Abdul Wahed Hasan,
Dosen dan Penulis Buku

Komitmen Menulis sampai Akhir Hayat

ABDUL Wahed Hasan lahir pada 10 Oktober 1973. Dia dilahirkan di Desa Pananggungan, Kecamatan Guluk-Guluk, sebuah desa yang mayoritas penduduknya berprofesi petani.

Meski petani, kedua orangtua Wahed getol memberi semangat kepada anak-anaknya untuk menempuh pendidikan. Semangat ini kemudian menjadi komitmen Wahed.

Pada 1986 Wahed disekolahkan di salah satu SDN di desanya. Awalnya dia tidak sadar bahwa detik itu awal baginya menjalani tantangan. Sebab, di tengah belitan biaya hidup, orangtuanya juga berpikir biaya pendidikan anaknya.

Layaknya anak-anak desa yang lain, Wahed berangkat ke sekolah apa adanya. Memakai seragam sederhana dan uang saku seadanya. Bahkan, pernah dalam tiga hari dia tak punya uang saku. Namun, dia tabah dan menikmati saja apa yang sedang dia alami.

Kesenangannya sejak kali pertama duduk di bangku SD adalah menulis. Menulis apa saja sesuai dengan keinginannya. "Yang penting saya menulis," katanya.

Hobi ini membuat dia berambisi menulis di sejumlah media. Tulisan pertamanya dimuat di majalah dinding di sekolahnya.

Lepas dari bangku SD, dosen tarbiyah STIKA Guluk-Guluk ini melanjutkan ke Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. MTS dan SMA serta gelar sarjana (S-1) dia dapat di pesantren itu.

Menurut dia, selama mondok dia mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman yang belum didapat sebelumnya. Bakat menulisnya semakin mantap. Sebab, teman-teman santrinya mayoritas senang dengan dunia tersebut. Apalagi, sarana dan prasarana lebih memadai. Komputer dan internet disediakan di pesantren.

Berbeda ketika di desa, hasil karya tulisnya selama di ponpes banyak orang orang. Dia mendapatkan honor ganti print out dan uang lelah. Sehingga, dari hasil tulisan tersebut Wahed mulai bisa membiayai hidupnya sendiri selama di pesantren.

Tahun demi tahun, hobi menulisnya berkembang. Dari menulis di sejumlah media kecil, dia mulai memberanikan menulis di sejumlah koran tebitan nasional. Saat itu dia duduk di bangku kelas akhir SMA (1993).

Saat itu dia bukan hanya menulis, tapi belajar menerjemahkan buku. Hasil terjemahan diterbitkan oleh salah satu percetakan di Jakarta. "Saya merasakan betapa semangat saya menulis waktu masih SD hasilnya bisa saya rasakan saat ini," ujarnya. Bahkan, honor dari menerjemahkan buku tersebut bisa untuk biaya pendidikannya.

Meski telah menerjemahkan banyak buku, Wahed tak henti mengasah diri. Alasannya, karya tersebut hanya sepintas lalu dari potensi yang belum mampu dia kuak. Dirinya yakin, potensi yang Tuhan berikan masih banyak.

Pada 1998, semangatnya dalam berkarya makin mantap. Apalagi ketika dia mulai bergabung dengan lembaga pers mahasiswa (LPM). Hingga dia menempuh jenjang pendidikan di program pasacasarjana, kertas dan bolpen tidak pernah lepas dari jemarinya. Hasilnya, puluhan media cetak mulai melirik karya-karyanya.

Karya-karya yang telah dia hasilkan, antara lain; SQ NABI: Aplikasi Strategi dan Model Kecerdasan Spiritual Rasulullah Saw. Di Masa Kini (IrCiSoD Yogyakarta2006; mendapat penghargaan sebagai karya ilmiah terbaik dosen swasta PTAI se-Indonesia oleh DEPAG RI), Shalat Sunnah Bersama Nabi (Q-Media Yogyakarta, 2007), Kumpulan doa anak shaleh (Terainsani, Jakarta, 2007), serta Fikih Sehari-hari (Q-Media, Yogyakarta, proses terbit).

Sedangkan buku yang pernah diterjemahkan, Kegelisahan Rasulullah Mendengar Tangis Anak (terjemah dari buku Kaifa Nurabbi Awladana Ilamiyyan karya Muhyiddin Abdul Hamid, Pustaka Pelajar, 1999), Teologi Kemiskinan, Konsep dan Solusi Islam atas Persoalan Kemiskinan (terjemah bersama A. Maimun Syamsuddin dari buku Musykilat al-Faqr karya Yusuf al-Qaradhawi.

Lalu, buku Mengakrabkan Anak dengan Tuhan (terjemah bersama A. Maimun dari buku Kaifa Nad'û al-Athfâl karya Dr. Hamdan Rajih, Diva Press, Yogyakrat, 2002), Pengembangan Ilmu Menurut Nabi (terjemah dari buku al-Rasûl wa al-'Ilm karya Yusuf Qaradhawi, Pilar Media Yogyakarta, proses terbit), Merengkuh Cahaya Ilahi: Tanggung Jawab Menegakkan Pilar-Pilar Dakwah Islam (terjemah bersama A. Maimun Syamsuddin dari al-Dakwah ilâ Allah, karya Hamd Hasan Raqith, Diva Press, Yogyakarta, 2002), dan lainnya.

Selaian tetap aktif sebagai seorang penulis, Wahed pergunakan waktunya dengan mengajar. Tercatat, saat ini dia menjadi dosen tetap di sekolah tinggi ilmu keislaman Annuqayah dan di sejumlah sekolah tingkat SMP dan SMA.

Dia mengajak kalangan remaja tak henti berkarya. Sebab, manfaat dari berkarya sudah mengantarkan banyak orang sukses dan orang besar. "Percayalah, orang yang berkarya (menulis) akan dibaca banyak orang," katanya. (zaiturrahiem)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 17 November 2008

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda