Sata Saka Sapi Madura

Dalam peta pembangunan peternakan regional di Jawa Timur, Pamekasan termasuk daerah sumber bibit ternak sapi, artinya ada aliran ternak yang surplus setiap tahun. Dalam lima tahun terakhir rata-rata pengiriman ternak keluar pulau berkisar 10-15 ribu per tahun. Angka ini kini cenderung menurun akibat kenaikan kebutuhan konsumsi di Pulau Madura sendiri.

Dalam sepuluh tahun terakhir, meski pemerintah giat mencanangkan program Inseminasi Buatan (IB), peningkatan pencapaiannya masih amat lambat, berkisar pada angka 8.000 akseptor per tahun atau kurang lebih 20 % dari sapi betina produktif, dengan interval kelahiran 11-13 bulan.

Dari gambaran di atas tampak bahwa benang kusut persoalan pembangungan dan pengembangan peternak terletak pada rendahnya tingkat reproduksi ternak, terutama yang berhubungan dengan calving rate (angka kelahiran), calving interval (jarak kelahiran) sehingga bermuara pada tampilan produktivitas sapi Madura secara keseluruhan.

Program IB hanya menyentuh perbaikan aspek kualitas dari ternak yang dihasilkan, belum pada aspek kuantitas (jumlah kelahiran) dan aspek intensitas (jarak kelahiran). Untuk itu diperlukan upaya bersama melalui sebuah kegiatan yang bersifat integral dan mendasar guna menjawab persoalan dan tantangan di atas.

Pemkab Pamekasan merasa perlu pengelolaan ternak di tingkat petani optimal. Salah satunya adalah melalui program satu tahun satu kelahiran (Sata Saka) untuk sapi bibit. Dalam rangka mengoptimalkan potensi sapi betina dengan lama kebuntingan 270 hari, sangat memungkinkan setiap tahun bisa terjadi satu kelahiran dengan mengatur dan merencanakan pola kelahiran secara teratur.

Bupati Pamekasan Drs KH Kholilurrahman dalam banyak kesempatan selalu mengungkapkan bahwa warga Pamekasan akan bisa meningkatkan kesejahteraan jika bisa mengoptimalkan potensi yang dimilikinya, baik sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan sumberdaya alam lainnya. “Memang kita harus kreatif mengelola, termasuk bagaimana menjual potensi yang kita miliki kepada kalangan investor,” kata Kholilurrahman.

Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan pola pemeliharaan seperti ini (Sata Saka), antara lain mengoptimalkan potensi reprodusi ternak. Biasanya hanya 2-3 kali melahirkan dalam lima tahun, dapat ditingkatkan menjadi 4-5 kali melahirkan dalam 5 tahun. Dengan begitu diharapkan akan bermuara pada peningkatan pendapatan serta kesejahteraan peternak. Apabila dapat diterima, inovasi ini akan menjadi sebuah mind set baru yang dapat memperbaiki tampilan usaha peternak menjadi lebih menjanjikan.

Menurut Bupati Kholilurrahman, program Sata Saka ini merupakan yang pertama kali diujicobakan di Indonesia. Dengan program ini dia mengharapkan peternak dapat optimal dalam mengusahakan keuntungan dari sapi piaraannya yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan peternak.

Dalam jangka panjang, program ini secara ekonomis diharapkan akan menempatkan peternak sebagai salah satu komponen yang berperan serta dalam peningkatan perekonomian Pamekasan secara signifikan. Selain itu, para pebisnis tidak akan ragu lagi untuk melakukan investasi pada bisnis peternakan di pedesaan sehingga dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. (MASDAWI DAHLAN)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 2 Maret 2009

Artikel Terkait:
Peluang Emas Bagi Investor

Label: ,