Imbau Seniman Bangkalan Ja' Atokaran

WADAH kesenian yang dibentuk Kamaluddin Effi kemudian vakum. Sang motor penggerak lebih banyak menghabiskan waktunya di Surabaya daripada di Bangkalan. Seniman dan generasi muda di Bangkalan kembali kehilangan tempat mengekspresikan hasil karyanya. Sebab, di saat yang bersamaan Dewan Kesenian Bangkalan (DKB) juga menderita "penyakit" kurang aktif.

"Padahal, setahu saya menjadi pengurus DKB itu bukan menjadi pegawai negeri. Makanya, saya heran kalau seniman di Bangkalan justru royo'an mau jadi pemimpin wadah itu. Ja' atokaran, yang penting bagaimana bisa berkarya terus dan diaktualisasikan," serunya pada seniman-seniman yang ada di daerahnya.

Menurut suami Rumiati ini, khususnya Kabupaten Bangkalan sangat kekurangan wadah seni bagi para pelaku seni dan budayanya. Kendati ada, dia melihat para pelaku seni kurang termotivasi untuk berkarya. Padahal, kebangkitan seni sangat ditentukan oleh bagaimana wadah bisa mendorong para pelaku seni dan pendukungnya.

Pendukung seperti apa? "Misalnya, sediakanlah gedung kesenian khusus. Selama ini kan setiap pertunjukkan seni selalu diadakan di depan pendapa bupati dekat alun-alun itu," sesalnya.

Jika tidak, sambungnya, para panitia kegiatan seni harus menyewa gedung-gedung sekolah demi terselenggaranya kegiatan seni. Kondisi tersebut tentu menyedihkan jika dibandingkan dengan atmosfer kesenian di kota tetangga Bangkalan, Surabaya. Kegiatan-kegiatan seni di kota yang menyandang predikat metropolitan tersebut tetap aktif. Pasalnya, hampir seluruh kebutuhan pelaku seni sudah terjamin dan mendapatkan dukungan kuat dari wadah yang menaungi para seniman.

Di samping itu, seniman di Surabaya memiliki kesadaran dan idealisme yang cukup tinggi pada seni. Meski kegiatan seni tak banyak berlangsung seperti harapan, para palaku seni tetap berkarya. Dengan jaminan, suatu saat akan ada kegiatan yang akan menampung hasil karya mereka untuk diaktualisasikan pada masyarakat banyak.

"Saya sangat bersyukur di Bangkalan ternyata masih ada beberapa kawan yang masih punya idealisme pada seni," ujarnya.

Melihat ketidakjelasan sampai kapan kevakuman seni di Bangkalan akan berakhir, dia bersama seorang pelukis menggagas sebuah wadah seni baru. "Pak Chaerul, seorang pelukis Bangkalan lalu mengajak saya untuk mendirikan wadah. KPA tetap ada, tapi tidak melakukan perekrutan. Tapi, akhirnya banyak anggota yang membantu mendirikan wadah seni baru, namanya KTB (Komunitas Tera' Bulan, Red.)," ulas ayah dari Abitya Sakti Ksatria Kinasih ini.

Hasil urun rembug para seniman Bangkalan itu kemudian diwujudkan dalam pementasan. Meski awalnya mirip event organizer, wadah tersebut berupaya memancing kembali greget aktifitas seni di Bangkalan.

"Kami sangat prihatin ketika diadakan pementasan Ronjangan ternyata hanya orang-orang yang sudah tua saja yang tampil. Tidak ada penerusnya," sesalnya.

Karena itu, lanjutnya, dia dan beberapa temannya di Bangkalan masih terus berkoordinasi untuk mengembalikan animo generasi muda pada kesenian daerah. "Sekarang kan generasi muda lebih banyak tertarik pada kesenian modern. Kita ingin mengimbangi itu, supaya tidak terjadi kesenjangan," tegas pelaku seni yang kini aktif di wadah seni Bang-Bang Wetan ini. (nra)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 11 Desember 2008