Bekas Kraton Bangkalan Jadi Milik Pribadi Warga

foto: din/zonaberita.com
Rumah ini diduga bekas Keraton Bangkalan

Bekas Kraton Bangkalan, di Kampung Saksak Tengah, Kelurahan Kraton, Kecamatan Bangkalan, Madura, Jawa Timur, diklaim sebagai milik pribadi warga bernama Hansyen Woing.

Hansyen mengklaim sebagai pemilik sah bangunan kuno yang dulunya bekas Kraton Bangkalan itu berdasarkan bukti sertifikat yang ia kantongi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat.

Oleh: Abd Aziz

"Bangunan itu sudah menjadi milik pribadi saya, dan saya telah mengantongi sertifikatnya dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bangkalan yang dikeluarkan 2010 ini," kata Hansyen.

Pernyataan itu disampaikan Hasyim kepada sejumlah warga di Kelurahan Kraton yang sempat memprotes kepemilikan klaim kepemilikan bekas Karton Bangkalan tersebut.

Menurut dia, bekas Kraton Bangkalan di areal seluas 1 hektare lebih itu, merupakan warisan dari orang tuanya dan sudah diukur sejak 1925 lalu. Namun sertifikatnya baru rampung sekarang ini, ujarnya.

Dulu, bangunan itu ditempati sebagai asrama pejabat di Kabupaten Bangkalan. Namun karena ayahnya kasihan pada orang yang tidak punya rumah, akhirnya rumah itu disuruh tempatinya secara cuma-cuma.

Bangunan yang terletak di Kampung Saksak itu memang terlihat sangat kuno dan tidak pernah direnovasi, serta terlihat kumuh karena kurang terurus. Akibatnya, kondisi bangunan sangat memprihatinkan.

Awal Desember 2010, beredar khabar warga keturunan China mengklaim sebagai pemilik bekas Kraton Bangkalan itu, berencana akan menjual bangunan dengan alasan khawatir ambruk karena tidak terawat.

Bahkan, warga yang tinggal di bangunan itu, diminta segera mengosongkan rumah tersebut.

Khabar yang berkembang di masyarakat sekitar, tiang yang terbuat dari tembaga dalam bangunan ditawar senilai Rp90 juta. Jumlah tiang yang terbuat dari tembaga empat unit.

Tidak hanya itu, ada empat tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati konon telah ditawar dengan harga sangat menggiurkan, yakni Rp135 juta lebih.

Ditentang warga

Rencana Hansyen Woing menjual bangunan kuno yang merupakan bekas Kraton Bangkalan itu ditentang sejumlah warga Kampung Saksak Tengah, Kelurahan Kraton, Kecamatan Bangkalan, termasuk Lurah Kraton, Evi Aisya Andriyani.

Sebab menurut warga dan Lurah Kraton, bekas Kraton Bangkalan yang diklaim milik pribadi Hansyen Woing, merupakan cagar budaya yang perlu dilestarikan.

Bahkan warga meminta sertifikat yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bangkalan ditinjau ulang.

Evi Aisya Andriyani menyatakan, pihaknya tidak menemukan data di kantor kelurahan, jika bekas Kraton Bangkalan itu merupakan milik perorangan, apalagi di dalam bangunannya banyak terdapat benda-benda kuno yang merupakan peninggalan Kraton Bangkalan.

"Di persil juga ngak ada, jika bangunan itu milik perseorangan. Berarti milik negara dan tidak boleh dijual. Namun, harus dilestarikan," kata Evi menegaskan.

Dia mengatakan, pihaknya akan secepatnya menginformasikan penjualan situs bangunan Kraton Bangkalan ini ke Pemkab melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Apalagi, Hansye Woing (Hansen) yang selama ini disebut-sebut sebagai pemilik hanyalah memiliki hak guna saja, bukan pemilik sah.

Laporkan BPN

Aksi protes warga dan Lurah Kraton atas klaim kepemilikan bekas Kraton Bangkalan itu juga datang dari Lurah Kraton, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan. Evi Aisya Andriyani juga mengancam akan melaporkan BPN dalam kasus penerbitan sertifikat bekas Kraton Bangkalan ke Polda Jatim.

"Kami akan laporkan kasus ini kepada Polda Jatim dan Kejaksaan Tinggi (Kejati), karena dalam penerbitan sertifikat yang diatasnya merupakan bekas Kraton Bangkalan itu mencurigakan," kata Evi.

Evi menyatakan, dalam penerbitan sertifikat hak milik nomor 1834 seluas 10.650 meter persegi atas nama Hansyem Woing oleh BPN Bangkalan menyalahi prosedur karena beberapa syarat pemberian hak milik tidak terpenuhi.

"Syarat itu antara lain surat keterangan tanah dari Kepala Desa atau Lurah. Dalam hal ini, Lurah Kraton tidak pernah diminta keterangan apapun. Begitu juga dalam pengukuran tanah yang dimohon tanpa pemberitahuan Pada lurah atau RT/RW setempat," ungkapnya.

Di samping itu, sambung Evi, lurah tidak pernah menerima pengumuman tentang pendaftaran tanah yang dimohon oleh Hansyen Woing. Kemudian lurah tidak merasa ikut sebagai anggota panitia oleh pihak BPN.

"BPN juga tidak pernah memperhatikan atau tidak mengindahkan surat bupati tentang perubahan status tanah negara dan percaton desa, dengan tidak melakukan koordinasi terlebih dulu dengan Pemkab Bangkalan," ucapnya.

Bahkan ia menilai, BPN Bangkalan dalam melakukan tindakan keputusan tata usaha negara di bidang pertanahan pada sertifikat atas nama Hansyen, tidak hati-hati. Tidak memperhatikan asas umum pemerintah yang baik, antara lain kecermatan, ketelitian, asas keterbukaan, dan asas persamaan.

"Dengan ditemukan cacat administrasi pada penerbitan sertifikat itu, maka segera dilakukan pembatalan pada sertifikat tersebut. Jika tidak selama batas waktu tertentu, maka permasalahan ini kami selesaikan melalui badan peradilan," ucapnya.

Di samping itu, kata Evi, agar kasus tersebut tidak terulang lagi serta selaras dengan pelaksanaan otonomi daerah. Selanjutnya menciptakan tertib administrasi bidang pertanahan.

Namun BPN Kabupaten Bangkalan, membantah jika proses pembuatan sertifikat hak milik atas nama Hansyen Woing, tidak prosedural.

Dalam keterangan pers kepada kepada sejumlah wartawan di Bangkalan Pelaksana Tugas (Plt) BPN Bangkalan Aris menyatakan, penerbitan sertifikat tanah tersebut sudah prosedural, tidak seperti yang disampaikan sebagian warga dan Lurah Kraton.

"Dalam pembuatan sertifikat atas kepemilikan bekas Kraton Bangkalan oleh Hansye Wongi itu, sudah sesuai dengan prosedur, tidak ada yang menyimpang," katanya menjelaskan.

Ia mengemukakan, pihaknya sudah melibatkan beberapa pihak dalam proses pembuatan sertifikat yang diatasnya ada bangunan kuno yang merupakan bekas Kraton Bangkalan itu, termasuk koordinasi dengan Lurah Kraton, Kecamatan Kota, sebagai pejabat yang berwenang di kawasan tersebut.

"Kami sudah libatkan Lurah dalam proses pembuatan sertifikat. Namun, bukan lurah yang sekarang (Evi Aisya Andriyani), melainkan yang sebelumnya," ungkap mantan kepala BPN Sampang ini tanpa menyebutkan nama lurah yang menjabat saat itu.

Perhatian dewan

Klaim kepemilikan bekas Kraton Bangkalan oleh warga bernama Hansyen Woing (Hansen) tidak hanya menjadi perhatian warga dan Lurah Kraton, tapi juga kalangan anggota dewan.

DPRD Bangkalan, menyatakan akan memanggil Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) untuk mengklarifikasi bangunan kuno, bekas kraton yang kini diklaim sebagai milik pribadi warga, termasuk pihak BPN.

"Kami akan memanggil Disporabudpar Bangkalan untuk mencari tahu permasalahan terkait bangunan kuno yang merupakan bekas kraton Bangkalan tersebut yang kini diklaim sebagai milik pribadi warga," kata Ketua Komisi D DPRD Bangkalan, Mukaffi Cholil.

Menurut Mukaffi, di samping mencari tahu seputar informasi bangunan yang diduga sebagai bekas Kraton Bangkalan itu, pihaknya juga ingin meluruskan sebuah informasi yang beredar luas di masyarakat.

"Nanti, kalau sudah dipanggil, akan diketahui asal usul dari bangunan kuno yang terletak di kampung Sak-sak, Kelurahan Kraton, termasuk status dari bangunan itu sendiri apakah cagar budaya atau tidak," ucapnya.

Jika benar bangunan kuno adalah kraton dan milik negara, pemerintah setempat harus melakukan penyelamatan. Sebab, hal tersebut menyangkut aset yang dimiliki negara.

"Permasalahan ini harus diluruskan karena menyangkut aset negara. Merujuk pada pernyataan Lurah Kraton yang tidak dilibatkan dalam proses pembuatan sertifikat, itu menyalahi aturan yang ada. Apalagi status tanah HGB dan sudah mati masa berlaku," katanya.

Memang bekas Kraton

Mayoritas warga di Kampung Saksak Tengah, Kelurahan Kraton, Kecamatan Bangkalan, menyatakan, bekas bangunan kuno yang diklaim milik warga bernama Hansyen Woing tersebut memang dulunya merupakan bekas Kraton Bangkalan.

Termasuk pengakuan bibinya Hansen sendiri Lie Pik Nio dalam sebuah pertemuan dengan para tokoh masyarakat dan Lurah Kraton, Bangkalan.

"Bangunan yang diklaim milik ponakan saya itu, memang merupakan bangunan bekas kraton Bangkalan," katanya menegaskan.

Ia menuturkan, dulunya bangunan kuno yang merupakan bekas Kraton Bangkalan itu memang tempat punggawa Kraton.

Pertama kata Pikri sapaan akrab Lie Pik Nio, bangunan kuno tersebut milik Adipati Ario Cakraningrat. Kemudian bangunan tersebut jatuh pada Loa Tikyu yang tidak lain merupakan kakek dari sang suami, Ong Gwan King.

"Namun, beberapa tahun ini ayah Hansyen sakit, kemudian saya disuruh tanda tangan lembaran-lembaran kosong bersama adik ipar, Ganol. Saya tidak tahu maksudnya, ternyata bangunan kraton itu sudah disertifikat atas nama Hansyen. Setelah tahu, saya tidak mengurus masalah ini lagi," ucapnya.

Menurut Pikri, pihaknya berani mengatakan kalau bangunan tersebut adalah kraton karena pernah menjual kaca yang berlambangkan Cakraningrat dan bertuliskan Adi Cakraningrat. Hal itu dilakukan karena kaca peninggalan kraton Bangkalan telah rusak.

"Saya minta sama mertuaku untuk menjual kaca yang ada dalam bangunan karena telah rusak. Sebenarnya di situ ada dua kaca, namun yang kondisinya masih bagus juga telah dijual oleh keluarga saya," paparnya.

Pikri menambahkan, di bangunan kuno juga terdapat sebuah kursi peninggalan dari kraton. Namun, kursi tersebut telah dijual oleh ayah Hansyen.

Kini, benda-benda peninggalan kraton Bangkalan yang ada dalam bangunan tersebut telah habis. Hanya tinggal bangunan kraton sendiri, itu pun kondisinya sudah rusak.

Sejumlah warga yang pernah menghuni bangunan kuno tersebut menyatakan, itu bekas Kraton berdasarkan ornamen yang ada di dalam bangunan tersebut.

Bahkan, di setiap bagian atas daun pintu terdapat lambang Cakraningrat seperti yang disampaikan Ipda Imron, salah seorang personel Polres Bangkalan yang juga pernah menghuni bangunan kuno tersebut.

"Dulu di sana banyak lukisan dan gambar-gambar kuno yang merupakan peninggalan zaman kerajaan. Tapi karena catnya diganti, maka semuanya habis," kata Imron menjelaskan.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Bangkalan, Saad Ashari.

"Tapi kalau saat ini bangunan kuno yang dulunya memang merupakan bekas Kraton Bangkalan itu sudah menjadi milik pribadi warga berdasarkan bukti sertifikat, kami tidak bisa berbuat banyak lagi," katanya.

Artikel Terkait

•Catatan Dari Kongres I Bahasa Madura (2)
•Catatan Dari Kongres I Bahasa Madura (1)
•Batik Tulis Pamekasan Berkibar dari Desa Klampar
•Kesenian Tradisional Macapat Terancam Punah

Sumber: www.abdazis.info, Jumat, 10 Februari 2012

Label: , , , , , , ,

Pak Noer di Hati Keluarga, Kerabat, dan Sahabatnya

Sangat Peduli dengan Pendidikan Anak-Anak Miskin


Pak Noer lama bertugas di Bangkalan. Dari jadi patih (1950) hingga menjadi bupati (1965). Banyak kenangan dan peninggalannya lestari sampai kini.

AKU anak TK, YKK namanya,
Jaksa Agung jalannya, di Bangkalan letaknya,
diasuh guru tercinta, dipimpin oleh Bu Yayuk,
pembina kita bapak tercinta, Bapak Mohammad Noer


Sepenggal syair itu adalah mars TK YKK (Taman Kanak-Kanak Yayasan Kesejahteraan Kanak-Kanak) Bangkalan. Mars ini sering dinyanyikan anak didik di TK YKK yang menyebut nama Pak Noer. Karena selain pendiri, sesepuh Madura itu merupakan pembina TK yang telah berdiri lebih dari setengah abad itu.

Sesekali Pak Noer tersenyum saat mendengar syair itu dan berkata, "Aduh...aduh.....namaku kok disebut-sebut." Kata-kata itulah yang sering diungkapkan Pak Noer setelah mendengar syair mars TK YKK yang selalu dinyanyikan ketika Pak Noer datang. Kedekatan almarhum dengan anak-anak hingga kini masih belum bisa dilupakan oleh para pendidik di TK tersebut.

Saat koran ini mendatangi gedung yang dipenuhi anak-anak berusia antara 4-5 tahun itu, separo gedung masih bangunan tua. Setelah masuk ke dalam ruangan, di tiap dinding, meja, dan rak buku dipenuhi dengan foto salah seorang putra terbaik Madura yang wafat Jumat (16/4) lalu itu.

Kepala TK YKK Hj Sri Wahyuni yang biasa dipanggil Bu Yayuk yang didampingi Kepala TK YKK II Siti Junaidah menceritakan, TK YKK dibangun Pak Noer saat menjabat patih di Bangkalan 60 tahun silam. Awalnya TK dibangun untuk anak-anak yang orang tuanya tidak mampu. Tujuannya, ikut mencerdaskan anak miskin. Sebab, saat itu hanya anak kalangan orang kaya yang mampu mengenyam pendidikan di tingkat paling rendah sekalipun.

"Jadi, beliau memang perhatian pada pendidikan anak, terutama anak yang tidak mampu," ujarnya.

Diceritakan, TK YKK sudah berganti nama sebanyak tiga kali. Awalnya bernama TK Kebon Raya, saat berdiri dan dipimpin sekaligus dibina secara langsung oleh Pak Noer. Kemudian berganti nama menjadi TK Tauladan dan akhirnya sampai sekarang berganti nama menjadi TK YKK. Pergantian nama itu untuk mengokohkan tujuan pertama pendirinya, bahwa lembaga ini sebagai media untuk menyejahterakan anak Indonesia. "Terutama yang latar belakang ekonominya miskin," jelas Yayuk.

"Tapi hingga terakhir pada 2006 Pak Noer datang ke sini, beliau tetap bilang TK Bon Raya. Mungkin karena nama itu sudah mendarah daging bagi Bapak," ungkapnya.

Namun, diakuinya, setelah mengalami kemajuan, TK YKK menjadi pilihan bagi orang-orang berduit. Meski demikian, tetap tidak melupakan tujuan awalnya untuk pendidikan dan mencerdaskan anak miskin.

Menurut Yayuk, di antara pesan yang selalu diucapkan Pak Noer untuk mengembangkan lembaga tersebut, antara lain pendidikan agama anak harus selalu diutamakan. Bersainglah secara sehat dengan TK yang lain, tingkatkan prestasi dan kreativitas anak. Sedangkan pesan bagi guru-gurunya agar menghadiri undangan siapa pun dengan tepat waktu, disiplin kerja, dan olahraga.

Diceritakan, berdasarkan data buku induk, tiga putra putrinya Pak Noer alumni TK YKK, dalam buku induk itu ditulis, pada 1951 Syaifuddin masuk TK saat Pak Noer masih menjadi patih di Bangkalan dengan gaji Rp 600. Pada 1954 Syaifurrahman juga masuk TK itu saat Pak Noer masih menjadi patih dengan gaji Rp 900. Sedangkan pada 1956 saat putrinya masuk TK YKK, Pak Noer sudah menjadi bupati dengan gaji Rp 1000. "Yang saya heran dengan gaji sebesar itu, beliau masih mendirikan TK dengan memberi gaji para guru dari uangnya sendiri," ungkapnya.

Masa tugas yang cukup lama di Bangkalan meninggalkan kenangan yang tidak bisa dilupakan. Sebagai pejabat dan pemimpin, Pak Noer dikenal dekat oleh ulama dan rakyat.

KH Zubair Muntasor, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Kholil Demangan, Bangkalan, cerita, saat menjabat sebagai bupati, jika diundang siapa saja Pak Noer tetap hadir. Saking merakyatnya, dia lebih sering berjalan kaki daripada naik mobil.

Kiai Zubair cerita, dalam sebuah kejadian, Pak Noer pulang dari Kec Sepulu menuju Bangkalan. Di tengah jalan seorang penjual es lilin menghentikan kendaraannya untuk menumpang. Pak Noer mempersilakan si penjual es itu masuk mobil. Bahkan, Pak Noer mengantarkannya hingga sampai rumahnya di Bangkalan.

"Sangat sulit mencari pemimpin yang menghargai rakyat bawah seperti beliau sekarang ini," ujar Kiai Zubair yang ditemui koran usai salat jenazah Pak Noer (17/4).

Almarhum juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang dekat dengan ulama. Terutama dengan almarhum RKH Makmun Imron, cucu Syaichona Moh. Cholil. Kiai Zubair cerita, pada 1964 Pak Noer tidak pernah absen menghadiri tahlilan wafatnya RKH Moh. Imron, putra Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. "Saat itu beliau juga berjalan kaki dari pendapa ke tempat tahlilan," katanya.

Terkait kebijakan dan rencana pembangunan daerah, menurut Kiai Zubair, Pak Noer selalu koordinasi dan meminta petunjuk kepada ulama. Sehingga, kebijakan-kebijakannya mendapat dukungan penuh dari masyarakat Bangkalan. "Bahkan, terkait rencana pembangunan Jembatan Suramadu, beliau sebelumnya minta izin kepada ulama," ungkapnya.

Menurut dia, selama menjadi bupati dan Gubernur Jawa Timur, Pak Noer tidak ada tanda-tanda korupsi dan nepotisme. (MOH. AMIRUDDIN)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 22 April 2010

Label: , ,

Suramadu Pengungkit Potensi Ekonomi Madura

Jembatan Suramadu yang beroperasi sejak 12 Juni 2009 membuat Jawa-Madura tidak lagi bergantung pada transportasi laut. Perjalanan dari Jawa ke Madura atau sebaliknya sudah bisa dilakukan melalui darat.

Meski demikian, keberadaan jembatan tersebut belum bisa menjawab persoalan-persoalan pertumbuhan kesenjangan sosial ekonomi wilayah Madura. Bangunan fisik kokoh hanya berfungsi sebagai sarana penghubung tanpa adanya kebijakan pemerintah setempat dan Badan Pengelola Wilayah Suramadu.

Rencananya Jembatan Suramadu digunakan sebagai infrastruktur pendukung kawasan perindustrian terintegrasi di Madura, khususnya Bangkalan. Namun, tidak berarti hanya Bangkalan yang bakal berkembang dengan keberadaan Suramadu. Tiga wilayah lainnya, yaitu Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, pun diharapkan demikian.

Dari kajian tingkat spesialisasi (LQ Share) dan daya saing (LQ Shift) sektor ekonomi yang dilakukan Litbang Kompas, empat wilayah di Madura mempunyai spesialisasi pada sektor primer, khususnya pertanian. Daripada wilayah-wilayah lain di Jawa Timur, Sumenep, Pamekasan, dan Sampang berturut-turut menduduki posisi tiga besar nilai LQ Share pertanian.

Pertanian tanaman bahan makanan, perkebunan, dan peternakan menjadi unggulan pertanian Madura. Meski tidak semua wilayah di Madura menjadi produsen unggulan pertanian, hasilnya merupakan penyumbang utama pangan di Jawa Timur.

Tembakau, misalnya, banyak dihasilkan di Pamekasan dan Sumenep. Pada tahun 2008, produksinya mencapai 10.620 ton dan 8.834 ton. Angka produksi tersebut mengalahkan produksi tembakau Jember yang hanya menghasilkan 8.152 ton. Jenis tembakau Madura yang mempunyai aroma khas banyak digunakan oleh industri-industri rokok, seperti Gudang Garam, Sampoerna, dan Djarum.

Jagung juga banyak dihasilkan di Madura. Luas panen jagung di Madura di atas 40 hektar. Namun, tidak semua menghasilkan produksi yang tinggi. Produksi jagung tertinggi Jatim dihasilkan di Sumenep. Tahun 2008, produksinya mencapai 295.735 ton.

Dari sektor peternakan, sapi potong Sumenep juga cukup unggul. Populasi sapi jenis Brahman tahun 2008 terbesar se-Jatim (226.368 ekor). Meski populasinya tertinggi, produksi dagingnya tidak besar karena sapi Sumenep lebih banyak digunakan untuk karapan sapi, kontes sapi sono, dan membajak sawah.

Keunggulan jagung, tembakau, dan sapi potong Madura terbukti mempunyai keunggulan kompetitif dengan produk pertanian wilayah-wilayah lain di Jawa Timur. Nilai daya saing pertanian wilayah Madura lebih dari satu, bahkan nilai Sumenep dan Pamekasan menduduki peringkat kedua dan keempat se-Jawa Timur.

Sektor primer lainnya yang juga menjadi spesialisasi Bangkalan dan Sumenep adalah penggalian dan pertambangan. Nilai LQ Share-nya cukup tinggi, antara empat sampai lima dan ada di posisi ketiga dan keempat Jatim.

Tidak mengherankan karena di wilayah Pulau Pagerungan Besar terdapat tambang minyak yang per harinya bisa menghasilkan 11,74 juta barrel minyak dan kondesat, serta 947 juta kaki kubik gas. Gas yang dihasilkan dari Kepulauan Sumenep itu 60 persen disuplai ke kawasan industri Jawa Timur, seperti Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik, melalui pipa bawah laut. Migas juga dihasilkan di Sampang. Tambang yang berlokasi di lepas Pantai Camplong tersebut diperkirakan bisa dioperasikan 6-8 tahun dengan kapasitas produksi 20.000 barrel per hari.

Minyak dan gas alam Sumenep dan Sampang juga mempunyai keunggulan kompetitif dibandingkan dengan wilayah lain di Jatim. Nilai daya saing penggalian Sumenep dan Sampang di atas 1,5; ada di posisi ketiga dan keempat setelah Bojonegoro dan Tuban.

Spesialisasi ekonomi

Meski sektor pertanian Madura mempunyai tingkat spesialisasi lebih tinggi dari wilayah lain, tidak semua wilayah menunjukkan kecenderungan meningkat. Nilai spesialisasi pertanian di Pamekasan dan Sumenep selama delapan tahun terakhir cenderung meningkat. Hal ini dapat dilihat dari nilai daya saingnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai spesialisasinya.

Kecenderungan spesialisasi pertanian di Bangkalan dan Sampang menurun. Sebaliknya, kecenderungan spesialisasi industri di wilayah barat Madura tersebut meningkat, meski nilai spesialisasinya masih di bawah satu. Hal ini mengindikasikan mulai terjadi pergeseran konsentrasi sektor ekonomi, khususnya Bangkalan dari pertanian ke industri. Industri yang mulai berkembang di Bangkalan yaitu pengolahan pangan, batik, kimia dan bahan bangunan, logam serta kerajinan. Ini merupakan embrio untuk pengembangan industri berbahan baku lokal.

Melalui pemetaan sektor-sektor unggulan wilayah-wilayah Madura, diharapkan bisa lebih mudah menentukan arah pengembangan ekonomi di Madura. Jembatan Suramadu yang telah dibangun dengan biaya ratusan miliar akan bisa menjadi sarana penghubung aliran pertumbuhan ekonomi dari Jawa ke Madura. (M Puteri Rosalina/Litbang Kompas)

Sumber: Kompas, Selasa, 6 April 2010

Label: , , ,

Ulama Pegang Peran Strategis

Ulama atau kiai merupakan patron sangat penting bagi masyarakat Madura. Keterpatuhan masyarakat terhadap kiai sangat tinggi. Untuk itu, pelaksanaan pembangunan di Madura, termasuk industrialisasi, harus melibatkan kiai sejak awal.

Adalah pandangan yang sangat keliru bahwa kiai menolak industrialisasi di Madura. Jika kiai bersikap kritis terhadap rencana pemerintah melakukan industrialisasi di Madura, hal itu karena kiai tak ingin industrialisasi berdampak pada peminggiran masyarakat secara sosial ekonomi. Kiai tidak ingin hal itu berdampak pada perusakan moral religiositas.

Namun, kiai juga diharapkan membuka cara pandang terhadap industrialisasi sehingga tidak terjebak pada persepsi bahwa industrialisasi identik dengan kemaksiatan. Macetnya proses industrialisasi di Madura sejak dicanangkan Gubernur Jawa Timur Muh Noer pada akhir dekade 1970-an karena nuansa ”apriori” dari sebagian kiai.

Demikian benang merah pemikiran yang terpintal dalam diskusi panel ”Madura Pasca-Jembatan Suramadu” yang diselenggarakan Kompas di Gedung Kompas Gramedia Surabaya, 23 Maret.

Tampil sebagai panelis adalah Wakil Bupati Bangkalan KH Syafik Rofii; Kepala Badan Pengembangan Wilayah Suramadu Eddy Purwanto; pengamat ekonomi yang juga putra Madura, Didik J Rachbini; Pengasuh Pondok Pesantren Al Amien, Prenduan, Sumenep, KH Achmad Fauzi Tijani; dan sosiolog Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Ekna Satriyati. Moderatornya adalah Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya Hotman M Siahaan. Diskusi dihadiri sekitar 100 orang dari pelbagai kalangan, seperti santri, akademisi, dan pengusaha.

Membakar

Fauzi mengatakan, penghormatan masyarakat Madura terhadap kiai bisa dilihat dari ungkapan, buppa’-bhabbu, ghuru’, rato dalam arti bapak-ibu, guru atau kiai, dan ratu atau pemerintah. Artinya, penghormatan utama diberikan kepada bapak-ibu, kiai, baru kemudian pemerintah.

Dalam kehidupan masyarakat Madura, khususnya di pedesaan, menurut lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, itu, kedudukan dan peranan kiai sangat besar. Pengaruhnya melampaui batas pengaruh institusi-institusi kepemimpinan yang lain, termasuk birokrasi pemerintah. Kiai menjadi tempat mengadu, konsultasi, serta mohon restu hampir semua urusan, mulai dari soal perkawinan, pengobatan penyakit, mencari rezeki, sampai mendirikan rumah.

”Pak Zaini dari Sumenep punya cara menggambarkan bagaimana kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap kiai. Katanya, kalau saja kiai itu bisa menjadi nabi, orang Madura tetap saja percaya. Kalau ada orang menyanggahnya, masyarakat langsung marah dan membakar orang itu,” kata Fauzi.

Ia menambahkan, apa yang dikatakan kiai akan langsung diikuti atau sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami patuhi). ”Kadang-kadang masyarakat tidak berhitung baik atau tidak,” kata Fauzi lagi.

Sekitar 70 persen masyarakat Madura itu, lanjutnya, pernah nyantri (menjadi santri). Walau pagi bersekolah di SD umum, sorenya ngaji kepada kiai. Jadi, betapa pengaruh kiai ada pada mayoritas masyarakat Madura.

Kiai sebenarnya cukup responsif terhadap gagasan pemerintah untuk melakukan industrialisasi Madura. Untuk itulah para kiai berhimpun dalam Badan Silaturahim Ulama Pesantren Madura (Bassra). Lembaga ini mengawal dan menjaga agar industrialisasi tidak sampai meruntuhkan tatanan moral religiositas masyarakat Madura.

Pada 14-15 Desember 1993, Bassra mengadakan seminar di Pondok Pesantren Syaichona Cholil, Bangkalan. Seminar itu merupakan sikap kritis dan hati-hati para kiai. Berdasarkan pengalaman setelah diajak Menteri Negara Riset dan Teknologi BJ Habibie melihat industrialisasi di Batam, ternyata hal itu membuat rakyat setempat hanya menjadi kuli di atas tanah sendiri, tumbuh subur tempat- tempat maksiat. Para kiai dengan tegas menolak Madura dibatamisasi.

Lantas, terjadilah pertentangan keras antara Habibie dan ulama Madura. ”Sampai Pak Habibie bilang, ’Kalau tidak ada industrialisasi, maka tidak ada Jembatan Surabaya-Madura’. Para kiai menjawab, ’Kalau begitu, yang monggo’,” cerita Fauzi.

Sampai sekarang, sikap kiai tetap istiqomah (konsisten) terhadap rumusan Bassra yang diperkuat dengan Deklarasi Sampang 3 April 2006. ”Walau ulama menempati posisi sentral dalam masyarakat, membangun Madura tidak cukup hanya mengandalkan peran ulama. Harus ada kerja sama ulama, pemerintah, dan masyarakat,” kata cucu pendiri Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, KH Achmad Zarkasyi, itu.

Diskotek

Didik sependapat dengan Fauzi. Menurut dia, kiai tak bisa dikesampingkan dalam industrialisasi Madura. ”Kiai itu power. Sekarang bagaimana harus memanfaatkan power itu sebagai collective action untuk pembangunan Madura. Tapi, kiai juga harus berubah. Tidak bisa lagi mempertahankan kultur simbolik karena itu menjadi kendala pembangunan masyarakat Madura,” katanya.

KH Syafik Rofii menyampaikan otokritik bahwa pandangan kiai juga harus bertitik tolak dari sisi rakyat. Artinya, industrialisasi merupakan keniscayaan yang harus dilakukan untuk memperbaiki sosial ekonomi rakyat yang mayoritas masih di bawah garis kemiskinan.

Masalahnya sekarang, bagaimana rakyat memperoleh penghasilan. Sektor pertanian sulit bisa diharapkan untuk meningkatkan taraf hidup. Jadi, kiai tidak boleh hanya melihat dari dirinya sendiri.

”Industrialisasi belum dilakukan, tapi sudah diputus akan menyuburkan maksiat. Ini bagaimana? Di Madura memang tidak ada diskotek, tapi di Surabaya ada diskotek yang pengunjungnya khusus orang Madura,” papar mantan Sekretaris Bassra itu.

Gagal

Hotman mengingatkan tentang gagalnya industrialisasi di Bangkalan awal dekade 1980-an. Pada waktu itu, taipan Liem Sioe Liong alias Om Liem hendak membangun pabrik semen di Bangkalan. Untuk itulah dia mulai membangun Universitas Bangkalan yang diharapkan menjadi salah satu pusat penyiapan sumber daya manusia.

Namun, kemudian ada tuntutan yang luar biasa dari para kiai di luar konteks industrialisasi. ”Akhirnya Om Liem mundur. Dia juga tidak jadi membesarkan Universitas Bangkalan,” kata Hotman. (ANO/ABK)

Sumber: Kompas, Selasa, 6 April 2010

Label: , ,

K H Moch Kholil Bangkalan

K H Moch Kholil adalah guru utama yang men­cetak banyak ulama besar di Jawa Timur. Sam­pai sekarang, meski sudah meninggal, ba­nyak ulama yang mengaku belajar secara gaib dengan Mbah Kholil. Banyak cara dilakukan untuk belajar kitab secara gaib dari ulama ter­sohor ini. Salah satunya dengan berziarah ser­ta bermalam di makam beliau. Seperti pernah dikisahkan KH. Anwar Siradj, pengasuh PP. Nurul Dholam Bangil Pasuruan. Saat mempelajari kitab Alfiyah, beliau menga­lami kesulitan. Padahal kitab yang berupa gramatika Bahasa Arab tersebut, merupakan kunci untuk mendalami kitab-kitab lain.

Kiai Anwar sudah mencoba berguru kepada kiai-kiai besar di hampir semua penjuru Jawa Timur. Tapi hasilnya nihil. Suatu ketika, se­perti dikisahkan ustadz Muhammad Salim (santri Nurul Dholam), Kiai Anwar dapat pe­tunjuk, agar mempelajari kitab alfiyah di ma­kam Mbah Kholil. Petunjuk gaib itu pun dilaksanakan. Selama sebulan penuh Kiai Anwar ziarah di makam, Mbah Kholil Bangkalan. Di makam itu dia mem­pelajari kitab alfiyah. "Akhimya Kiai Anwar bisa menghafal Alfiyah," jelas Ustadz Salim.

Banyak ulama generasi sekarang yang meski tidak pernah ketemu fisik dan bahkan lahirnya jauh sesudah Mbah Kholil meninggal, me­ngakui kalau perintis dakwah di Pulau Madura ini adalah guru mereka. Bukan guru secara fisik, melainkan pembimbing Mbah Kholil sempat menimba Ilmu di Mekah selama belasan tahun. Satu angkatan dengan KH. Hasyim Asy'ari. Selevel di bawahnya, ada KH. Wahab Chasbullah dan KH. Muhammad Dahlan. Ada tradisi di antara kyai sepuh zaman dulu, meski hanya memberi nasihat satu kalimat, tetap dianggap sebagai guru. Demikian juga yang terjadi di antara 4 ulama besar itu. Me­reka saling berbagi ilmu pengetahuan, sehing­ga satu sama lain, saling memanggilnya se­bagai tuan guru.

Menurut KH. Muhammad Ghozi Wahib, Mbah Khohil paling dituakan dan dikeramatkan di antara para ulama saat itu. Kekeramatan Mbah Kholil, yang sangat terkenal adalah pasukan lebah gaib. "Dalam situasi kritis, beliau bisa mendatang­kan pasukan lebah untuk menyerang musuh. Ini sering beliau perlihatkan semasa perang melawan penjajah. Termasuk saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya," katanya.

Kiai Ghozi menambahkan, dalam peristiwa 10 November, Mbah Kholil bersama kiai-kiai besar seperti Bisri Syansuri, Hasyim Asy'ari, Wahab Chasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon, mengerahkan semua kekuatan gaib­nya untuk melawan tentara Sekutu.

Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua untuk menghadapi lawan yang ber­senjatakan lengkap dan modem. Sebutir kerikil atau jagung pun, di tangan kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom berdaya ledak besar. Tak ketinggalan, Mbah Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu dengan menge­rahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang, konsen­trasi lawan buyar.

Saat konsentrasi lawan buyar itulah, peju­ang kita gantian menghantam lawan. "Hasilnya terbukti, dengan peralatan seder­hana, kita bisa mengusir tentara lawan yang senjatanta super modern. Tapi sayang, peran ulama yang mengerahkan kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan," papar Kiai Ghozi, cucu KH Wahab Chasbullah ini.

Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Pernah ada peristiwa aneh saat beliau me­ngajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. "Tiba-tiba baju dan sarong beliau basah kuyub," cerita Ghozi.

Para santri heran, sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngloyor masuk rumah, ganti baju. Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil.

"Kedatangan nelayan itu membuka tabir, temyata saat memberi pengajian, Mbah Kho­lil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pe­cah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam se­kejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu," papar Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani, Ngemplak, Sleman ini.

Sumber: Hamdani Lubis

Label: , , ,