HM Sja'roni,
Ahli Hukum Islam dan Tafsir Alquran

Sering Menjadi Tempat Curhat Warga Madura

Penggalan sejarah kolonial Belanda dan Jepang tak bisa dipungkiri menjadi alasan tersebarnya warga Madura hingga wilayah Jawa. Terutama di daerah Tapal Kuda, basis warga Madura cukup mendominasi. Keturunan warga Madura yang terpaksa melakukan perjalanan jauh waktu itu pun akhirnya harus tumbuh bukan di habitat aslinya. Tapi, mereka tetap warga Madura. Punya sanak saudara di Madura dan hidup dengan identitas kemaduraannya.

AIR seperti begitu saja ditumpahkan dari langit ketika Koran ini sampai di pintu gerbang Institut Agama Islam Negeri (IAIN) terbesar di Surabaya, Sunan Ampel. Padahal, siang itu langit tak terlalu gelap dan hujan sudah jatuh sebelum turun lagi. Tak pelak, mahasiswa yang mengira hujan tak akan turun lagi berhamburan mencari tempat untuk berteduh. Satpam penjaga pintu keluar pun terpaksa menghentikan tugasnya dan membiarkan sepeda motor keluar masuk tanpa diperiksa STNK-nya.

Bersama Koran ini ada juga beberapa mahasiswa yang nekat menerobos derasnya hujan. Sesekali ada pengendara yang terpaksa turun dari sepeda motor dan merelakan sepatunya basah kuyup karena terjebak genangan air. Kemarahan karena hujan yang turun tiba-tiba harus ditahan, karena marah pun tak akan mengeringkan pakaian dan sepatu yang sudah kepalang basah.

Akhirnya Koran ini berhasil sampai di fakultas dakwah. Berbekal informasi dari seorang alumni fakultas tersebut, Koran ini langsung memertanyakan keberadaan Drs HM. Sja'roni, MAg. "Pak Sja'roni ada di gedung sebelah Mas. Dia menjabat Ketua Jurusan Manajemen Dakwah, nomor teleponnya silakan dilihat sendiri di luar," ujar salah seorang pegawai tata usaha sambil menunjukkan sederetan nama pegawai dan dosen lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.

"Saya sedang ada di bagian buku, silakan Anda menunggu saya di ruangan MD (Menajemen Dakwah, Red). Sebentar lagi saya ke sana," kata Sja'roni dari balik telepon genggamnya saat dihubugi Koran ini.

Begitu hujan reda, Sja'roni terlihat berjalan dari gedung lain yang ada di sebelah barat fakultas dakwah. Dia terlihat berjalan cepat sambil berusaha menghindari genangan air. "Mari, mari silakan masuk ruangan saya," sambutnya lantas mengambilkan kursi untuk Koran ini.

"Orangtua saya dua-duanya berasal dari Pamekasan yang merantau di Probolinggo. Kata mereka (orang tua Sja'roni, Red.) Madura waktu itu tak memungkinkan untuk dijadikan lahan pertanian," terangnya.

Sesampainya di Probolinggo, kedua orangtuanya, (Alm.) Muntaha dan Masturoh, lantas mencari sebidang tanah untuk bertani. Kepemilikan tanah itulah awal cerita mengapa keluarganya harus tinggal dan menetap di Probolinggo.

"Beberapa tahun sebelum kemerdekaan, Jepang kan menjajah Indonesia. Mereka (penjajah Jepang, Red) tidak memerbolehkan orang luar Jawa punya tanah di Jawa. Sehingga, untuk memertahankan hidup, orangtua saya harus tinggal di Jawa (Probolinggo, Red). Jadi, sejak itu orangtua saya jarang sekali ke Madura," paparnya.

Tanggal 13 Agustus 1945, 4 hari sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya Sja'roni dilahirkan di tempat orangtuanya menetap tersebut. Meski lahir di luar Madura, pendidikan ala Madura tetap berlaku bagi Sja'roni muda kala itu. Yaitu, memercayakan pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren.

Pendidikan Islam pertama yang dijalani olehnya dimulai dari ibtidaiyah di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Lalu, mondok di Ponpes Sidogiri Pasuruan, SP IAIN Pasuruan dan melanjutkan sekolah tinggi di IAIN Sunan Ampel Surabaya. "Sejak Indonesia merdeka saya sudah sering dibawa ke Pamekasan menemui sanak saudara di sana. Nah, setelah dewasa makin sering saya ke Madura. Selain mengunjungi keluarga di Pamekasan saya juga ke Sampang, karena istri saya orang asli Sampang," ungkapnya tersenyum.

Meski tak lahir dan dibesarkan di Madura, alumni Ponpes Sidogiri ini tetap dikenal sebagai orang Madura. Dia dikenal sangat akrab dengan warga Madura yang ada di sekitar rumahnya. Bahkan, sisi Maduranya juga menjadikannya seorang tokoh ulama di tempat tinggalnya. Mengisi pengajian, memberikan ceramah dan menjadi takmir masjid adalah kesibukannya di luar jam mengajarnya sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Islam.

"Kalau ada apa-apa saya sering dijadikan tempat curhat. Terutama oleh warga Madura yang ada di sekitar rumah. Biasanya untuk menyelesaikan masalah rumah tangga hingga masalah pembagian waris. Kebetulan saya memang lulusan fakultas hukum Islam (Syariah, Red), jelas bapak yang dikaruniai 2 anak ini. (NUR RAHMAD AKHIRULLAH)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 20 November 2008

Baca juga:
Unesa Meneliti Masyarakat Madura
Madura Harus Punya Alquran Sendiri

Label: , ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda