Catatan Dari Kongres I Bahasa Madura (1)


Penutur Bahasa Madura, baik yang berdiam di dalam maupun di luar pulau Madura saat ini diperkirakan di atas 10 juta orang.

Karena itu pembinaan terhadap Bahasa Madura harus dilakukan sebagai upaya pelestarian dan pengembangan agar bahasa tersebut bisa memberikan sumbangan yang berharga bagi pengembangan budaya bangsa.

Inilah yang menjadi salah satu landasan pemikiran tokoh dan pemerhati Bahasa Madura menggelar Kongres I Bahasa Madura pada 15 hingga 19 Desember 2008 di Kabupaten Pamekasan.

Written By Abdul Aziz

Kongres diikuti 250 peserta tetap, utusan dari empat kabupaten di Madura, serta kabupaten lain di Jawa Timur yang mayoritas penduduknya juga berbahasa Madura, seperti Situbondo, Bodowoso dan Kabupaten Jember.

Menurut Sekretaris Panitia, Halifaturrahman, Kongres I Bahasa Madura yang digelar minggu kedua Desember sebenarnya merupakan rekomendasi dari Kongres Kebudayaan yang digelar di Kabupaten Sumenep, 9 hingga 11 Maret 2007. Semula rekomendasikan Kongres Bahasa agar digelar September. Tapi oleh panitia ditunda dengan alasan berbagai kesibukan.

"Tapi pada bulan Oktober kondisi perpolitikan di Madura karena Pilgub Jawa Timur digelar dua kali putaran tidak memungkinkan, maka ditunda pada bulan November hingga akhirnya terealisasi pada bulan Desember ini," katanya.

Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai pada pelaksanaan Kongres yang bertema "Revitalisasi Pembinaan dan Pelestarian Bahasan dan Sastra Madura", tersebut. Selain untuk melestarikan bahasa dan sastra Madura yang akhir-akhir ini cendrung mulai pudar, juga untuk merumuskan sejumah agenda penting Madura terkait pembangunan di Madura pasca terselesainya jembatan Suramadu, serta perumusan Ejaan Bahasa Madura yang disempurnakan, berikut penyempurnaan kamus Bahasa Madura.

Selama ini, kata Halifaturrahman, memang sudah ada kamus dan tata bahasa yang ditulis oleh perorangan. Tapi sebagian kalangan menganggap belum mewakili keseluruhan kebutuhan warga Madura. Terutama terkait dengan perbedaan dialek, struktur kata dan istilah yang ada di masing-masing daerah.

Bupati Pamekasan Drs. Kholilurrahman menyatakan, Bahasa Madura merupakan salah satu dari sembilan bahasa daerah besar di bumi Nusantara ini. Penutur Bahasa Madura diperkirakan diatas 10 juta orang, namun ada yang menyebut 13 juta.

"Jumlah yang tidak sedikit. Oleh karenanya pembinaan terhadap Bahasa Madura harus dilakukan. Dalam arti perlu ada upaya pelestarian dan pengembangan agar Bahasa Madura bisa memberikan sumbangan yang berharga bagi pengembangan budaya bangsa," katanya.

Peneliti dari LIPI, Prof.Dr. Mien A Rifai menyatakan, di antara bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia, Bahasa Madura merupakan salah satu bahasa terbesar keempat setelah Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda dari segi jumlah penuturnya. Tapi perkembangannya dalam dasawarsa terakhir ini memang sangat memprihatinkan.

Penyebabnya, kata dia, salah satunya akibat adanya kebijakan dari pemerintah pusat yang mengharuskan Bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa pengantar dalam bidang pendidikan.

"Karena hampir tidak diajarkan lagi sebagaimana mestinya, lama kelamaan Bahasa Madura tidak dikuasai oleh generasi muda Madura. Begitu juga buku dan karya tulis lain dalam Bahasa Madura tidak diterbitkan atau diproduksi lagi secara terprogram sehingga merupakan bahan yang terhitung langka," kata lelaki kelahiran Sumenep 68 tahun lalu itu.

Mantan Ketua Badan Pertimbangan Bahasa Depdiknas periode 2002-2007 itu menjelaskan, selain karena kebijakan pemerintah pusat yang mengharuskan para guru mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi menggunakan pengantar Indonesia, sebab lainnya adalah, selama ini sangat jarang bahkan nyaris tidak ada karya ilmiah ataupun buku-buku yang diterjemahkan ke Bahasa Madura.


Malu Berbahasa Madura

Kongres I Bahasa Madura yang digelar di Pamekasan mulai tanggal 15 hingga 19 Desember 2008, tidak hanya menyusun kamus dan ejaan Bahasa Madura yang disempurnakan. Lebih dari itu, peserta juga membahas hal-hal lain yang menyebabkan Bahasa Madura cenderung kurang diminati, baik oleh kalangan pemuda ataupun para orang tua.

Akhmad Sofyan, dari Fakultas Sastra Universitas Jember (Unej) menyatakan, alasan lain yang menyebabkan orang Madura enggan menggunakan bahasanya sendiri, karena mereka merasa malu menggunakan Bahasa Madura. Sangat jarang Bahasa Madura digunakan di ruang publik, layaknya Bahasa Jawa.

"Sebagai bahasa daerah, seharusnya Bahasa Madura mempunyai tiga fungsi, yakni sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah dan alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah," katanya.

Selama ini, lanjut penulis buku 'Tatabahasa Bahasa Madura' ini, ketiga fungsi tersebut sudah jarang ditemukan. Bahasa Madura hanya cenderung menjadi alat komunikasi di ranah domestik, dalam keluarga dan sesama tetangga.

Kendatipun demikian, di ranah domestikpun Bahasa Madura juga jarang dipraktekkan. Para orang tua, katanya, lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, bukan dengan Bahasa Madura.

"Yang memprihatinan, saya pernah berjumpa dengan salah satu keluarga di Madura ini, bahwa berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Madura di ruang publik katanya merasa tidak percaya diri. Artinya dia itu malu berbicara bahasa daerahnya sendiri. Malah lebih bangga menggunakan Bahasa Jawa," terangnya.

Menurut Akhmad Sofyan, fenomena seperti itu bukan hanya terjadi di wilayah tertentu, tapi sudah menggejala di semua kabupaten di Madura.

Sri Ratnawati, staf pengajar di Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, menilai kecendrungan generasi Madura meninggalkan bahasa ibunya dan memilih Bahasa Indonesia karena Bahasa Madura dianggap sebagai bahasa kelas ekonomi menengah ke bawah dan tidak berpendidikan.

"Jadi ada semacam anggapan bahwa mereka yang menggunakan Bahasa Madura hanya orang-orang terbelakang. Jadi kecenderungannya adalah prestise dan gaya hidup," katanya.

Terancam punah

Adanya keharusan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, yang pada akhirnya menyebabkan adanya kecenderungan kalangan generasi muda Madura meninggalkan bahasanya sendiri, tentu saja akan berdampak terhadap punahnya Bahasa Madura.

Kekhawatiran semacam ini menyebabkan sebagian tokoh, para akademisi, seniman dan budayawan di Madura mendirikan lembaga-lembaga pembinaan khusus Bahasa Madura. Salah satunya seperti yayasan Pakem Maddhu, hingga akhirnya menggelar Kongres Bahasa Madura sebagai upaya untuk melestarikan Bahasa dan Sastra Madura.

Menurut Wakil Bupati Pamekasan Drs. Kadarisman Sastrodiwirdjo, Kongres I Bahasa Madura di Pamekasan itu sebenarnya merupakan tindak lanjut dari Kongres Kebudayaan Madura yang digelar di Kabupaten Sumenep pada tanggal 9-11 Maret 2007.

"Salah satu rekomendasinya waktu itu agar digelar Kongres Bahasa Madura. Sebab hasil kajian teman-teman peserta Kongres waktu itu Bahasa Madura sudah jarang digunakan dan orang Madura sendiri banyak yang tidak bisa berbahasa dengan baik dan benar," katanya. (bersambung)

Artikel Terkait
Sumber: www.abdazis.info, Jumat, 10 Februari 2012

Label: , , , , , , , , , , , , , , ,

Warga Miskin Turun 35,76 per sen

Dalam banyak kesempatan Bupati Kholil menegaskan bahwa selama dua tahun memimpin Pamekasan dia membagi menjadi dua tahap. Tahun pertama sebagai tahun penjajakan dan tahun kedua dinamakan dengan tahun awal mulai bekerja. Dan tahun ketiga adalah tahun akselerasi pembangunan yang akan dimulai tahun 2010 ini. Pada tahun pertama dan kedua sudah banyak prestasi yang dicapai oleh keduanya, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun bidang lainnya.

Oleh Masdawi Dahlan

Dalam bidang ekonomi Pamekasan bisa menurunkan angka kemiskinan. Jumlah warga miskin di Pamekasan selama dua tahun terakhir ini menurun signifikan. Pada tahun 2008 lalu dari jumlah penduduk sebanyak 835.101 jiwa, yang tergolong miskin sebanyak 354.271 jiwa atau sekitar 43,62%. Namun pada tahun 2009 lalu jumlah penduduk miskin turun sekitar 35,76% atau menjadi 234.019, atau sekitar 27,48% dari jumlah total penduduk yang mencapai 851.690 jiwa.

Selain berhasil menurunkan angka kemiskinan, Pamekasan selam dua tahun terakhir ini juga berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Pada tahun 2008 angka pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan 16,18% dibandingkan tahun 2007 yakni dari 4,76% naik menjadi 5,53%. Dan pada tahun 2009 naik lagi menjadi 5,63%, sehingga angka pertumbuhan ekonomi Pamekasan berada diatas Jawa Timur yang berada dalam kisaran 4,9%.

“Kalau kita cermati bersama dengan sekalipun dengan kemampuan keuangan yang serba terbatas, dari tahun ke tahun terhadap anggaran yang kita belanjakan, ternyata kita mampu merangsang untuk menaikan performance kondisi ekonomi makro kita. Ini tentunya tidak lepas dari hasil kerja kita kita bersama selama dua tahun ini, “ kata Bupati Kholil saat membuka Musrenbang Kabupaten awal April lalu.

“Yang paling membanggakan kita adalah bahwa dari hasil kerja keras selama dua tahun Pamekasan telah membawa hasil yaitu dari hasil evaluasi Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal, kabupaten Pamekasan termasuk daerah yang naik peringkat. Pada tahun 2009 jumlah desa tertinggal turun menjadi 77 desa dari 144 desa pada tahun 2006,” tambahnya.

Kondisi ekonomi makro tahun 2009 meskipun terjadi defelasi sebesar 3,01%, akan tetapi aktifitas ekonomi di masyarakat tidak stagnan. Hal tersebut dapat dilihat dari tingkat PDRB tahun 2009 yang mengalami kenaikan sebesar 10,58% yaitu dari Rp 3,80 trilyun pada tahun 2008 menjadi Rp 4,21 triliyun pada tahun 2009. Begitu juga pendapatan perkapita mengalami kenaikan sebesar 6,88% yaitu dari Rp 4,28 juta pada tahun 2008, naik menjadi Rp 4, 58 juta pada tahun 2009.

Meski demikian berdasar dinamika ekonomi tersebut, dalam menghadapi pembangunana tahun anggran 2011 mendatang Bupati Kholil berharap kepada seluruh SKPD agar memprioritaskan programnya pada kegiatan yang penduduk miskinnya masih tinggi dan wilayah yang kondisi infrastrkturnya tertinggal, sehingga akan dapat mengurangi kesenjangan antara wilayah satu dengan lainnya.

Kondisi penduduk miskin di Pamekasan tiap kecamatan tidak merata, paling tinggi terdapat dikecamatan Proppo yaitu sebanyak 37.645 jiwa atau sekitar 47% dari jumlah total penduduknya. Terendah ada di wilayah kecamatan Galis yakni sebanyak 4.012 jiwa atau sekitar 13,19% dari jumah total penduduk yang ada dikecamatan tersebut.

Dalam hubungan antar elemen masyarakat Kholil dan Kadarisman berhasil mengakrabkan antar elit masyarakat utamanya antara para alim ulama dan antara ulama dan umara. Alim ulama yang sempat berjarak dengan pemerintah pada era kepeminpinan bupati sebelumnya dapat bersatu kembali dan bisa banyak bersinergi mendampingi dan mendukung perjalanan dan program pemerintahan.

Prestasi non ekonomi yang dicapai Kholil dan Kadarisman adalah berbagai penghargaan, diantranya sebagai daerah kabupaten penggerak koperasi katagori berhasil, sebagai daerah yang berhasil dalam peningkatan produksi beras nasional. Dibidang pertanian Kelompok Tani Jaya Makmur Desa Dempo Timur terpilih sebagai Kelompok Tani terbaik nasional bidang agrobisnis bawang merah. Juga Kelompok Tani Srikuning Kecamatan Galis sebagai Kelompok Tani terbaik Nasional bidang peternakan. Pamekasan juga dapat penghargaan sebagai daerah yang kreatif membuat terobosan program bidang kesehatan.

Di bidang pendidikan pada tahun 2009 lalu, dua orang siswa SMAN 1 Pamekasan atas nama M Sahibul Maromy dan Ali Ikhsanul Qauli berhasil meraih medali perunggu dalam Olimpiade Fisika Internasional tingkat Asia yang dilaksanakan April 2009 di Bangkok Tailand dan kini keduaya kembali menjadi duta Indonesia pada event yang sama di Taiwan 23 sampai 30 April mendatang.

Di bidang penegakan hukum, Kejari Pamekasan terpilih sebagai Kejari Terbaik dalam penanganan kasus korupsi. Sedangkan yang tercapai dalam bidang keamanan Pamekasan berhasil mendapat penghargaan sebagai daerah yang berhasil menangani potensi konflik dengan baik dan dinilai terbaik dalam hal resolusi konflik.

Yang menarik pada tahun kedua memimpin Pamekasan, Bupati Pamekasan Drs KH Khalilurrahman SH MSi memiliki kesibukan humanis lain diluar tugas pokoknya, yakni mengunjungi warganya yang menderita penyakit akut dan penyakit aneh lainnya. Mereka kemudian dibantu penyembuhannya dengan tanpa dipungut biaya alias gratis. Hingga kini sudah sekitar 50 orang penderita berbagai penyakit di 13 Kecamatan yang berhasil ditangani melalui kegiatan ini.

Banyaknya warga yang mengalami penyakit akut karena dibiarkan sejak awal penyakit itu menjangkit, sehingga menjadi penyakit menahun sulit disembuhkan. Hal itu terjadi disebabkan oleh faktor ekonomi lemah, keterbatasan membangun akses dengan rumah sakit dan lemahnya pengetahuan tentang pentingnya kesehatan. Para penderita penyakit itu ada yang bisa diatasi oleh RSUD Pamekasan ada juga yang harus dirujuk ke Surabaya.

Di antara yang sudah berhasil ditangani dan sembuh total adalah Moh Ramadan (5) anak warga miskin asal Desa Rang-perang Daja Kecamatan Proppo, penderita hernia akut yang diderita sejak dilahirkan. Juga Maryono (40), lelaki miskin tuna wicara warga Desa Ceguk Kecamatan Tlanakan, kini sudah bisa sembuh total dari hernia akut yang dideritanya sejak puluhan tahun.

Apa yang dilakukan Bupati Kholil ternyata mendapat respon positif dan apresiasi positif dari Kementerian Kesehatan RI dan Kementrian Sosial RI. Bupati Kholil mengatakan apa yang dilakukannya tidak lain hanya untuk membantu melayani kebutuhan warganya. Karena ekonomi, kekurangan akses ke rumah sakit dan tidak faham tentang makna kesehatan, banyak penderita penyakit yang dibiarkan saja hingga parah dan sulit disembuhkan.

Sumber: Surabaya Post, Senin, 19 April 2010

Label: , , , ,

Mendata Potensi, Prediksi dan
Upaya Menggaet Investasi

Plt Ketua Bappeda Pamekasan Bambang Edy Supraptop SH MM dalam laporannya mengatakan bahwa dalam UU Penanaman Modal secara tegas mengamanatkan daerah untuk membuat RUPM. Penanaman modal menjadi bagian dari menyelenggaraan perekonomian daerah dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Oleh Masdawi Dahlan

“Tujuan penyelenggaraan penanaman modal dapat tercapai apabila factor penunjang yang menghambat iklim penanaman modal dapat diatasi, antara lain melalui perbaikan koordinasi antar instansi pemerintah pusat dan daerah, penciptaan birokrasi yang efesien, kepastian hukum di bidang penanaman modal, biaya ekonomi yang berdaya saing, serta iklim usaha yang kondusif dibidang ketenagakerjaan,” katanya.

Fasilitas penanaman modal, lanjut bambang, diberikan dengan mempertimbangkan tingkat daya saing perekonomian dan kondisi keuangan dan harus promotif dibandingkan dengan fasilitas yang diberikan. Pentingnya kepastian fasilitas penanaman modal ini mendorong pengaturan secara lebih detail terhadap bentuk fasilitas fiscal, hak atas tanah, imigrasi dan perizinan impor.

Penyusunan RUPM Pamekasan dibingkai dengan bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisi penanaman modal di Kabupaten Pamekasan, yaitu kondisi tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan acaman yang dihadapi dalam rangka penanaman modal saat ini dan masa datang. Juga untuk mendapatkan gambaran yang jelas menganai desain Pelayanan Perijinan Penanaman modal.

Mendapatkan gambaran yamg jelas mengenai sektor dan produk unggulan untuk investasi. mendapatkan strategi dan kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan daerah investasi, sektor dan produk untuk investasi, infrastruktur dan standar pelayanan penanaman modal. Identifikasi bidang usaha tertutup dan terbuka dengan persyartan bidang penanaman modal.

“Setelah kajian awal ini dengan bekerjasama dengan konsultan dari Enciety Surabaya, akan dilanjutkan dengan survey lapangan, wawancara dan Forum Group Discussion tentang potret dan peluang investasi di Pamekasan sehingga akan dapat tergambar tentang potensi invesatsi, perangkat yang harus disiapkan, kendala yang dijumpai serta bagaimana mengatsinya, juga kebijakan yang harus dirumuskan,” paparnya.

Sementara itu Bupati Pamekasan Drs KH Khalilurrahman SH MSi dalam sambutannya mengungkapkan bahwa secara umum perekonomian Pamekasan siap untuk meriman datangnya investasi karena berbagai vareabel capaian pembangunan sudah sangat siginifikan, diantaranya keberhasilan Pamekasan menurunkan angka kemiskinan. Jumlah warga miskin di Pamekasan selama dua tahun terakhir ini menurun signifikan.

“Pada tahun 2008 lalu dari jumlah penduduk sebanyak 835.101 jiwa, yang tergolong miskin sebanyak 354.271 jiwa atau sekitar 43,62 %. Namun pada tahun 2009 lalu jumlah penduduk miskin turun sekitar 35,76 % atau menjadi 234.019, atau sekitar 27,48 % dari jumlah total penduduk yang mencapai 851.690 jiwa,” ungkapnya.

Selain berhasil menurunkan angka kemiskinan, Pamekasan selam dua tahun terakhir ini juga berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Pada tahun 2008 angka pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan 16,18 % dibandingkan tahun 2007 yakni dari 4,76 % naik menjadi 5,53 %. Dan pada tahun 2009 naik lagi menjadi 5,63 %, sehingga angka pertumbuhan ekonomi Pamekasan berada diatas Jawa Timur yang berada dalam kisaran 4,9 %.

“Yang paling membanggakan kita adalah bahwa dari hasil kerja keras selama dua tahun Pamekasan telah membawa hasil yaitu dari hasil evaluasi Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal, kabupaten Pamekasan termasuk daerah yang naik peringkat. Pada tahun 2009 jumlah desa tertinggal turun menjadi 77 desa dari 144 desa pada tahun 2006,” tambahnya.

Kondisi ekonomi makro tahun 2009 meskipun terjadi defelasi sebesar 3,01 prosen, akan tetapi aktifitas ekonomi di masyarakat tidak stagnan. Hal tersebut dapat dilihat dari tingkat PDRB tahun 2009 yang mengalami kenaikan sebesar 10,58 prosen yaitu dari Rp 3,80 trilyun pada tahun 2008 menjadi Rp 4,21 triliyun pada tahun 2009. Begitu juga pendapatan perkapita mengalami kenaikan sebesar 6,88 prosen yaitu dari Rp 4,28 juta pada tahun 2008, naik menjadi Rp 4, 58 juta pada tahun 2009.

Memiliki Banyak Potensi yang Tak Ternilai

Kresnayana Yahya dalam paparannya mengungkapkan Pamekasan memiliki banyak potensi SDA yang yang bisa dikembangkan secara optimal bisa memancing hadirnya investor. Potensi itu meliputi bidang pertanian, perkebunan, perikanan tambang dan lain sebagainya. Dia juga mengakui tentang pertumbuhan ekonomi Pamekasan yangpada tahun 2009 naik 5,67 % atau diatas rata rata Jatim. Dari segi SDM Pamekasan lebih unggul dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Madura. Jumlah berpendidikan terakhir SLTA keatas mencapai diatas 12 %.

Terkait dengan potensi ekonomi Pamekasan tahun 2010, Madura menjadi basis pertanian tanaman pangan di Jawa Timur terutama Pamekasan. Potensi tanaman pangan antara lain padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kadele, kacanag tanah, kacang hijau, sorgum, sayuran dan buah buahan.

Potensi padi yang bisa dikembvangkan pengembangan Rice Mailing Unit (RMU), peningkatan produksi, mutu pengolahan, pengawasan dan distribusi. Produksi padi diatas 9000 ton/tahun. Sementara jagung tahun 2008 produksi 97 ribu ton, diserap local, untuk pakan ternak dan sebagian saja yang dipasarkan regional. Kondisi struktur tanah dan cuaca cocok untuk jagung.

Potensi yang bisa dikembangkan jagung dengan investor adalah bentuk kemitraan, yaitu dalam bentuk penyediaan pupuk, bibit dan lain sebagainya. Usaha industri tepung, industri makanan ringan, dan industri pakan ternak, industri minyak goreng berbahan jagung. Ekspor jagung tahun 2008 sebanyak 390 ribu ton naik drastis banding tahun 2007 yang hanya 135 ribu ton.

Bawang merah, potensi ini ada di 8 kecamatan. Pamekasan punya varietas bawang merah unggul namanya bawang merah manjung yang diakui menjadi bawang merah vairitas unggul nasional. Potensi bisa dikembangkan dari komuditas ini adalah peningkatan produksi, peningkatan lahan dan distribusi. Cabe rawet, luas lahan 6.431 ha dan menghasilkan 1.566 ton/tahun. Potensi yang bias dikembangkan meningkatkan produksi dan perbaikan distribusi, lebih dipasarkan untuk industri pembuatan bahan makanan jadi, atau dikelola jadi saus sambal instant.

Potensi perkebunan ada dua yakni komoditas tanaman semusim dan tahunan. Komoditas tanaman semusim antara lain tembakau, jahi, laos, kunyit, kunci, kencur, temu lawak, temu ering. Sedangkan potensi tanaman tahunan antara lain adalah kelapa, jambu mente, cabe jamu, pinang, asam jawa, siwalan kopi, agave dan lada. Cabe jamu produksinya rata rata 532 ton/tahun. Ini bisa dikembangkan pengadaan mesin otomatis untuk mengolah cabe jamu jadi berbagai jenis jamu, pemasaran produski yang lebih baik, pemasaran dan distribusi.

Tembakau Pamekasan terbaik di Madura. Arealnya mencapai 30 ribu ha denga produski rata 16 ribu ton. Atau sekitar 30 persen dari total Jatim. Pemasarannya pasar regional, nasional dan internasional, kususnya pabrik rokok. Seluruh kecamatan potensi tanaman tembakau.

Potensi kelapa, luas areal 5.233 ha dan produksi pada tahun 2008 mencapai 4.913 ton. Ada di di 7 kecamatan. Perlu optimalisasi produksi, pengembangan jenis produski industri yang berbahan baku kelapa, misalnya minyak kelapa, dan peralatan rumah tangg lainnya dengan sistem kemitraan. Jambu mente ada di 5 kecamatan. Yakni Waru, Batumarmar, Kadur, Pakong dan Pasean. Rata rata produksinya lebih dari 4 ribu ton/tahun dengan luas areal perkebunan 1.670 ha.

Sapi potong. Populasinya 97.970, produski daging 1.911 ton/tahun. Jumlah rumah potong 31 unit, sapi yang masuk rumah potong 10.423. Pemasarannya di luar daerah hingga Jakarta. Peternakan dapat penghargaan dari Presiden RI. Sapi juga menjadi unggulan budaya daerah yakni Sapi Sonok dan Kerapan Sapi.

Untuk menaikkan produksi daging Pamekasan membuat program Satu Tahun Satu Tahun Kelahiran (Sata Saka) dengan kawin suntik sapi Madura dengan sapi Limosin yang hasilnya dinamai sapi Madrasin. Sampai saat ini ada 1.392 akseptor dan 700 ekor sapi Madrasin dengan harga jual Rp 25 juta/ekor. Sementara potensi ayam petelur untuk pasar local tiap hari 10 ton, sementara tiap hari hanya 1,9 ton.

Potensi unggulan perikanan. Ikan layang, teri, tongkol cakalang, peperek merupakan komuditas unggulan. Tangkapan mencapai 12.267 ton/tahun dengan nilai produksinya Rp 180 miliar. Ikan teri nasi memiliki nilai jual tinggi karena tembus pasar internasional. Potensi lainnya adalah rumput laut. Dengan produksi rata rata 500 ton/tahun, tambak bandeng dan udang dengan sekitar 300 ha. Hingga kini lahan yang digunakan untuk tambak udang vaname baru 3,95 ha dengan prodfuski 20 ton.

Potensi garam total luas 2.900 ha. Produski 180 ribu ton/tahun, mampu produksi garam premium 500 ton/tahun. Merupakan penghasil terbesar di Indonesia setelah Sumenep. Ada di tiga kecamatan yakni Pademawu, Galis dan Tlanakan.

Batik tulis Pamekasan ada di 11 kecamatan. Dengan 1200 sentra batik yang masing masing memiliki 5 sampai 10 orang pengrajin batik. Terbesar ada dikecamatan Proppo dan Palengaan. Produksi rata rata 165 ribu lembar/tahun dengan omzet sekitar Rp 12 miliar. Selain memenuhi pasar regional nasional juga untuk pasar ekspor.

Investasi Hotel dan Restoran Sangat Dibutuhkan

Seiring dengan tuntutan pasca beroperasinya Suramadu Kresnayana Yahya menyarankan Pamekasan harus kreatif menyusun program peningkatan ekonomi yang bisa menarik investor. Diantara bidang investasi baru yang menarik adalah bidang hotel dan pariwisata. Saat ini kata dia tiap minggu ada 50 ribu orang luar yang masuk ke Madura. 18 perusahaan bus tiap minggu lakukan kunjungan ke Madura. Ini tentu membutuhkan fasilitas hotel, rumah makan dan pariwisata. Untuk itu maka investasi bidang produk unggulan dan sarana prasarana lainnya sangat penting.

“Saat ini suplai barang misalnya kebutuhan ritel dan lainnya sangat cepat. Karena itu butuh sarana gudang penyimpanan barang, maka kredit perbankan dan perijinan harus mudah dan cepat.Orang Madura itu tidak miskin selama ini namun kurang kerjan, jika semua ini dikembangkan maka akan bergerak dan bangkit. Investasi harus tampak dari naiknya kegiatan ekonomi,” katanya.

Seiring dengan itu maka SDM harus dipersiapkan juga. Lembaga pendidikan kejuruan atau SMK harus ditingkatkan. Jurusan yang dibuka juiga harus sesuai dengam tuntutan masyarakat dan perubahan, misalnya pertanian, perkebunan dan peternakan. Hotel harus ditambah kalau perlu sampai ada yang bintang lima untuk menyesuaikan dengan kebutuhan investasi.

Sementara untuk mengatasi kebuntuhan tata niaga tembakau maka perlu diupayakan pemanfaatan tembakau untuk non rokok, seperti untuk bahan baku minyak atsiri yang nilai ekonominya tinggi dan kebutuhan pasar internasional sangat besar juga. Pamekasan harus bisa mensinkronkan program pembangunan sejalan dengan tuntutan investasi dan lapangan kerja.

”Semua elemen harus tahu tentang pentingnya investasi, karena itu harus ada sosialisasi kepada semua elemen utamanya kalangan ulama dan lain sebagainya. Orang Madura banyak potensi punya bakat namun banyak yang bodoh, makanya cari jalan keluar. Melalui investasi Madura akan jadi maju dan kuat. Madura akan lebih baik dari Bali," tandasnya.

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 22 April 2010

Label: , , , , ,

Yang 'Ngejreng' dan Memikat dari Madura


Madura tidak hanya identik dengan garam atau karapan sapi. Kepulauan berpenduduk 3,6 juta jiwa itu juga memiliki kekayaan yang di wariskan turun-temurun berupa keterampilan membatik. Sebuah karya seni bercita rasa tinggi.

Sentra batik tersebar di pesisir pulau seluas 5.304 kilometer persegi itu, mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep. Setiap hari ada ribuan lembarkain batik dengan berbagai corak yang dihasilkan di sana.

Oleh NASRU ALAM AZIZ

Motif klasik, seperti carcena, sisik malaya, sisik amparan, atau sekoh, memang tak pernah sirna. Meski demikian, perajin batik rumahan yang tersebar di desa juga rajin mengikuti selera pasar. Mereka menciptakan batik kontemporer dengan motif yang disebut inul, manohara, suramadu, bahkan SBY.

Motif inul meliuk-meliuk, mengingatkan orang pada gerakan goyang ngebor penyanyi Inul Daratista. Motif manohara meniru motif busana yang sering dikenakan artis Manohara Odelia Pinot. Motif yang relatif baru adalah suramadu yang didominasi sulur sulur mirip tali-tali bentangan Jembatan Suramadu (yang menghubungkan Surabaya dengan Madura). Selain itu, ada juga motif SBY, yang merupakan duplikasi dari motif batik yang dikenakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan Jembatan Suramadu.

Tak dapat dimungkiri, batik Madura menemukan momentumnya ketika Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dengan Pulau Jawa diresmikan pada Juni 2009 dan kemudian United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization (UNESCO) mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.

”Setelah Jembatan Suramadu diresmikan, omzet saya naik lebih dari 100 persen,”cerita Muafi, pemilik usaha Ideal Batik Madura di Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

Terbesar di Pamekasan

Desa Klampar merupakan produsen batik terbesar di Pamekasan. Dari dua dusun, Banyumas dan Batubaja, terdapat tidak kurang dari 600 perajin batik rumahan, termasuk sekitar 80 pengusaha batik yang mempekerjakan rata-rata 12 orang.

Dari dua dusun itu, setiap pekan lebih dari 5.000 lembar kain batik Madura menyebar hingga Surabaya dan kota lainnya.

Sentra batik lainnya yang terkenal adalah Pekandangan dan Pragaan di Kabupaten Sumenep serta Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan.

Jika ingin membeli batik Madura di pasar, salah satu yang bisa dikunjungi adalah Pasar Tujuh Belas Agustus di Pamekasan. Pada hari pasar, Kamis dan Minggu, salah satu blok yang berisi lebih dari 100 lapak penuh dijejali pedagang batik.

Pedagang menggelar kain batik di atas selembar tikar atau disampirkan pada seutas tali rafia yang diikatkan pada pilar-pilar pasar berkonstruksi kayu. Blok pasar batik bersebelahan dengan blok pedagang beras dan rempah-rempah yang senyap dan pasar hewan yang hiruk-pikuk.

Sepanjang pukul 07.00 hingga pukul 11.00, pasar batik tradisional ini menjadi lahan perburuan pembeli dengan partai besar, baik dari Jawa maupun daerah lain di Madura.

Harga kain batik di pasar itu relatif murah karena sebagian penjualnya adalah perajin. H Hasbullah, perajin batik tulis asal Desa Klampar, mencontohkan, selembar kain batik tulis yang ia jual Rp 55.000 di Pamekasan, setelah sampai di Surabaya, dipasarkan dengan harga Rp 125.000. Cukup fantastis perbedaan harganya.

Batik Madura memang memiliki daya pikat tersendiri, antara lain pada pewarnaannya yang tajam atau lebih dikenal dengan istilah ngejreng. Dalam selembar kain, misalnya, bisa muncul warna yang kontras, yang tidak mungkin ditemukan pada kain batik pedalaman ataupun pesisiran di Jawa.

”Batik Madura sangat ekspresif ketimbang batik Jawa pada umumnya. Teknik coletan lebih banyak digunakan di Madura. Itu ekspresif. Kalau tampak kasar atau tidak rapi mencoletnya, itulah karakter batik Madura.Jangan dibilang batik murahan,” kata Ketua Komunitas Batik Surabaya Lintu Tulistyantoro. Selembar kain batik Madura, lanjutnya, bisa menggambarkan kebebasan masyarakat dalam berekspresi.

Ciri pesisiran pada batik Madura tampak pada motif yang lebih memunculkan unsur laut, seperti sisik ikan, kerang, atau sulur rumput laut.

Dari segi teknik pembuatan, lanjut Lintu, salah satu yang khas adalah batik gentongan. Jenis ini hanya ditemukan di Tanjung Bumi, Bangkalan. Keistimewaannya, semakin lama warnanya makin cerah. Batik jenis ini adalah yang termahal di Madura. Di tingkat perajin, harganya jutaan rupiah per lembar.

Faiqah Esmail, pemilik usaha batik Fiesta Madura di Pamekasan, menilai batik adalah berkah. Dari selembar kain batik, banyak orang menggantungkan hidupnya, mulai dari yang mendesain, menggambar, membatik mencelup, melorot (membilas dengan air mendidih untuk meluruhkan malamnya), sampai memasarkan. Itulah sebabnya Faiqah tak pernah berhenti memproduksi batik, sesuai pesan ayahandanya.

Sumber: Kompas, Sabtu, 10 April 2010

Label: , ,

Pesona Batik Madura

Melongok Keindahan di Pulau nan Gersang

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN
Salah satu sudut pasar tradisional batik di Pasar Tujuhbelas Agustus, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (7/2). Sampai saat ini sebagian besar perajin batik di Pamekasan masih setia membuat batik tulis.

Memasuki Pulau Madura, terhampar ribuan hektar tanah kapur yang keras dan kering. Namun, saat masuk salah satu sudut Kabupaten Bangkalan atau Kabupaten Pamekasan, keramahan penduduk dan keindahan batik tulis Madura akan jadi kejutan pesona.

Oleh A Budi Kurniawan dan Nina Susilo

Sambil menyapa dengan ramah, Supik Amin (50), pemilik gerai batik Tresna Art di Jalan Muhammad Cholil, Bangkalan, mempersilakan para pengunjung mencicipi minuman kopi Madura dan pisang rebus tepat di depan pintu masuk toko. ”Ini kopi khas Madura, rasanya beda karena diseduh dengan kayu manis dan rempah-rempah. Silakan dinikmati, ini gratis,” ucapnya ramah.

Suasana semakin nyaman karena lantunan musik khas Madura menggema dari sudut ruangan.

Gerai batik Tresna Art mulai ramai sejak beroperasinya Jembatan Suramadu, Juni 2009. ”Omzet saya naik hingga tiga kali lipat. Paling ramai biasanya hari Jumat, Sabtu, dan Minggu,” kata Supik, yang saat itu sedang dikunjungi pembeli asal Padang.

Untuk mendapatkan koleksi dagangan, Supik memburu batik hampir di seluruh penjuru Madura. Salah satu tempat yang sering ia kunjungi adalah Pasar Tujuhbelas Agustus di Pamekasan.

Arif (50), pedagang batik di pasar itu, sebenarnya bekas penjual sate di sekitar Mal Pondok Indah, Jakarta, tiga tahun lalu. Ia bahkan pernah menjadi buruh bangunan. Namun, karena biaya hidup di Jakarta begitu tinggi, ia memutuskan pulang ke Pamekasan setelah menikah. Pasalnya, istrinya adalah pembatik dan pedagang batik. ”Hasilnya lebih banyak batik. Kalau bukan hari pasaran, saya bisa jual batik di pasar lain. Apalagi setelah Jembatan Suramadu jadi. Banyak orang luar Madura berbelanja ke Pamekasan,” kata Arif.

Pasar Tujuhbelas Agustus merupakan sentra penjualan batik khas Madura. Pasar ini hanya buka pada hari pasaran, yaitu Kamis dan Minggu. Pada hari itulah pasar batik Tujuhbelas Agustus ramai dikunjungi masyarakat Pamekasan dan pembeli partai besar dari Jawa.

Namun, berbeda dengan gerai batik Tresna Art, jual-beli di Pasar Tujuhbelas Agustus berlangsung dalam suasana pasar desa yang bernuansa tradisional. Pedagang menggelar dagangan di lantai, atau memajang kain di tali yang direntangkan di sembarang tempat. Harap maklum, tak banyak pedagang yang fasih berbahasa Indonesia.

Di Pasar Tujuhbelas Agustus, sebagian besar pedagang menjual batik tulis. Bagi para perajin ataupun pembeli, batik tulis dikategorikan sebagai batik kelas ningrat yang harganya berlipat-lipat dibandingkan dengan batik cap pabrikan. Jika harga batik cap Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per potong, harga batik tulis bisa mencapai Rp 400.000 per potong, bahkan tidak sedikit pedagang yang membawa batik tulis halus seharga Rp 1,5 hingga Rp 2 juta per potong.

Di bagian belakang

Terletak di bagian belakang Pasar Tujuhbelas Agustus, orang harus melewati los pasar kambing, ayam, dan itik, untuk sampai di los batik. Di dalam pasar beratap genteng dan beralas lantai tanah ini, 70-an pedagang batik menjajakan sejumlah corak kain dan baju batik.

Bahrul Ulum (30), perajin sekaligus pedagang batik, mengatakan, karakter batik tulis Madura sangat mencolok. Pewarnaannya tajam dengan dominasi kuat warna hitam dan merah.

Sifat dinamis batik Pamekasan terlihat dari keragaman motifnya, mulai dari yang paling rumit dan kuno, seperti ”sekar jagat” dan ”junjung drajat”, hingga motif ”bunga puka”, ”klampung”, ”tiga dimensi”, dan ”pancawarna”. Bahkan, berkembang pula motif baru, yaitu ”suramadu” dan ”manohara”. ”Suramadu dan manohara adalah motif baru. Disebut suramadu karena motifnya sulur-sulur seperti tali-tali Jembatan Suramadu. Disebut manohara karena motifnya meniru pakaian bintang sinetron Manohara,” kata Muslim (30), penjual di Sentra Batik Jokotole.

Sebagian perajin batik di Madura juga masih menyimpan batik tulis kuno yang dibuat dengan teknik pewarnaan alami, seperti menggunakan daun jati dan daun sawo. Satu potong kain batik kuno harganya bisa mencapai Rp 3 juta.

Wakil Bupati Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirdjo mengatakan, pemerintah kabupaten sedang membuka pasar batik Pamekasan ke luar daerah, seperti Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Targetnya, kerajinan batik dapat menjadi mata pencarian pokok warga.

Selain Bangkalan dan Pasar Tujuhbelas Agustus, sentra batik Madura juga berkembang di Desa Badung, Kecamatan Palengaan, serta Desa Toket; dan Candiburung, Kecamatan Propo, Pamekasan.

Pasar batik di Madura sangat menarik sebagai tujuan wisata belanja. Eksotisme Pasar Tujuhbelas Agustus yang hanya ramai setiap hari pasaran, Kamis dan Minggu, itu jelas memiliki daya tarik tersendiri.

Sayang, sebagian pedagang belum fasih menjelaskan kekhasan produk mereka.

Sumber: Kompas, Selasa, 16 Februari 2010

Label: , , ,

Optimalisasi dan Singkronisasi Potensi Tiga Kawasan

Dalam menjalankan program organisasi lima tahun ke depan Kadin Pamekasan akan berpijak pada dua landasan yakni antisipasi arus industrialisasi pasca dioperasikannya jembatan Suramadu dengan upaya menggairahkan iklim investasi dan memberdayakan ekonomi lokal berbasis potensi dan ketersediaan sumberdaya lokal.

Kedua eksplorasi potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia melalui pola pendekatan kawasan sehingga menjadi sentra produksi komunitas unggulan (skala prioritas berdasarkan peluang pasar) yang besar dan ketersediaan sumberdaya yang mamadai.

Oleh Masdawi Dahlan

Untuk itulah Kadin Pamekasan telah menyiapkan berbagai rencana strategis, yakni optimalisasi potensi yang dimiliki oleh semua kawasan di Pamekasan. Setidaknya Kadin Pamekasan melihat Pamekasan terbagi menjadi tiga kawasan besar, yakni kawasan Pamekasan utara, tengah dan selatan. Ketiga kawasan ini memiliki potensi yang tersendiri.

Kawasan Pamekasan utara misalnya, di ini Kadin melihat perlunya pengembangan fasilitas melalui motorisasi nelayan, pendirian depot BBM untuk memenuhi kebutuhan nelayan, perlunya pabrik es, penampungan hasil tangkapan ikan nelayan, pabrik tepung ikan dan pabrik penggilingan ikan olahan.

Sementara di wilayah kawasan Pamekasan tengah Kadin melihat bahwa kawasan ini sangat cocok untuk pusat pengembangan agro industri dan home industryDengan rincian pengembangan potensi bidang inti plasma komuditas jagung, peternakan sapi terpadu, industri batik, industri pariwisata, industri perkebunan seperti durian, rambutan, mangga dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk kawasan Pamekasan selatan, Kadin melihat yang paling cocok untuk pengembangan salt and seaweed industrial center, yang meliputi pengembangan mina garam (garam dan perikanan tambak) pengolahan rumput laut dan industri pariwisata atau tourism industrial .

Ketiga kawasan ini memiliki potensi berbeda yang perlu dikembangkan secara terencana terpadu sehingga menjadi sebuah kekuatan ekonomi Pamekasan yang dahsyat. Untuk itu dalam upaya ikut membantu mengoptimalkan dan mengeskploitasi potensi yang dimiliki Pamekasan itu, Kadin berniat untuk membangun kemitraan dengan pemerintah menyumbangkan pemikiran untuk optimalisasi potensi tiga kawasan tersebut.

Sesuai dengan fungsinya sebagai wadah berhimpun dan berkomunikasi antar pengusaha, dan antar pengusaha dengan pemerintah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah perdagangan perindustrian dan jasa, maka Kadin Pamekasan akan terlibat penuh dalam penyebarluasan informasi mengenai kebijakan pemerintah di bidang ekonomi kepada pengusaha.

Termasuk juga menyalurkan aspirasi dan kepentingan para pengusaha bidang perdagangan, perindustrian dan jasa dalam rangka keikutsertaannya dalam pembangunan di bidang ekonomi. Sehingga nanti akan menjadi gerakan bersama pemberdayaan ekonomi yang maksimal.

Kadin juga akan menyelenggarakan berbagai pelatihan dan kegiatan pembinaan dan pengembangan kemampuan internal pengusaha. Peningkatan hubungan kerjasama yang saling menunjang dan menguntungkan antar pengusaha, termasuk pengembangan keterkaitan antara bidang usaha industri dan bidang usaha ekonomi lainnya.

Dalam kerangka yang lebih luas lagi Kadin Pamekasan juga melirik kerjasama antara pengusaha lokal dengan pengusaha luar negeri seiring dengan kebutuhan pembangunan di bidang ekonomi sesuai dengan tujuan pembangunan nasional. Misalnya mencarikan jalan keluar ekspor berbagai komuditas unggulan daerah Pamekasan.

Untuk itulah promosi potensi yang dimiliki Pamekasan maupun analisa statistik dan pusat informasi usaha yang ada di dalamnya harus dilakukan secara terencana. Dan yang tak kalah pentingnya Kadin Pamekasan akan konsisten mengampanyekan upaya penyeimbangan dan melestarikan alam untuk mencegah timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan. (adv)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 21 Januari 2010

Label: , , ,

Bicara Sejarah Kota Pamekasan

Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Istilah Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke-16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.

Kemunculan sejarah pemerintahan lokal Pamekasan, diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke-15 berdasarkan sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sunoyo yang mulai merintis pemerintahan lokal di daerah Proppo atau Parupuk. Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan, Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura di Sumenep yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara.

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad 15, tidak dapat disangkal bahwa kabupaten ini lahir pada jaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri.

Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bisa dipungkiri tentang kemiskinan data sejarah karena di Majapahit sendiri telah sibuk dengan upaya mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya yang sangat besar, apalagi saat itu sastrawan-sastrawan terkenal setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra. Sedangkan pada kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra lisan dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-islam.

Tulisan-tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak menggunakan Bahasa Belanda dan kemudian mulai diterjemahkan atau ditulis kembali oleh sejarawan Madura, seperti Zainal fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, seperti tulisan pada daun lontar atau Layang Madura, namun demikian tulisan pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua abad ke-16, ketika pengaruh Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggosukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja Pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai mengembangkan Agama Islam di kraton dan rakyatnya.

Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan Se Jimat, yaitu jalan-jalan di Alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan Masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, sampai saat ini masih belum bisa diketemukan adanya inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk menentukan kepastian tanggal dan bulan pada saat pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman pemerintahan Ronggosukowati mulai dikenal sejak berkembangnya legenda kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggosukowati yang diceritakan mampu membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Aresbaya melalui peristiwa mimpi. Padahal temuan ini sangat penting karena dianggap memiliki nilai sejarah untuk menentukan Hari Jadi Kota Pamekasan.

Terungkapnya sejarah pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invansi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal dibawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh Sarjana barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH. Pigeaud tentang kerajaan Islam pertama di Jawa dan Benda tentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit, termasuk juga beberapa karya penelitian lainnya yang menceritakan sejarah Madura.

Masa-masa berikutnya yaitu masa-masa yang lebih cerah sebab telah banyak tulisan berupa hasil penelitian yang didasarkan pada tulisan-tulisan sejarah Madura termasuk Pamekasan dari segi pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan agama, mulai dari masuknya pengaruh Mataram khususnya dalam pemerintahan Madura Barat (Bangkalan dan Pamekasan), masa campur tangan pemerintahan Belanda yang sempat menimbulkan pro dan kontra bagi para Penguasa Madura, dan menimbulkan peperangan Pangeran Trunojoyo dan Ke’ Lesap, dan terakhir pada saat terjadinya pemerintahan kolonial Belanda di Madura.

Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda inilah, nampaknya Pamekasan untuk perkembangan politik nasional tidak menguntungkan, tetapi disisi lain, para penguasa Pamekasan seperti diibaratkan pada pepatah Buppa’, Babu’, Guru, Rato telah banyak dimanfaatkan oleh pemerintahan Kolonial untuk kerentanan politiknya. Hal ini terbukti dengan banyaknya penguasa Madura yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk memadamkan beberapa pemberontakan di Nusantara yang dianggap merugikan pemerintahan kolonial dan penggunaan tenaga kerja Madura untuk kepentingan perkembangan ekonomi Kolonial pada beberapa perusahaan Barat yang ada didaerah Jawa, khususnya Jawa Timur bagian timur (Karisidenan Basuki).

Tenaga kerja Madura dimanfaatkan sebagai tenaga buruh pada beberapa perkebunan Belanda. Orang-orang Pamekasan sendiri pada akhirnya banyak hijrah dan menetap di daerah Bondowoso. Walaupun‚ sisi lain, seperti yang ditulis oleh peneliti Belanda masa Hindia Belanda telah menyebabkan terbukanya Madura dengan dunia luar yang menyebabkan orang-orang kecil mengetahui system komersialisasi dan industrialisasi yang sangat bermanfaat untuk gerakan-gerakan politik masa berikutnya dan muncul kesadaran kebangsaan, masa Hindia Belanda telah menorehkan sejarah tentang pedihnya luka akibat penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing.

Memberlakukan dan perlindungan terhadap system apanage telah membuat orang-orang kecil di pedesaan tidak bisa menikmati hak-haknya secara bebas. Begitu juga ketika politik etis diberlakukan, rakyat Madura telah diperkenalkan akan pentingnya pendidikan dan industri, tetapi disisi lain, keuntungan politik etis yang dinikmati oleh rakyat Madura termasuk Pamekasan harus ditebus dengan hancurnya ekologi Madura secara berkepanjangan, atau sedikitnya sampai masa pemulihan keadaan yang dipelopori oleh Residen R. Soenarto Hadiwidjojo. Bahwa pencabutan hak apanage yang diberikan kepada para bangsawan dan raja-raja Madura telah mengarah kepada kehancuran prestise pemegangnya yang selama beberapa abad disandangnya.

Perkembangan Pamekasan, walaupun tidak terlalu banyak bukti tertulis berupa manuskrip ataupun inskripsi nampaknya memiliki peran yang cukup penting pada pertumbuhan kesadaran kebangsaan yang mulai berkembang di negara kita pada zaman Kebangkitan dan Pergerakan Nasional.

Banyak tokoh-tokoh Pamekasan yang kemudian bergabung dengan partai-partai politik nasional yang mulai bangkit seperti Sarikat Islam dan Nahdatul Ulama diakui sebagai tokoh nasional. Kita mengenal Tabrani, sebagai pencetus Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mulai dihembuskan pada saat terjadinya Kongres Pemuda pertama pada tahun 1926, namun terjadi perselisihan faham dengan tokoh nasional lainnya di kongres tersebut. Pada Kongres Pemuda kedua tahun 1928 antara Tabrani dengan tokoh lainnya seperti Mohammad Yamin sudah tidak lagi bersilang pendapat.

Pergaulan tokoh-tokoh Pamekasan pada tingkat nasional baik secara perorangan ataupun melalui partai-partai politik yang bermunculan pada saat itu, ditambah dengan kejadian-kejadian historis sekitar persiapan kemerdekaan yang kemudian disusul dengan tragedi-tragedi pada zaman pendudukan Jepang ternyata mampu mendorong semakin kuatnya kesadaran para tokoh Pamekasan akan pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian bahwa sebagian besar rakyat Madura termasuk Pamekasan tidak bisa menerima terbentuknya negara Madura sebagai salah satu upaya Pemerintahan Kolonial Belanda untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Melihat dari sedikitnya, bahkan hampir tidak ada sama sekali prasasti maupun inskripsi sebagai sumber penulisan ini, maka data-data ataupun fakta yang digunakan untuk menganalisis peristiwa yang terjadi tetap diupayakan menggunakan data-data sekunder berupa buku-buku sejarah ataupun Layang Madura yang diperkirakan memiliki kaitan peristiwa dengan kejadian sejarah yang ada. Selain itu diupayakan menggunakan data primer dari beberapa informan kunci yaitu para sesepuh Pamekasan. (www. pamekasan.go.id)

Sumber: Catatan Anak Rantau, 25 Juni 2009

Label: , ,

Sejarah Kabupaten Pamekasan

Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Istilah Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke-16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.

Kemunculan sejarah pemerintahan lokal Pamekasan, diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke-15 berdasarkan sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sunoyo yang mulai merintis pemerintahan lokal di daerah Proppo atau Parupuk. Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan, Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura di Sumenep yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara.

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad 15, tidak dapat disangkal bahwa kabupaten ini lahir pada jaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri. Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bisa dipungkiri tentang kemiskinan data sejarah karena di Majapahit sendiri telah sibuk dengan upaya mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya yang sangat besar, apalagi saat itu sastrawan-sastrawan terkenal setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra. Sedangkan pada kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra lisan dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-islam.

Tulisan-tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak menggunakan Bahasa Belanda dan kemudian mulai diterjemahkan atau ditulis kembali oleh sejarawan Madura, seperti Zainal fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, seperti tulisan pada daun lontar atau Layang Madura, namun demikian tulisan pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua abad ke-16, ketika pengaruh Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggosukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja Pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai mengembangkan Agama Islam di kraton dan rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan Se Jimat, yaitu jalan-jalan di Alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan Masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, sampai saat ini masih belum bisa diketemukan adanya inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk menentukan kepastian tanggal dan bulan pada saat pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman pemerintahan Ronggosukowati mulai dikenal sejak berkembangnya legenda kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggosukowati yang diceritakan mampu membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Aresbaya melalui peristiwa mimpi. Padahal temuan ini sangat penting karena dianggap memiliki nilai sejarah untuk menentukan Hari Jadi Kota Pamekasan.

Terungkapnya sejarah pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invansi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal dibawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh Sarjana barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH. Pigeaud tentang kerajaan Islam pertama di Jawa dan Bendatentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit, termasuk juga beberapa karya penelitian lainnya yang menceritakan sejarah Madura. Masa-masa berikutnya yaitu masa-masa yang lebih cerah sebab telah banyak tulisan berupa hasil penelitian yang didasarkan pada tulisan-tulisan sejarah Madura termasuk Pamekasan dari segi pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan agama, mulai dari masuknya pengaruh Mataram khususnya dalam pemerintahan Madura Barat (Bangkalan dan Pamekasan), masa campur tangan pemerintahan Belanda yang sempat menimbulkan pro dan kontra bagi para Penguasa Madura, dan menimbulkan peperangan Pangeran Trunojoyo dan Ke창?р꽓 Lesap, dan terakhir pada saat terjadinya pemerintahan kolonial Belanda di Madura. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda inilah, nampaknya Pamekasan untuk perkembangan politik nasional tidak menguntungkan, tetapi disisi lain, para penguasa Pamekasan seperti diibaratkan pada pepatah Buppa창?р꽓, Babu창?р꽓, Guru, Rato telah banyak dimanfaatkan oleh pemerintahan Kolonial untuk kerentanan politiknya. Hal ini terbukti dengan banyaknya penguasa Madura yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk memadamkan beberapa pemberontakan di Nusantara yang dianggap merugikan pemerintahan kolonial dan penggunaan tenaga kerja Madura untuk kepentingan perkembangan ekonomi Kolonial pada beberapa perusahaan Barat yang ada didaerah Jawa, khususnya Jawa Timur bagian timur (Karisidenan Basuki). Tenaga kerja Madura dimanfaatkan sebagai tenaga buruh pada beberapa perkebunan Belanda. Orang-orang Pamekasan sendiri pada akhirnya banyak hijrah dan menetap di daerah Bondowoso. Walaupun횂혻sisi lain, seperti yang ditulis oleh peneliti Belanda masa Hindia Belanda telah menyebabkan terbukanya Madura dengan dunia luar yang menyebabkan orang-orang kecil mengetahui system komersialisasi dan industrialisasi yang sangat bermanfaat untuk gerakan-gerakan politik masa berikutnya dan muncul kesadaran kebangsaan, masa Hindia Belanda telah menorehkan sejarah tentang pedihnya luka akibat penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing. Memberlakukan dan perlindungan terhadap system apanage telah membuat orang-orang kecil di pedesaan tidak bisa menikmati hak-haknya secara bebas. Begitu juga ketika politik etis diberlakukan, rakyat Madura telah diperkenalkan akan pentingnya pendidikan dan industri, tetapi disisi lain, keuntungan politik etis yang dinikmati oleh rakyat Madura termasuk Pamekasan harus ditebus dengan hancurnya ekologi Madura secara berkepanjangan, atau sedikitnya sampai masa pemulihan keadaan yang dipelopori oleh Residen R. Soenarto Hadiwidjojo. Bahwa pencabutan hak apanage yang diberikan kepada para bangsawan dan raja-raja Madura telah mengarah kepada kehancuran prestise pemegangnya yang selama beberapa abad disandangnya.

Perkembangan Pamekasan, walaupun tidak terlalu banyak bukti tertulis berupa manuskrip ataupun inskripsi nampaknya memiliki peran yang cukup penting pada pertumbuhan kesadaran kebangsaan yang mulai berkembang di negara kita pada zaman Kebangkitan dan Pergerakan Nasional. Banyak tokoh-tokoh Pamekasan yang kemudian bergabung dengan partai-partai politik nasional yang mulai bangkit seperti Sarikat Islam dan Nahdatul Ulama diakui sebagai tokoh nasional. Kita mengenal Tabrani, sebagai pencetus Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mulai dihembuskan pada saat terjadinya Kongres Pemuda pertama pada tahun 1926, namun terjadi perselisihan faham dengan tokoh nasional lainnya di kongres tersebut. Pada Kongres Pemuda kedua tahun 1928 antara Tabrani dengan tokoh lainnya seperti Mohammad Yamin sudah tidak lagi bersilang pendapat.

Pergaulan tokoh-tokoh Pamekasan pada tingkat nasional baik secara perorangan ataupun melalui partai-partai politik yang bermunculan pada saat itu, ditambah dengan kejadian-kejadian historis sekitar persiapan kemerdekaan yang kemudian disusul dengan tragedi-tragedi pada zaman pendudukan Jepang ternyata mampu mendorong semakin kuatnya kesadaran para tokoh Pamekasan akan pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian bahwa sebagian besar rakyat Madura termasuk Pamekasan tidak bisa menerima terbentuknya negara Madura sebagai salah satu upaya Pemerintahan Kolonial Belanda untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Melihat dari sedikitnya, bahkan hampir tidak ada sama sekali prasasti maupun inskripsi sebagai sumber penulisan ini, maka data-data ataupun fakta yang digunakan untuk menganalisis peristiwa yang terjadi tetap diupayakan menggunakan data-data sekunder berupa buku-buku sejarah ataupun Layang Madura yang diperkirakan memiliki kaitan peristiwa dengan kejadian sejarah yang ada. Selain itu diupayakan menggunakan data primer dari beberapa informan kunci yaitu para sesepuh Pamekasan.

Sumber: pamekasan.go.id

Label: , ,