Berusaha dengan Visi

Ilmu Kuliah Tak Dipakai

Reng Oneng Waroeng Madoera
Mendirikan usaha jangan memikirkan masalah yang akan muncul di belakang hari. Seseorang harus memiliki visi dan tahu finish apa yang ingin dicapainya. Ketidak mengertian bukan halangan yang selamanya akan menjadi penghambat. Justru dari situ beberapa alternatif untuk dijadikan jalan keluar akan terbuka lebar. Tinggal pilih jalan mana yang siap ditempuh dengan kemampuan dan daya tahan.

Demikian disampaikan oleh pengusaha muda berdarah Madura, Riano D. Permana ketika ditaya kiat sukses bisnisnya. Menurut dia, keberhasilannya dalam membuka usaha sendiri bukan terletak pada keilmuan yang dia pelajari selama kuliah. Sebab, meski belajar di Fakultas Ekonomi Unair Surabaya, ilmu ekonominya kurang pas untuk dipakai dalam bisnis. Di Unair dia menjadi mahasiswa jurusan ilmu ekonomi dan studi pembangunan (IESP) yang lebih banyak membahas tentang gejala-gejala ekonomi secara makro dan mikro.

"Jadi, meskipun saya sarjana ekonomi, ilmu yang saya dapat di bangku kuliah itu tidak dipakai. Kalau bangun usaha sendiri itu kan umumnya butuh pengetahuan manajemen," terangnya.

Kesempatan pertamanya membuka usaha di rumah sakit haji, Sukolilo, Surabaya banyak memberinya pelajaran. Sejak itu, dia mulai banyak mengasah kemampuan manajemennya secara otodidak. Pelajaran mangenai seni kelola usaha dia dapatkan dari literatur-literatur dan beberapa seminar yang dia ikuti. Hasilnya, hingga saat ini bisa mengembangkan usahanya yang konsisten di bidang makanan.

"Kalau ingat-ingat waktu pertama buka usaha, saya tertawa sendiri. Sebab, dari pertama buka usaha makanan saya sama sekali buta. Tapi, karena ada peluang saya ambil saja. Awal-awal memang sulit karena belum punya teman. Setelah beberapa lama semuanya terasa lebih mudah. Itu karena mulai banyak teman berbagi dan belajar," ungkapnya.

Pengusaha muda yang baru merintis usaha di Surabaya cukup banyak. Mereka kemudian tergabung dalam sebuah gabungan pengusaha di bidangnya masing-masing. Di antara mereka hidup pola kerjasama, saling membantu dan belajar bersama mengenai manajemen terbaru mengelola bisnis.

"Dulu waktu pertama buka usaha berdarah-darah itu kan sudah biasa. Untuk memilih jalan usaha kan memang butuh keberanian menanggung risiko. Nah, untungnya setelah beberapa lama, saya diajak bergabung dalam kelompok pengusaha muda. Di situ kita saling bertukar informasi," kenangnya.

Bisa melewati masa-masa sulit mendirikan usaha adalah kebanggaan tersendiri bagi dirinya dan keluarganya. Namun, target jangka pendek yang berhasil diraih tidak boleh menghentikan usaha ke tahap berikutnya. "Apa yang dicapai sekarang ini benar-benar saya syukuri. Selanjutnya, sebagai bentuk rasa syukur juga saya akan mengembangkan dan mencapai tingkatan yang lebih baik lagi dari usaha saya ini," pungkasnya. (nra/ed)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 27 Oktober 2008

Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda