Mengenang (Alm) KH Abdullah Schal

Kondisi Kritis pun Tetap Berzikir

KH Abdullah Schal merupakan sosok ulama panutan bagi masyarakat. Beliau tidak pernah lelah menyiarkan ajaran Islam hingga pelosok desa. Dalam kondisi sakit pun, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Syaichona Cholil, Bangkalan ini tetap semangat berdakwah ke pelosok desa.

WAFATNYA KH Abdullah Schal membawa duka mendalam bagi keluarga maupun masyarakat luas. Sosok kiai yang berpendirian teguh ini sangat menyintai dakwah untuk menyiarkan ajaran Islam.

Bahkan, semangat berdakwah tetap terbawa hingga kondisinya lemah dan terbaring di rumah sakit. Selimut yang menutupi bagian tubuhnya ditarik. Lalu dengan reflek diselempangkan layaknya surban.

"Semangat berdakwahnya tetap terbawa meskipun beliau kritis," kata dr H Fachrur Rozi, dokter pribadi yang turut mendampingi almarhum saat di rumah sakit.

Menurut Rozi, selama ini semangat berdakwah rais Syuriyah PC NU Bangkalan itu sangat tinggi. Meskipun sakit, Kiai Abdullah tetap berdakwah. Dia rela ditandu untuk datang berdakwah. Selain siar Islam, almarhum tidak ingin mengecewakan orang yang mengundang.

"Saat peresmian IBS (Instalasi Bedah Sentral RSA Bangkalan), beliau itu sakit. Tapi memaksa datang karena tidak ingin mengecewakan orang yang mengundang. Ketika saya tanya, beliau bilang ingin berdoa," tuturnya.

Semangat berdakwah dilakoni Kiai Abdullah dalam 30 tahun terakhir. Bakda dzuhur berangkat ke desa untuk berdakwah. Kembali ke rumah pukul 02.00-03.00. "Saya 20 tahun merawat beliau. Beliau itu ikhlas, semangat, dan tidak mau membeda-bedakan orang. Ini luar biasa," katanya.

Bukan hanya itu. Dalam keadaan setengah sadar pun, almarhum masih kontak dan mengingat Allah. "Ketika kondisinya kritis, beliau tetap berzikir, membaca salawat, tahlil, dan memanjatkan doa-doa. Ini sulit dilakukan orang lain," kenang kepala Dinas Kesehatan Bangkalan ini.

Yang tidak kalah pentingnya, sikap dermawannya. Kiai Abdullah tidak pernah bosan memberi habib miskin yang perlu bantuan. "Setiap hari, sekitar 50-100 habib dibantu," terang mantan direktur RSA Bangkalan ini.

Sikap dermawannya juga ditunjukkan ketika diundang peresmian masjid. Almarhum selalu datang dan tidak lupa menyumbang. Misalnya, membantu kubah. Sehingga, sumbangan itu menjadi dorongan semangat bagi warga untuk menyelesaikan masjidnya.

Kiai Abdullah juga turut membantu pembangunan daerah. Biasanya, ketika diundang pengajian rutin, tokoh Basra ini meminta agar warga membangun jalan. Setelah ada jalan, pendakwah ini rutin memberi pengajian.

Selama merawat Kiai Abdullah, ada tanda-tanda pengasuh pesantren ini akan wafat. "Terakhir sakit, beliau meneteskan air mata. Itu ada dua kemungkinan. Karena psikologis atau tanda-tanda akan meninggal. Sebab, orang yang mau meninggal itu kelenjar matanya lemah," jelasnya.

Menurut Rozi, beberapa jam sebelum meninggal, Kiai Abdullah sempat ber-wudlu. Almarhum terus berzikir. "Saat meninggal, hampir semua anggota keluarganya mendampingi beliau," ungkapnya.

Detik-detik terakhir sebelum meninggal, kata Rozi, di Bangkalan hujan turun tiga hari berturut-turut. Menurut Rozi, fenomena itu pertanda bahwa alam ikut menangis karena ada ulama besar yang akan wafat.

Karena itu, sambutan Bupati Bangkalan Fuad Amin saat pemakaman dinilai sangat tepat. Bahwa almarhum adalah sosok panutan luar biasa yang perlu diteladani. Baik perkataan maupun perbuatannya. Beliau juga tokoh yang kokoh pendiriannya dalam agama. "Beliau pemimpin yang adil dan menjadi panutan," tandasnya. (TAUFIQURRAHMAN)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 03 September 2008

Label: , , ,

1 Komentar:

Pada 21 Februari 2017 01.56 , Blogger husni mubarok mengatakan...

Ya allah, perjuangan dan sifat dermawannya yang patut kita contohkan.
Ya Allah irham kiai abdullah amin

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda