Hadi Soekamto,
University Advisor USAID Indonesia

Konsisten Kembangkan Decentralized Basic Education di Madura

SEJAK tahun 2006, United State Agency International Development (USAID) telah menerapkan paket pelatihan mutu pembelajaran pendidikan di Bangkalan. Sedikitnya ada 16 sekolah dasar (SD) di Kecamatan Blega dan Kota Bangkalan yang sudah menerapkan sistem Decentralized Basic Education (DBE) ini.

Pada tahun 2007, program DBE ini juga diterapkan di 24 SD di Kabupaten Sampang. Masing - masing berada di Kecamatan Camplong sebanyak 14 sekolah, dan Kecamatan Kedungdung 10 sekolah. Sedangkan untuk Kabupaten Bangkalan, 8 sekolah berada di Blega, dan 8 sekolah di Kecamatan Kota Bangkalan.

Sebagai University Advisor USAID Indonesia, tugas Hadi Soekamto sebagai penghubung antara project dengan universitas. Sebab, untuk merealisasikan program DBE di Jawa Timur, termasuk di Madura, pihaknya harus melibatkan dua perguruan tinggi. Yaitu Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

"Kedua perguruan tinggi itu diberi tugas menyusun paket pelatihan yang akan diterapkan kepada sasaran. Jadi, meskipun dananya dari USAID, tapi yang menyusun paket pelatihannya tetap tenaga ahli bangsa sendiri," ujar putra pasangan Abd. Hamid BA - (almh) Sumarni ini.

Lulusan S2 Administrasi Negara Pasca Sarjana Universitas Brawijaya Malang ini menjelaskan, dalam menyusun paket pelatihan UM maupun Unesa harus melibatkan Kanwil Depag Jatim, Diknas Jatim, dan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Sehingga, metodologi yang diterapkan benar - benar sesuai dengan kondisi di lapangan. "Jadi, semua paket pelatihan yang dibuat itu, merupakan produk kita sendiri," terangnya.

Suami Siti Rahmawati SFAR Apt ini mengungkapkan, hasil penerapan program DBE ini cukup baik. Kompetensi antarguru lebih maju dan kreatif. Pengelolaan manajemen kelas juga lebih rapi, bersih, dan menarik.

Hadi - panggilan akrabnya - menyontohkan perubahan yang terjadi di SDN Kajan I Blega. Awalnya, lantai sekolah tersebut masih tanah. Temboknya juga lubang - lubang. "Tapi, karena kepala sekolah dan guru - gurunya kreatif, kerusakan itu dimodifikasi menggunakan barang bekas. Sehingga, kelihatan indah dan menarik.

"Ternyata, paket pelatihan yang diberikan memunculkan motifasi dan kreatifitas bagi pelaku pendidikan di sekolah pelosok pedesaan. Karena itu, Anda jangan kaget kalau sebagian guru SD di Blega mengajar menggunakan laptop dan LCD," ungkap mahasiswa Program Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang ini.

Menurut dia, tujuan program DBE ini adalah memberdayakan pelaku pendidikan, khususnya pendidikan dasar agar mampu merancang, merencanakan, dan mengembangkan sistem pembelajaran pendidikan yang baik dan ideal. Sesuai kondisi dan potensi yang ada.

"Selain dewan pendidikan, lanjut Hadi, sasaran program ini adalah kepala sekolah, guru, lembaga atau institusi pengambil kebijakan masalah pendidikan," jelasnya.

Program Decentralized Basic Education USAID di Jawa Timur, memiliki tiga bidang garap. Pertama, mengurusi tata pelayanan pendidikan. Sasarannya, adalah lembaga atau institusi pengambil policy. "Seperti, institusi diknas dan Depag," terangnya.

Kedua, program DBE yang mengurusi mutu pembelajaran pendidikan. Sasarannya, adalah cabang dinas P dan K, kepala sekolah dan guru. Sedangkan yang ketiga, mengurusi bantuan life skill, khusus kepada siswa SMP maupun MTs. Tujuannya, agar mereka memiliki keterampilan dan keahlian khusus.

"Sehingga, begitu lulus SMP maupun MTs, mereka bisa mandiri dan menghasilkan uang untuk hidup. Khususnya, bagi mereka yang tidak mau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi," jelas lulusan S2 Teknologi Pembelajaran Pasca Sarjana IKIP Malang ini. (TAUFIQ RIZQON)

Sumber: Jawa Post, Selasa, 27 Januari 2009

Label: , ,

1 Komentar:

Pada 11 Januari 2012 15.36 , Anonymous Anonim mengatakan...

Okey nicejob.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda