Hj Joos Siti Aisyah

Ketua Induk Koperasi Indonesia dan Puskowanjati

Tak Kenal Lelah Berdayakan Wanita di Bidang Koperasi

Joos terus membina wanita agar bisa membantu perekonomian keluarganya. Hingga kini, dia masih membina 45 koperasi wanita di Jawa Timur dan 10 pusat koperasi wanita se-Indonesia.

BERPANGKU tangan atau sekadar menonton televisi di rumah kala menunggu suami datang bekerja, bukan hal yang menyenangkan bagi wanita kelahiran Bangkalan, 6 Juni 1943 ini. Maka sejak tahun 1978 dia mulai bergabung dengan Koperasi Setia Bakti Wanita Surabaya. Sejak itu pula kiprahnya di bidang koperasi wanita dimulai.

Awalnya dia tidak memiliki kesibukan apapun selain mengurus anak. Tinggal di Surabaya sejak tahun 1974, cukup lama dia bergelut dengan kesibukan selayaknya ibu rumah tangga lainnya. Setelah anak-anaknya beranjak besar, mulailah wanita yang akrab disapa Yos ini mencari kesibukan.

"Pertama saya bergabung dengan koperasi wanita hanya untuk mengisi waktu luang di rumah. Anak-anak sudah sekolah SMP, jadi bisa ditinggal beraktifitas di luar rumah," tuturnya pada Koran ini ketika ditemui di kediamannya, Jalan Dharmahusada Indah Utara I-6, Surabaya.

Beraktifitas di luar rumah kemudian menjadi kesibukannya sehari-hari. Bahkan, tidak lama bergabung dalam koperasi wanita tersebut, dia langsung diangkat sebagai ketua.

Kiprahnya menghidupkan koperasi wanita yang dipimpinnya ternyata memeroleh perhatian. Dia kemudian diangkat sebagai Ketua Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur, membawahi koperasi-koperasi wanita di berbagai kabupaten di Jawa Timur.

Tanggung jawab yang diemban semakin memerkuat keinginannya untuk memerdayakan wanita di bidang ekonomi, khususnya di bidang koperasi. Terlebih, dia juga dipercaya sebagai ketua umum Induk Koperasi Wanita (Inkowan) yang berpusat di Jakarta. Meski sibuk, hingga saat ini dia tetap menjalani kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan senang hati. "Sibuk itu kan bisa dibuat, yang penting ikhlas," tandasnya.

Sejak dilimpahi tanggung jawab mengembangkan wanita di bidang koperasi, dia seringkali harus bepergian ke luar kota, bahkan ke luar pulau hingga berhari-hari. Hal tersebut dilakukan untuk terus memberikan pembinaan pada koperasi-koperasi yang dibawahinya, baik di wilayah regional Jatim dan nasional.

"Sekarang tugas saya adalah bagaimana benar-benar memerdayakan wanita. Yang sudah dan terus saya kembangkan hingga saat ini adalah koperasi dengan sistem tanggung jawab renteng," ujar wanita berkacamata ini.

Sistem tanggung renteng, jelasnya, adalah tanggung jawab bersama anggota dalam satu kelompok atas segala kewajiban terhadap koperasi, dengan dasar keterbukaan dan saling memercayai. Dalam penerapan sistem itu, keberadaan kelompok merupakan wadah anggota dalam beraktifitas untuk pemenuhan kewajiban dan hak sebagai anggota koperasi.

Di samping itu, kelompok juga dijadikan sebagai sarana komunikasi antar-anggota. Dengan demikian, di kelompok tersebut akan terjadi proses pembelajaran bagi anggota. Untuk itu kelompok wajib melakukan pertemuan rutin secara berkala. "Jadi, dengan sistem tanggung renteng ini kita mendidik wanita agar bertanggung jawab. Karenanya, semua permasalahan menyangkut koperasi dan anggotanya harus dimusyawarahkan," terangnya.

Caranya, dengan membagi kelompok koperasi berdasar kedekatan tempat tinggal. Itu akan menolong mereka agar bisa bertemu lebih intens. Biasanya, dari 200 anggota dibagi menjadi 10 sampai 12 kelompok berdasarkan domisili tempat tinggalnya. Mereka diwajibkan bertemu minimal sebulan sekali untuk membicarakn koperasinya.

"Dari pertemuan-pertemuan kan akhirnya timbul kedekatan. Silaturahmi kemudian membuat mereka merasa seperti bersaudara. Nah, dari persaudaraan itulah nanti akan muncul saling tenggang rasa, senasib sepenanggungan," papar Yos.

Suatu ketika, sambungnya, jika terdapat masalah dalam satu kelompok, maka anggota yang bersangkutan harus menyampaikannya secara jujur dan terbuka. Misalnya, dalam koperasi simpan pinjam ada anggota yang tidak dapat membayar pinjaman dalam sebulan karena harus memenuhi biaya lainnya. Kesulitan itu harus disampaikan pada kelompok, sehingga kelompok akan memusyawarahkan keputusan yang akan diambil sebagai jalan keluarnya. Keputusan yang sudah diambil bersama harus dihormati, dijalani secara disiplin dan penuh tanggung jawab.

Dengan cara tersebut, anggota koperasi tidak akan memikirkan diri sendiri, tetapi juga anggota yang lain. Keberlangsungan koperasi akan terus terjaga. Lembaga-lembaga yang memberikan pinjaman pada koperasi pun tidak akan merasa keberatan untuk kembali memberikan modal. Sebab, lembaga pemberi pinjaman merasa aman ketika tanggung jawab anggota koperasi bisa dijalankan secara disiplin.

"Untuk menunjang tanggung jawab itu harus ada sanksinya. Kita sepakat memilih sanksi untuk membekukan fasilitas pada koperasi yang lalai dalam tanggung jawabnya," tegas istri almarhum Drs Mohammad Mochtar Lutfi ini.

Pemberlakuan sistem tanggung renteng, pemberian sanksi dan pembinaan secara terus menerus yang sudah dijalankannya telah memerlihatkan hasil yang baik. "Hingga saat ini, nol persen tunggakan dari koperasi-koperasi yang saya bina. Kebanyakan memang bergerak di simpan pinjam," tuturnya.

Sistem tanggung renteng tersebut diberlakukan untuk semua koperasi yang ada di bawah koordinasinya. Yaitu koperasi wanita yang ada di Jawa Timur sebanyak 45 kopwan dan 10 puskowan yang ada di seluruh Indonesia. Keberhasilannya mendidik wanita dan menghidupkan koperasi di kalangan wanita telah mendapatkan berbagai penghargaan dari seluruh presiden pemimpin Indonesia. Mulai dari almarhum HM. Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono. (nra/ed)

Label: , ,