HM Edy Juwono Slamet,
Dosen dan Pengamat Ekonomi

Pernah Kena Bom saat Perjalanan Pulang ke Madura

Tak salah jika Indonesia dinyatakan sebagai negeri yang kaya raya. Negara berbendera merah putih ini selalu menjadi rebutan bangsa asing. Banyak jiwa dan raga melayang untuk bebas dari penjajahan. Bahkan, setelah proklamasi, masih banyak korban berjatuhan untuk memertahankan kemerdekaan. Drs Ec HM. Edy Juwono Slamet MA, merupakan salah seorang korban kebiadaban masa penjajahan.

"SAYA tidak dilahirkan di Madura. Tapi di Kediri, saat Belanda melakukan agresi militernya yang kedua," kata Edy Juwono Slamet yang ditemui Radar Madura di salah satu ruang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Saat itu, ayahnya (Alm.) Slamet Ali Yunus yang tentara sedang bertugas di Kediri, tahun 1948.

Keberangkatan ibunya - almarhum Erna Ningsih - ke Kediri adalah untuk menyampaikan pesan rahasia. Meski sedang hamil tua, wanita itu rela melakukan perjalanan ke Kediri yang saat itu merupakan satu-satunya wilayah Republik Indonesia ketika Belanda kembali melancarkan serangan militernya pascakemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Mau tak mau, Edy-sapaannya-akhirnya dilahirkan di tanah Jawa tersebut. Masih dalam suasana perang yang berkecamuk, sang ibu membawa Edy hendak kembali ke kampung halamannya di Madura, tepatnya Pamekasan.

Malang tak dapat ditolak. Ketika dalam perjalanan, Edy dan ibunya terkena letusan bom Belanda. "Saat itu umur saya baru 15 bulan. Ibu dan saya kena bom di daerah Mojokerto, saat hendak pulang ke Madura. Ibu meninggal dunia, saya kehilangan 2 jari tangan dan kaki saya hancur," kenangnya.

"Untung ada foto. Jika tidak, saya nggak mungkin bisa tahu wajah ibu saya ketika masih hidup," ujarnya.

Sepeninggal ibunda tercintanya, dia kemudian dibesarkan oleh kakek dan neneknya di Pamekasan. Hingga lulus SMA dia tak pernah keluar dari Madura.

Rumah tempat dia dibesarkan berada di daerah Gurem, wilayah pinggir jantung Kota Pemekasan. Sebelum dipindah, di daerah tersebut terdapat pasar tempat warga Pamekasan bertransaksi jual-beli memenuhi kebutuhan sehari-harinya. "Jadi, rumah saya itu dekat pasar dan di antara jembatan yang sekarang di beri nama Jalan Trunojoyo," terangnya.

Tak hanya dibesarkan oleh kakek neneknya, beberapa tahun kemudian ayahnya kembali menikah. Edy pun akhirnya memiliki beberapa adik dari pernikahan tersebut. "Kalau dari ibu kandung hanya saya. Nah, dari ibu tiri saya punya adik lumayan banyak," ujar pria berkacamata ini.

Menurut dia, Gurem di masa kecilnya dulu adalah tempat berkumpulnya para maling dari seluruh Pamekasan. Namun, seiring berjalannya waktu, sampah masyarakat itu akhirnya hilang dengan sendirinya dari daerah tersebut. "Sekarang, yang tidak ada di tempat saya tumbuh dulu adalah pasar, karena sudah dipindah. Dulu, kalau malam saya dan teman-teman berkejaran di dalam pasar itu main benteng. Kadang buat tempat main domino, kelereng dan bajang," kenangnya.

Sungai, lanjutnya, juga menjadi tempatnya bermain. Sebab airnya waktu itu masih sangat jernih untuk dijadikan tempat berenang dan bersenda gurau dengan teman sebayanya. Mencari makanan favoritnya saat masih muda juga sulit bagi Edy. "Tempo, pecong, cecek, gorengan jeroan, paru, esoh sekarang kan sudah jarang sekali orang jual. Jadi, kalau saya pulang ke Madura biasanya wisata kuliner juga. Siapa tahu makanan favorit saya dulu masih ada yang jual," ungkapnya.

Perjalanan kulinernya di Madura dia mulai dari Bangkalan, Rumah Makan Nya Lete'. Kemudian, melanjutkan perjalanan ke tanah tempat ayahnya dimakamkan, dia selalu menyempatkan diri untuk mampir di warung Es Munasir. "Waktu masih kecil warung Pak Munasir itu sering jadi langganan saya dan anak-anak kampung. Saya tidak menyangka ternyata sampai sekarang masih ada dan jadi restoran. Mungkin karena dia orangnya ikhlas," tuturnya.

Selain itu, Edy juga kerap kali menikmati kaldu kokot yang dulu hanya terdapat di Sumenep.

Membandingkan kondisi sosial masyarakat Madura, terutama di Pamekasan, dia berpendapat, tidak terlalu banyak perubahan. Artinya, ketika di daerah lain tokoh ulama atau kiai mulai berkurang pengaruhnya, di Madura kiai masih memiliki pengaruh yang kuat. Pembangunan fisik menurutnya juga sudah banyak sekali berkembang.

"Yang tidak berubah di Madura itu pendidikannya. Bayangkan, rata-rata tingkat pendidikan di Madura itu masih sangat rendah. Di Madura itu tingkat DO (drop out, putus sekolah, Red.) paling tinggi di Jawa Timur," jelasnya.

Mungkin, sambungnya, warga Madura masih belum merasa bahwa pendidikan bisa memberikan nilai lebih. Sebab, mereka masih melihat banyak orang berpendidikan yang kondisi ekonomi lebih rendah daripada mereka yang tidak bersekolah, tapi kaya. "Memang seperti itu. Karena yang sekolah tinggi biasanya menjadi pegawai negeri. Yang tidak sekolah justru lebih giat sampai hasil usahanya melebihi hasil mereka yang berpendidikan dan menjadi pegawai negeri," katanya lantas tertawa.

Melanjutkan, yang tak kalah keliru dari kondisi masyarakat Madura yang latar belakang pendidikannya masih rendah adalah kebijakan pemerintah pusat. Penghapusan sekolah-sekolah yang bisa membekali pemuda dengan keterampilan khusus seharusnya tidak dilakukan. "Untungnya sekarang ada lagi meski bentuknya lain (SMK, Red.)," tandasnya. (NUR RAHMAD AKHIRULLAH)

Baca juga:
Pemikiran Akademisi Harus Dipertimbangkan

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 15 November 2008

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda