Prof Dr HA. Syukur Ghazali MPd,
Dosen Pasca Sarjana UN Malang

Jangan sampai Terjadi Akulturasi Budaya Madura

Terbukanya akses informasi, budaya, ekonomi, dan perdagangan bebas pasca beroperasinya Jembatan Suramadu akan menimbulkan implikasi luas bagi masyarakat Madura. Salah satunya, akan terjadi kontak langsung antara budaya lokal Madura dengan budaya luar yang dibawa para migran.

GURU BESAR Bidang Pengajaran Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang Prof Dr HA. Syukur Ghazali MPd sangat khawatir, beroperasinya Jembatan Suramadu menimbulkan kooptasi budaya. Dimana budaya yang kuat mencaplok budaya yang lemah. Sehingga, sedikit demi sedikit, budaya asli Madura tergerus oleh budaya metropolitan yang orientasinya ekonomi kapitalis.

"Yang perlu dijaga, jangan sampai terjadi akulturasi di tengah-tengah budaya Madura. Sebab, ditinjau dari ilmu antropologi, budaya yang kuat akan mencaplok budaya yang lemah. Budaya metropolitan juga sangat berpengaruh terhadap nilai-nilai agama dan moral yang sudah lama mengakar di tengah-tengah masyarakat Madura," ingat dosen Pasca Sarjana Unisma Malang ini.

Menurut guru besar kelahiran Pamekasan 22 Desember 1950 ini, beroperasinya Jembatan Suramadu akan membuka akses informasi dan teknologi masuk ke Madura. Mobilitas orang-orang migran dan arus perdagangan bebas tidak mungkin terelakkan. Termasuk penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi.

Karena itu, lanjut putra pasangan (alm) H Achmad Ghazali - (almh) Hj Kusniyah ini, pemkab yang ada di Madura harus mengintensifkan penggunaan Bahasa Ibu atau Bahasa Madura mulai dari pendidikan prasekolah sampai tingkat SMA. Sehingga, keberadaan Bahasa Madura tidak pudar ditelan zaman.

Untuk membentengi nilai-nilai agama dan moral masyarakat Madura, Syukur -panggilan akrabnya- mengimbau kepada pemerintah agar memberdayakan pondok pesantren (ponpes) dan madrasah. "Sampai saat ini, perhatian pemkab di Madura terhadap keberadaan ponpes dan madrasah masih setengah hati. Kedua lembaga ini belum dianggap sebagai aset yang sangat berharga. Padahal, fungsinya sangat besar dalam mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai moral dan agama," jelas suami DR Hj Yuni Pratiwi MPd ini.

Mantan Sekretaris Pembantu Rektor III IKIP Malang ini mengatakan, bila akses ekonomi benar-benar dibuka secara bebas tanpa ada regulasi perundangan-undangan (perda) yang mengatur, maka perekonomian masyarakat Madura bakal hancur ditelan para pemilik modal besar.

"Apalagi, pendidikan masyarakat Madura pada umumnya adalah pendidikan umum. Bukan pendidikan berlatar belakang skill, yang menelorkan para tenaga kerja trampil yang berorientasi gaji besar," ungkap mantan kepala Pusat Pengembangan Kurikulum Pembelajaran dan Evaluasi IKIP Malang ini.

Karena itu, menurut Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Malang ini, bila pemkab di Madura memiliki anggaran cukup, sudah saatnya memperbanyak mendirikan sekolah fokasional yang berorientasi pada skill. Seperti sekolah politeknik, poli pertanian, poli perikanan, dan poli kesehatan.

"Terus terang saja, saya benar-benar sangat khawatir melihat nasib masyarakat Madura pasca beroperasinya Jembatan Suramadu. Apalagi, pemkab maupun lembaga legislatif yang ada di Madura terkesan adem-ayem dan tenang-tenang saja. Tidak ada persiapan dan program khusus yang tampak ke permukaan. Padahal, dampaknya sangat luar biasa," terangnya.

Khusus kepada para wakil rakyat, Syukur mengimbau agar segera memikirkan dan menyusun langkah-langkah perencanaan tentang regulasi (perda) menghadapi beroperasinya Jembatan Suramadu. "Kalau tidak ada perda yang memproteksi, jangan berharap kita mampu melewati tantangan industrialisasi dan modernisasi. Bisa-bisa masyarakat Madura menjadi tamu di negeri sendiri," ingat ayah dua putra ini.

Menurut dia, dalam merumuskan dan menyusun program harus didukung hasil penelitian dan data yang valid. Sebab, bangsa ini sangat lemah kalau bicara soal data. "Ini harus benar-benar dipikirkan secara serius. Tapi, apakah para wakil rakyat di Madura memiliki kekuatan dan kemampuan memprediksi kondisi di lapangan," tanya Syukur.

Sebagai satu-satunya universitas negeri yang ada di Madura, Syukur mempunyai harapan besar kepada Universitas Negeri Trunojoyo (Unijoyo) Bangkalan untuk menghidupkan kembali budaya riset. Yaitu, proaktif meneliti kebutuhan-kebutuhan esensial masyarakat Madura. "Dulu, langkah awalnya sudah bagus. Melalui prakarsa Profesor Iksan, Unijoyo pernah melakukan penelitian pengembangan tanah kering. Tapi, sekarang, budaya riset itu tidak kelihatan lagi," katanya.

Syukur menceritakan, dulu saat dirinya masih kecil, Kecamatan Kadur dan Larangan, Pamekasan, menjadi sentra budidaya tanaman Jeruk. Sedangkan Kecamatan Baruh dan Pegantenan, Pamekasan, menjadi sentra budidaya tanaman Durian dan Coklat. "Tapi, sekarang, semua potensi itu mulai punah. Lalu, mana tanggung jawab akademis Fakultas Pertanian Unijoyo dan Dinas Pertanian Pemkab Pamekasan," tanyanya kecewa.

Karena itu, lanjut dia, bila semua pihak yang berkompenten acuh tak acuk dan tidak serius memikirkan potensi pertanian masyarakat Madura, sumber daya alam tersebut akan hilang tergerus arus industrialisasi dan modernisasi. (taufiq rizqon/ed)

BIODATA

Nama: Prof DR HA Syukur Ghazali MPd
Tempat/tanggal Lahir: Pamekasan, 22 Desember 1950
Jabatan: Guru Besar/Dosen Pasca Sarjana UN Malang
Orang Tua: (alm) H Achmad Ghazali - (almh) Hj Kusniyah
Istri: DR Hj Yuni Pratiwi MPd
Anak :
Akhmad Dafik Ramadhani
Akhmad Farkhan Azmi

Pendidikan:
SR Negeri Bunder 2 Pademawu, Pamekasan
SMPN 1 Pamekasan
SMAN 1 Pamekasan
Sarjana Muda IKIP Malang
S1 IKIP Malang
S2 IKIP Malang
Program Doktor Pasca Sarjana IKIP Malang

Pengalaman Kerja:
Sekretaris PR III IKIP Malang
Dosen Pasca Sarjana Unisma
Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum Pembelajaran dan Evaluasi IKIP Malang
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Malang.

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 05 Februari 2009

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda