh sono' telah memperlihatkan kemampuannya menyatukan masyarakat dari ujung timur sampai ke ujung barat pulau Madura. Dengan legitimasi ini sangatlah mungkin memperkuat perjuangan dan pengembangan sapeh sono' sesuai dengan karakteristik kemaduraannya.

Keindahan dalam menonton sapeh sono' mempunyai nilai tersendiri. Keindahan itu mengandung makna yang khas kemaduraannya. Keindahan itu bermuara pada saling mengunjungi daerah masing-masing dan memperkenalkan daerahnya sendiri. Bentuk perkenalan itu ditunjukkan melalui sapi yang bagus dan mampu mengalahkan sapi mereka.

Terlepas dari itu interaksi sosial dan komunikasi antarmasyarakat dari luar daerahnya masing-masing akan semakin cepat, khususnya golongan tua. Masyarakat yang umurnya menengah ke atas berkomunikasi paling cepat melalui sesuatu yang dicintai.

Sapeh sono' telah melebur menjadi kesenangan masyarakat desa yang notabene memelihara sapi. Tentunya memiliki disiplin ilmu memelihara sapi dan mengembangkan sapi menjadi nomor satu. Dari itu kita tahu bahwa masyarakat sangat kental dengan budayanya (sapeh sono') sehingga dorongan, partisipasi, dan pemeliharaannya pada budaya sapeh sono' tidaklah hanya pada masyarakat.

Pemerintah seharusnya ikut andil dalam mengembangkan budaya sapeh sono'. Sebab budaya sapeh sono' lambat laun akan punahn tanpa peran pemerintah. Motivasi pemerintah untuk mengembangkan budaya sapeh sono' akan lebih mampu mengetuk hati marayakat untuk mengembangkan kebudayaan daerahnya.

Kita tidak bisa hanya menjadi penonton masyarakat yang telah memperjuangkan budayanya tanpa adanya kontrol terstruktur dari pemerintah. Masyarakat yang telah berkeinginan kuat menjaga budayanya, paling tidak mendapat apresiasi dari pemerintah untuk lebih meningkatkan lagi budaya sapeh sono' agar lebih mendapat tempat di hati masyarakat.

Penulis: MASRUR Santri PP Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep

Sumber: Kompas, Jumat, 20 Februari 2009

Label: , ,

Sata Saka Sapi Madura

Dalam peta pembangunan peternakan regional di Jawa Timur, Pamekasan termasuk daerah sumber bibit ternak sapi, artinya ada aliran ternak yang surplus setiap tahun. Dalam lima tahun terakhir rata-rata pengiriman ternak keluar pulau berkisar 10-15 ribu per tahun. Angka ini kini cenderung menurun akibat kenaikan kebutuhan konsumsi di Pulau Madura sendiri.

Dalam sepuluh tahun terakhir, meski pemerintah giat mencanangkan program Inseminasi Buatan (IB), peningkatan pencapaiannya masih amat lambat, berkisar pada angka 8.000 akseptor per tahun atau kurang lebih 20 % dari sapi betina produktif, dengan interval kelahiran 11-13 bulan.

Dari gambaran di atas tampak bahwa benang kusut persoalan pembangungan dan pengembangan peternak terletak pada rendahnya tingkat reproduksi ternak, terutama yang berhubungan dengan calving rate (angka kelahiran), calving interval (jarak kelahiran) sehingga bermuara pada tampilan produktivitas sapi Madura secara keseluruhan.

Program IB hanya menyentuh perbaikan aspek kualitas dari ternak yang dihasilkan, belum pada aspek kuantitas (jumlah kelahiran) dan aspek intensitas (jarak kelahiran). Untuk itu diperlukan upaya bersama melalui sebuah kegiatan yang bersifat integral dan mendasar guna menjawab persoalan dan tantangan di atas.

Pemkab Pamekasan merasa perlu pengelolaan ternak di tingkat petani optimal. Salah satunya adalah melalui program satu tahun satu kelahiran (Sata Saka) untuk sapi bibit. Dalam rangka mengoptimalkan potensi sapi betina dengan lama kebuntingan 270 hari, sangat memungkinkan setiap tahun bisa terjadi satu kelahiran dengan mengatur dan merencanakan pola kelahiran secara teratur.

Bupati Pamekasan Drs KH Kholilurrahman dalam banyak kesempatan selalu mengungkapkan bahwa warga Pamekasan akan bisa meningkatkan kesejahteraan jika bisa mengoptimalkan potensi yang dimilikinya, baik sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan sumberdaya alam lainnya. “Memang kita harus kreatif mengelola, termasuk bagaimana menjual potensi yang kita miliki kepada kalangan investor,” kata Kholilurrahman.

Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan pola pemeliharaan seperti ini (Sata Saka), antara lain mengoptimalkan potensi reprodusi ternak. Biasanya hanya 2-3 kali melahirkan dalam lima tahun, dapat ditingkatkan menjadi 4-5 kali melahirkan dalam 5 tahun. Dengan begitu diharapkan akan bermuara pada peningkatan pendapatan serta kesejahteraan peternak. Apabila dapat diterima, inovasi ini akan menjadi sebuah mind set baru yang dapat memperbaiki tampilan usaha peternak menjadi lebih menjanjikan.

Menurut Bupati Kholilurrahman, program Sata Saka ini merupakan yang pertama kali diujicobakan di Indonesia. Dengan program ini dia mengharapkan peternak dapat optimal dalam mengusahakan keuntungan dari sapi piaraannya yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan peternak.

Dalam jangka panjang, program ini secara ekonomis diharapkan akan menempatkan peternak sebagai salah satu komponen yang berperan serta dalam peningkatan perekonomian Pamekasan secara signifikan. Selain itu, para pebisnis tidak akan ragu lagi untuk melakukan investasi pada bisnis peternakan di pedesaan sehingga dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. (MASDAWI DAHLAN)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 2 Maret 2009

Artikel Terkait:
Peluang Emas Bagi Investor

Label: ,