Mohamad Rasul,
Direktur Utama PT. PJB Services

Pindah ke Surabaya karena Transportasi Makan Waktu

Banyak alasan mengapa orang Madura akhirnya harus 'hijrah' ke Surabaya. Bagi mereka yang punya kesibukan dan bekerja, satu alasan di antaranya adalah untuk menghemat waktu. Pasalnya, transportasi laut untuk menyeberangi Selat Madura terlalu banyak menyita waktu.

PERUSAHAAN Listrik Negara (PLN) memiliki beberapa anak perusahaan. Salah satunya PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB) yag terletak di Jalan Ketintang Surabaya. Lalu, anak perusahaan yang satu ini memiliki anak perusahaan lagi bernama PT. PJB Services. Jadi, perusahaan yang disebut belakangan adalah "cucu" PLN.

PT. PJB Services terletak di kompleks Juanda Business Centre No. 1, Blok A 4-6, Surabaya. Tiga gedung dengan warna dominan putih dan merah pada setiap pilarnya ini baru ditempati. Interior di dalamnya juga masih terlihat baru dan beberapa di antaranya masih terbungkus plastik. Ruang-ruang kerja juga tampak masih kinclong. Dengan pintu, meja dan lemari yang warnanya seragam, kantor itu tampak begitu nyaman untuk dijadikan lingkungan kerja.

Kesibukan memindahkan barang dan dokumen belum sepi pagi itu. Para karyawan pun tak ketinggalan. Mereka sibuk keluar masuk ruang-ruang kerja di lantai 2 itu. Sementara dari balik tirai, terlihat 3 orang sedang berbincang di ruang direktur utama. Hanya gerakan yang bisa terlihat jelas dari balik tirai itu. Wajah dan suara mereka tak bisa dikenali, tapi bisa dipastikan salah satu di antara mereka adalah Mohamad Rasul.

Pria ini adalah putra Madura yang dilahirkan di Pamekasan pada 16 November 1955. Meski lahir di Pamekasan, dia lebih banyak menghabiskan waktu muda hingga beristri dan memiliki anak di Bangkalan. Di Pamekasan, dia hanya menghabiskan waktu 8 tahun saja bersama orang tua dari ayah dan ibunya.

"Saya lahir di Pamekasan, lalu tahun 1963 saya pindah ke Kamal dan tinggal bersama orang tua. Di Pamekasan kan saya tinggal bersama kakek-nenek," terangnya pada koran ini saat ditemui usai berbincang dengan 2 anak buahnya.

Saat pindah ke Kamal (Bangkalan) dia tengah bersekolah di kelas 2 SD. Menyelesaikan sekolah dasar di SDN Kamal III dan SMPN 1 Kamal, Rasul-sapaannya- kembali ke Pamekasan untuk melanjutkan sekolah menengah atas (SMA), kembali ke pangkuan kakek neneknya.

Tahun 1975, Rasul melanjutkan studinya di ITS Surabaya Jurusan Teknik Elektro hingga tahun 1980. "Mestinya saya ini jadi dosen. Sebab, begitu masuk dan kuliah di ITS saya mendapatkan beasiswa. Jadi, biaya pendidikan saya selama kuliah ditanggung negara. Tapi, mungkin bukan jalan saya menjadi dosen," tuturnya.

Sementara teman-temannya menjadi dosen dan meneruskan kuliah di jenjang yang lebih tinggi, Rasul justru menyibukkan diri bersama teman-temannya membuka perusahaan sendiri. "Sempat juga saya jadi dosen di universitas swasta sebentar, tapi lebih banyak bantu-bantu teman bikin perusahaan sendiri. Yah, karena nggak punya modal saling bantu," kenangnya.

Di tengah dua kesibukan tersebut, dia sempat mengikuti tes masuk PLN. Dipanggil untuk bergabung dengan PLN sejak tahun 1981, Rasul mengajukan permohonan agar pemanggilan tersebut diundur hingga April 1982. Alasannya, masih memiliki kegiatan lain di Surabaya.

"Nah, di bulan April 1982 itu saya memulai karir di PLN. Waktu itu saya bertugas di Jakarta, meninggalkan istri dan 2 anak saya di Madura," ujarnya. Tapi, lanjutnya, meski bertugas di ibukota negara dia masih sering pulang ke Madura untuk mengobati kangen pada keluarga kecilnya itu. Sebab, Rasul sering bepergian ke seluruh Indonesia untuk menangani pemeliharaan generator atau diesel pembangkit listrik di luar Jawa. Jika dekat dengan Madura, dia tak berpikir dua kali untuk membayar tiket pesawat untuk segera terbang ke Surabaya dan menyeberang ke Madura.

Tak tahan berjauhan dengan keluarga, Rasul akhirnya meminta agar dipindahtugaskan ke Surabaya. Tentunya setelah mendapatkan orang untuk menggantikan posisinya di Jakarta. "Sejak tahun 1984 saya bertugas di Surabaya, tapi saya tetap pulang pergi Madura-Surabaya. Begitu juga waktu saya bertugas di Gresik," jelas bapak yang dikaruniai 4 anak ini.

Bertolak dari Surabaya ke Madura mulai dirasakan berat oleh Rasul. Pasalnya, waktu yang dihabiskan untuk menyeberang menggunakan kapal feri terlalu lama. Kadang, waktu juga banyak habis untuk mengantre masuk kapal. "Saya mulai merasa waktu habis di jalan, kalau masalah ongkos menyeberang sih standar saja. Lalu, saya memutuskan untuk menempati rumah dinas di Gresik, tapi masih sering ke Madura juga. Baru tahun 2003 lalu saya benar-benar memboyong keluarga ke Surabaya," tutur pria berkulit putih ini.

Anak-anak, imbuhnya, masih sering datang ke rumah mereka di Madura. Maklum, mereka lama di Madura dan masih memiliki banyak teman sekolah dan sepermainan di Jalan Rambutan Perumnas itu. (NUR RAHMAD AKHIRULLAH)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 13 November 2008

Baca juga:
Pernah Terlibat Tim Pemindahan PLTG

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda