PKPB, Parpolnya Pak Harto

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO / Kompas Images
R Hartono

Berangkat dari perintah, Partai Karya Peduli Bangsa terbentuk. Adalah Menteri Dalam Negeri Kabinet Pembangunan VII, yang juga mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada masa Orde Baru, Jenderal (Purn) R Hartono, suatu hari pada tahun 1998 menghadap mantan Presiden Soeharto.

Waktu itu Pak Harto masih sehat. Saya juga sedang ada peluang maju mencalonkan diri menjadi kandidat Ketua Umum Golongan Karya (Golkar). Saya lapor minta restu. Secara mengejutkan, Beliau bilang, ’Tidak usah, Golkar hancur’. Sulit bagi saya ketika itu membayangkan bagaimana bisa Golkar hancur?” ujar Hartono di Jakarta, Kamis (5/2).

Alih-alih memberi restu, Soeharto malah memerintahkan Hartono membuat partai politik baru. Tugas itu tidaklah sulit, walau memakan waktu hampir empat tahun. Dari sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) yang sudah ada, Peduli Bangsa, Hartono mengubah statusnya menjadi Partai Peduli Bangsa (PPB).

Saat nama PPB ”disetorkan”, Soeharto meminta Hartono menyisipkan kata ”Karya” sebagai pengingat kepada Golkar, yang sukses melanggengkan kekuasaan Orde Baru selama lebih dari tiga dekade. Disepakatilah kemudian nama Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).

PKPB masih diidentikkan dengan Orde Baru, spesifik mantan Presiden Soeharto ...

Ya, memang asal-muasalnya dari Pak Harto, baik yang memerintahkan (membuat) dan yang menamainya. Secara resmi PKPB berdiri 9 September 2002. Dua tahun kemudian kami pastikan ikut pemilu, setelah sebelumnya saya melapor terlebih dahulu ke Pak Harto.

Pada saat pertama bilang Golkar hancur, saya sangat terkejut. Mungkin Beliau sudah memprediksinya, apalagi dalam kurun waktu itu Pak Harto sudah merasakan bagaimana sikap Golkar saat Akbar Tandjung menjadi Ketua Umum, tampak dan terasa sekali ada upaya membuang Pak Harto.

Lantas bagaimana PKPB melihat hasil 10 tahun reformasi?

Dalam agama yang saya anut, reformasi adalah hal yang tidak diperlukan, jika yang dimaksud adalah bagaimana menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Dalam agama, ketentuan seperti itu sudah ada. Tidak perlu ada reformasi.

Sampai sekarang, sejak Pak Harto tidak lagi memimpin, saya tidak pernah tahu apa yang diubah dan apa yang sudah diperbaiki. Saya bahkan tidak mengerti apa sebetulnya yang dahulu diinginkan oleh para pencetus gerakan reformasi itu. Apa sekadar mau ganti pemimpin? Mengubah semua peraturan? Akhirnya coba lihat, apa jadinya sekarang? Sekarang rakyat bilang, mereka semakin bingung. Berbicara soal perbaikan, jelas hal itu merupakan keharusan.

Sekarang apa yang PKPB tawarkan?

Kami tawarkan untuk mengembalikan berbagai bentuk kesejahteraan, kemudahan, serta kelebihan apa pun yang dahulu pada masa pemerintahan Pak Harto telah rakyat rasakan. Stabilitas dan kesejahteraan. Itu sesuai perintah Pak Harto kepada saya saat mendirikan PKPB.

Semua itu sudah sering kami sampaikan langsung ke rakyat, PKPB adalah parpol Pak Harto dan kami ingin memberikan apa yang telah dan pernah dinikmati sebelumnya. Dalam sejumlah pendekatan, rakyat masih banyak menginginkan keadaan kembali seperti masa lalu, saat Pak Harto masih memimpin.

Kalau memang kami diberi peluang, PKPB akan meneruskan seluruh kebijakan dan konsep Pak Harto agar keberhasilan yang dicapai pada masa lalu bisa diwujudkan kembali. Namun, bukan hanya konsep Pak Harto, melainkan juga pemikiran mantan Presiden Soekarno. Keduanya menjadi dasar dan kekuatan PKPB dalam menentukan kebijakan serta kerjanya pada masa mendatang. Jika Bung Karno menyatukan Indonesia, Pak Harto berjasa mengisi kemerdekaan yang telah diperoleh.

Apa target PKPB?

Kalau dalam Pemilu 2004, kami berhasil memperoleh suara sekitar 2,5 juta orang atau setara dengan dua kursi di DPR pusat. Sebetulnya kami yakin bisa lebih dari dua kursi, tetapi karena kami tidak terlalu mengerti bagaimana hitung-hitungannya, ya sudahlah biar saja.

Untuk Pemilu 2009, kami targetkan lebih kurang sama dengan perolehan lalu. Kalau bisa lebih, ya lebih sedikit enggak apa-apa. Memang tidak mudah. Apalagi banyak orang baru di PKPB, termasuk yang juga baru dalam hal berpolitik.

Mereka masih belum paham harus bagaimana, sementara mereka harus bisa masuk dan diterima masyarakat. Sekarang kami terapkan taktik run deep run silent. Artinya, kami masuk sedalam mungkin ke lapisan masyarakat terbawah dan mendengarkan aspirasi mereka.

Sementara taktik run silent, berarti melakukan semua itu tidak dengan beramai-ramai atau ribut-ribut, apalagi dengan berhura-hura. Tidak perlu pasang iklan. Orang gampang lupa, sekarang lihat iklan besok lupa. Bukannya kami tidak punya uang untuk itu, ya.

PKPB pernah mencalonkan Mbak Tutut (Siti Hardiyanti Hastuti Indra Rukmana, putri Soeharto), sebagai presiden. Bagaimana sekarang?

Tidak. Mbak Tutut anggota biasa di PKPB. Untuk jadi presiden, seseorang harus memenuhi sejumlah syarat. Dia harus punya kemampuan dalam lingkup nasional dan internasional. Kalau salah satu kecakapan tak punya, ya susah.

Bagaimana PKPB melihat calon-calon presiden sekarang?

Saya lihat kok yang muncul ya buanyak sekali seperti itu, ha-ha-ha. Tetapi, buat saya, sampai sekarang tidak ada satu pun dari mereka punya kelebihan dan lebih baik dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, baik dari sisi kemampuan atau kenegarawanannya.

Saya paham karena sebagai mantan atasannya di TNI Angkatan Darat, saya mengikuti perkembangan karier Presiden Yudhoyono, mulai dari saat menjadi Panglima Kodam II/ Sriwijaya. Ia punya kemampuan. Tidak semua tentara punya kesempatan melewati jenjang sampai puncak.

Apa PKPB akan ikut mendukung Presiden Yudhoyono?

Ya, lihat nanti seusai pemilu legislatif, dan itu pun harus dibicarakan dan dirapatkan dulu di dalam. Tetapi, kalau kami mampu mendapat perolehan suara sebanyak 20 persen, yo nggolek dhewe (ya, cari sendiri) saja capresnya.

Namun, sampai sekarang belum ada yang berani mendekati kami.

Sumber: Kompas, Sabtu, 7 Februari 2009

Baca juga:
Sebuah Janji Hadirkan Kembali Masa Lalu

Label: , ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda