Unesa Meneliti Masyarakat Sumenep

JAUH sebelum Jembatan Suramadu akhirnya dibangun, sudah ada penelitian mengenai tanggapan masyarakat menerima pengembangan pariwisata pada tahun 1978. Penelitian tersebut dipusatkan di Sumenep. Pasalnya, kabupaten paling timur dianggap daerah yang paling baik untuk pengembangan aset wisatanya. Pantai Slopeng dan Lombang yang berpasir putih sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata lokal maupun internasional.

Demikian diungkapkan oleh Sja'roni yang saat itu terlibat langsung dalam penelitian tersebut. Menurut dia, tanggapan dari masyarakat Sumenep atas penelitian yang dilakukan atas kerjasama IKIP Surabaya (sekarang Unesa) dan IAIN Sunan Ampel saat itu cukup beragam.

"Ada yang menerima supaya pariwisata di sana (Sumenep, Red) dikembangkan. Dengan catatan, jangan sampai kemaksiatan lahir dan tumbuh subur. Tapi, ada juga yang mentah-mentah menolak. Karena tak mau kemaksiatan seperti di daerah lain berkembang di Sumenep," paparnya sambil memerbaiki peci hitamnya.

Lalu, bagaimana hasil akhirnya? Dijelaskan, penelitian yang melibatkannya merupakan penelitian kolektif untuk mendapatkan gambaran daerah mana yang bisa dikembangkan sebagai wilayah pariwisata. Maka, hasil hitung tak menjadi bagian terpenting dalam penelitian tersebut. Namun, secara kualitatif sudah memberikan gambaran untuk mengetahui daerah mana yang bisa dikembangkan sebagai tujuan wisata. "Pembangunan apa pun kan tidak mungkin terjadi kalau masyarakatnya menolak. Selain itu, hasil penelitian yang saya lakukan itu bisa jadi alat untuk memberikan pemahaman pada masyarakat," tutur pria berkacamata ini.

Menurut dia, sesungguhnya kekhawatiran terhadap perkembangan maksiat di Madura seharusnya tidak berlebihan. Sebab, maksiat mudah sekali dipatahkan dengan adanya komitmen bersama untuk berpegang teguh pada ajaran agama. Dia pernah sangat menyesal juga ketika tokoh ulama di Madura sempat menolak adanya pembangunan Jembatan Suramadu. Padahal, pembangunan jembatan tersebut sebenarnya adalah impian semua warga Madura.

"Beruntung para ulama dan kiai di Madura akhirnya bisa menerima pembangunan jembatan itu. Kalau tidak begitu kapan Madura akan maju," katanya bersemangat.

Perubahan, lanjutnya, mau tidak mau harus dilalui dengan kerja keras. Di kalangan agama, kerja kerasnya dalam bentuk memertahankan budaya religius masyarakat. "Tapi ini bukan cuma tugas ulama saja. Semua harus terlibat," imbaunya.

"Kalau saya sendiri melihat Jembatan Suramadu itu lebih banyak positifnya. Bayangkan, saya melakukan penelitian di Sumenep tahun 1978, ketika Suramadu masih ada di awang-awang. Tapi, masyarakat sudah bermimpi agar ada jembatan Jawa-Madura meski hanya sebatas untuk menyeberang saja," ungkapnya.

Apa pun, sambungnya, akan meningkat dengan adanya jembatan tersebut. Mulai dari bisnis besar hingga usaha kecil-kecilan milik masyarakat pedesaan. Pabrik, hotel, rumah makan, tempat pariwisata akan laku dijual dan akan meningkatkan perekonomian masyarakat. "Yang perlu diingat. Agar tidak disisihkan dalam pembangunan dan perubahan, masyarakat Madura harus pintar. Sekolahnya jangan hanya sampai tsanawiyah atau aliyah saja," imbau dosen dakwah ini.

"Saya saja sekarang sudah berumur 63 tahun, tapi masih ingin belajar dan mendapat gelar doktor," imbuhnya.

Bagi Sja'roni, apa yang dilakukannya adalah untuk memberi contoh pada warga Madura lain agar tak berhenti menuntut ilmu hingga tua. Dia menambahkan pula, di Madura para ulama seharusnya memberi contoh pada santri dan masyarakatnya agar memiliki kemauan belajar. Keterbatasan dana dan biaya jangan dianggap sebagai penghalang lagi. Sebab, sudah waktunya generasi muda berkreasi sendiri untuk memeroleh pendidikan tingkat tinggi. "Saya yakin hanya ulama yang punya wawasan luas yang akan melakukan hal itu. Makin luas wawasan ulama, pasti makin tinggi pula kemauannya untuk mengarahkan masyarakat supaya berpendidikan," tegasnya. (nra/ed)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 20 November 2008

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda