'Toron' Tak Ada, Berubah Jadi 'Loros'

Suasana sepi terasa begitu memasuki ruangan kantor PT Pewete Bahtera Kencana. Dalam ruangan yang pertama kali menyapa adalah sebuah meja kayu cukup tinggi penuh dengan aneka barang. Ada tas, jaket, topi, vas - bunganya warna ungu - serta folder-folder perusahaan.

Terdengar samar-samar suara orang tengah berdiskusi. Sebuah meja berada di sebelah kanan pintu masuk ruangan. Seorang karyawan berpakaian warna biru laut duduk memegang ponselnya. Jemarinya aktif menekan tombol ponsel sambil mempersilakan duduk.

”Sekarang saya juga ikutan khawatir dengan pekerjaan saya,” kata pria itu.

Di dadanya tertulis ”Arin Sudarno”. Dia mengaku baru bekerja selama 2,5 tahun di perusahaan yang mengoperasikan 2 feri rute Ujung-Kamal ini.

Ari sebenarnya sudah punya pekerjaan lumayan bagus, bergabung sebuah perusahaan pelayaran di Jakarta. Namun karena ingin dekat dengan orangtua yang tinggal di Nganjuk, dia pun pindah ke Surabaya. Arin tidak menyesali pilihannya, hanya cemas pada masa depannya. Perusahaan sudah memutuskan merumahkan 23 karyawannya. ”Katanya nasib kami akan ditentukan awal bulan depan. Ndak tau bagaimana nasib saya nanti,” ujarnya, pasrah.

Cemas dan pasrah memang menjadi warna utama di kantor itu. Perasaan itu menimpa banyak orang, tak terkecuali karyawan senior, Fachruddin. Dia sendiri tak tahu harus berbuat apa karena tidak ada aktivitas sama sekali di kantor PT Pewete sendiri. Di ruang operasional, praktis hanya tersisa dua orang saja, sedangkan di lapangan perusahaan menyiagakan dua orang juga. Di ruangan itu, juga tidak ada aktivitas berarti kecuali berdiskusi atau sekedar bergurau.

”Dua kapal milik PT Pewete Bahtera Kencana hanya diparkir di Dermaga 2 Pelabuhan Ujung. Untuk antisipasi siapa tahu ada ledakan penumpang seperti Minggu lalu,” ujar pria yang sudah bekerja untuk PT Pewete sejak 1985 itu.

Melihat sepinya pengguna jasa, pria asal Salatiga itu bisa maklum atas keputusan perusahaan merumahkan 23 orang karyawannya. Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana nasib perusahaan yang jadi topangan hidupnya selama 20 tahun terakhir itu. Udin, panggilan akrabnya, mengaku bingung dengan sikap pemerintah yang tidak segera mengambil langkah cepat. Menggantungnya sikap pemerintah membuat perusahaan tidak bisa mengambil tindakan tegas atas nasib karyawan.

”Mestinya pemerintah segera lihat dulu, turun ke sini. Baru diputuskan seperti apa,” tuturnya.

Dengan kondisi yang masih terkatung-katung seperti ini, baik Udin maupun Arin memilih menunggu keputusan perusahaan. Kekhawatiran jelas terpancar di wajah para karyawan PT Pewete. Kekhawatiran yang sama tampak jelas di wajah karyawan perusahaan lain sesama operator feri di Selat Madura.

Tanya saja Junaedi, karyawan operasional PT Dharma Lautan Utama. Pria berkumis ini khawatir kelanjutan pekerjaannya karena Pelabuhan Ujung makin sepi saja.

Pria yang tinggal di Kampung Baru, Kamal, Bangkalan ini mulai mempertimbangkan nasib terburuk: kena PHK.

”Kalau kondisinya seperti ini terus, ya bisa-bisa nasib saya sama seperti (karyawan) yang dirumahkan itu,” ujarnya.

Junaedi pun menatap kapal milik perusahannya yang terpaks aberlayar dalam kondisi melompong. Hari itu, Kamis (25/6), hanya ada sebuah mobil dan beberapa sepeda motor yang diangkut.

”Padahal sebelum Jembatan Suramadu dibuka, satu trek bis amengangkut 20 mobil dan puluhan sepeda motor, belum lagi penumpang orang (individual),” katanya, mengenang. ”Jangan-jangan nanti tidak ada tradisi toron lagi (pulang ke Madura naik feri), tapi loros (lurus) lewat Jembatan Suramadu,” katanya. (Nani Mashita)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 25 Juni 2009

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda