Almarhum Mohamad Fatah,
Mantan Bupati Bangkalan Periode 1998-2003

Sosok Gigih Tiga Dimensi, Tentara, Politikus dan Akademisi

Wafatnya almarhum Fatah menyisakan cerita di antara kolega sejawat dan kerabat dekat yang mengenal sosok yang akrab disapa Fatah ini. Bagaimana Fatah di mata keluarganya?

Sehari sepeninggal Alm Fatah, keluarga masih punya banyak kenangan. Fatah dikenal oleh ibunda tercintanya sebagai anak penyabar dan patuh pada orang tua. Sebagai anak kelima dari 19 bersaudara, mendiang juga dikenal sosok kakak yang baik dan santun.

Semasa hidupnya Fatah mengenyam pendidikan di SD yang dibangun pada zaman Belanda. " Sekarang SD itu jadi kantor KPU Bangkalan," ujar adiknya Muhammad Mudassir. Lulus SD Fatah melanjutkan sekolah di SMP 1 Bangkalan dan SMA 1 Pamekasan. Kemudian dia masuk ke barisan tentara usai menamatkan sekolah SMA.

Fatah menjadi seorang prajurit terbaik di angkatan laut. Dia lalu mendapat kepercayaan untuk menuntut ilmu militer di Belanda selama beberapa tahun. Sepulang dari Belanda, Fatah juga pernah mengemban tugas sebagai atase militer di Korea dan Thailand.

Mendekati masa pensiun, Fatah tertarik masuk dunia politik sebagai calon Bupati Bangkalan periode 1998-2003. Berhasil dalam pencalonan, Fatah berhasil menjadi pemimpin di Bangkalan selama satu periode. Selama kepemimpinannya, Fatah tidak pernah terlibat kasus penyelewengan jabatan apa pun.

"Fatah selalu tahu bedanya masalah keluarga dan jabatannya di pemerintahan," ujar Mudasir. Itu terlihat dari sistem kepemimpinannya yang selalu mengandalkan usaha dan kerja keras dari orang-orang yang ada di bawah kepemimpinannya.

Dijelaskan Mudasir, pemerintahan Fatah lebih menekankan pembangunan terhadap pedesaan. "Sebenarnya di perkotaan ada juga. Misalnya pembangunan jalan kembar dan GOR (gedung olahraga, Red) Bangkalan. Tapi, memang tidak banyak," ujar Mudasir.

Di akhir karirnya Fatah sempat akan diberi kenang-kenangan berupa mobil. Namun, mobil tersebut ditolaknya dan dihibahkan kepada Pemda. "Mungkin dia berpikir pemda lebih membutuhkan ketersediaan mobil itu," tandasnya.

Sementara itu, Rahmad, salah satu ponakan Fatah, mengenal sebagai pribadi yang tegas dengan pendirian. "Dia merupakan sosok Pakde yang selalu mendidik keluarga tidak gampang menyerah," kenangnya

"Jika ingin mendapatkan sesuatu, harus ditempuh dengan usaha dan kerja keras sendiri," tambah Rahmad, saat menirukan wejangan yang pernah dilontarkan Fatah terhadapnya.

Teman sejawatnya, Abdullah, mengenang Fatah dari sisi yang berbeda. Mantan bupati Bangkalan itu dikenal sebagai pria yang hobi menyantap rajungan. "Dulu saya dan Pak Fatah sering sekali makan rajungan. Kalau sudah babis dagingnya, sisanya untuk dibuat mainan perahu," ujarnya. Terlebih Fatah memang sangat kreatif memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya menjadi berguna.

Ketika menjabat sebagai bupati Bangkalan, pada saat yang bersamaan, Fatah juga merangkap menjadi Rektor Unibang. Sebagai seorang Rektor, Fatah pernah menyumbangkan dedikasinya dengan mengusahakan Unibang menjadi satu-satunya Universitas Negeri yang ada di Madura.

Unibang berubah menjadi UTM (Universitas Trunojoyo Madura), dan akhirnya berganti pula masa pemegang jabatan rektor kepada periode berikutnya. Lepas dari semua jabatannya, Fatah tinggal di kediamannya Jalan Antasari Surabaya bersama istri tercinta dan salah satu putrinya yang masih mengenyam pendidikan kedokteran di Universitas Hang Tuah Surabaya. Hingga akhir hayatnya Fatah tak pernah mengeluh atas sakit yang dideritanya. (BELIA SANDRIANA)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 02 April 2009

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda