Kamaluddin Effi, Aktivis dan Pelaku Seni

Bentuk Komunitas Seni, Ajak Generasi Muda Madura

Madura memiliki ahli hampir di semua bidang. Mulai dari budaya hingga teknologi. Dengan keprihatinan yang timbul dan upayanya masing-masing, para ahli tersebut kemudian melakukan gerakan melalui berbagai wadah yang sudah dibentuk.

RUMAH mungil yang terletak di kompleks perumahan warga di Jalan Gebang Lor 17 Surabaya tampak tenang sebelum kedatangan koran ini. Suara televisi yang sedang menyala terdengar hingga keluar rumah. Sosok nenek dan ibu muda langsung bangkit mendengar ketuk pintu dari koran ini. Mereka segera merapikan ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga tersebut.

"Masuk Mas, silakan duduk. Biasa kalau tidak ada kegiatan ya nonton TV sama keluarga," sambut Kamaluddin Effi. Pria ini adalah putra Madura yang dilahirkan di Kabupaten Bangkalan pada tahun 1971. Tepatnya di Kelurahan Pangeranan, Kampung Buja'an. Lokasinya berdekatan dengan rumah potong hewan yang hingga saat ini masih beroperasi.

Tanpa menunda waktu, bapak satu anak yang akrab disapa Lud ini langsung menceritakan muasal dirinya harus pindah ke Surabaya sejak tahun 1993. "Lulus sekolah SMA datang ke Surabaya. Maksudnya ingin meneruskan kuliah, meski akhirnya tidak bisa karena terlalu sibuk cari hidup," ungkapnya.

Pasar Genteng adalah tempat pertama dia menjejakkan kaki di Kota Pahlawan ini. Dia bersama kakak sepupunya yang saat itu sudah menjadi Pengurus Daerah (Pengda) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Jatim, bekerja sebagai penyedia logistik saat akan ada pertandingan sepak bola. "Awalnya saya ikut kakak. Mengerjakan sablon-sablon kaos pemain bola atau kostum lainnya. Kadang-kadang saya juga harus sibuk menyediakan segala sesuatu jika pertandingan sepak bola dilangsungkan di Surabaya," paparnya.

Cukup cepat Lud akhirnya berganti profesi. Perkenalannya dengan banyak pengusaha besar selama bekerja di PSSI mengantarnya menjadi bagian dari bisnis konstruksi. Pekerjaan pertamanya dalam bisnis konstruksi mengerjakan pembangunan Tunjungan Plaza (TP) 1 dan 2. "Dulu kan masih belum ada TP 3," tandasnya.

Dalam beberapa tahun Lud sering berpindah-pindah perusahaan konstruksi. Bahkan, untuk pekerjaan tersebut, tak jarang dia harus pergi ke Bali untuk menggarap sebuah gedung di pulau dewata itu. Namun, di tengah kesibukannya sebagai pekerja konstruksi, Lud juga memiliki kesibukan di bidang seni. Sebagai seorang yang memiliki bakat seni, di Surabaya pun dia masih sering menonton pagelaran-pagelaran seni. Sehingga, Lud akhirnya memiliki banyak kenalan di Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dari keaktivannya mengikuti kegiatan seni dan budaya saat itu.

Tak heran jika dia begitu tertarik pada seni di kota barunya tersebut. Sebab, dia pernah membangun sebuah wadah seni beberapa tahun sebelum meninggalkan Bangkalan. "Namanya Kelompok Pekerja Seni Aleot atau disingkat KPA. Saya lupa tahun berapa wadah seni itu saya dirikan. Yang jelas sebelum saya pergi ke Surabaya," jelas anak pasangan H Moh. Noemin dan Hj. Zaenab ini.

Bahkan, lanjutnya, sejak SMA dia sudah menjadi bintang di seni teater dan sempat memberikan pelatihan-pelatihan kepada murid-murid SMA lain di Bangkalan. "Saya juga pernah membidani berdirinya Teater Mutiara di SMAN 3 Bangkalan. Bersama Pak Suro, saya waktu itu sangat prihatin karena banyak organisasi seni siswa sekolah yang vakum," kenangnya.

KPA kemudian tumbuh besar dengan anggota generasi muda yang peduli dan cinta pada seni. Semua bidang seni yang dimiliki oleh generasi muda Bangkalan bersatu dalam wadah tersebut. Maklum, saat itu KPA adalah satu-satunya wadah seni yang merekrut pecinta seni dari banyak kalangan.

"Dulu sekretariatnya di Jalan Ahmad Yani Nomor 9 Bangkalan. Lama-lama anggotanya banyak juga. Karena banyak cewek cantik yang bergabung menjadi anggota KPA, sampai ada kesan KPA adalah wadah perekrutan cewek-cewek cantik," kenangnya bersemangat. Terserah, lanjutnya, apa pun kesan yang timbul di masyarakat. Baginya tujuan utama membentuk KPA adalah menarik minat dan kepedulian generasi muda pada seni.

Di samping banyak melakukan kegiatan sendiri, KPA juga sering mendelegasikan anggotanya untuk memberikan pembinaan seni sastra dan teater pada pelajar-pelajar di sekolah. "Lalu, karena saya punya pengalaman di bidang seni, DKS sering mengajak saya bergabung di berbagai kegiatan. Sejak itulah saya mulai banyak ikut dan terlibat langsung dalam pertunjukan Sawong Jabo dan Cak Nun (Sapaan MH Ainun Nadjib, Red.)," jelasnya. Kegiatannya bersama grup seni terkenal itu berlangsung hingga sekarang.

Bahkan, dia juga terlibat aktif di kelompok seni Bang-Bang Wetan yang diprakarsai oleh suami Novia Kolopaking tersebut. "Senang sekali bisa tergabung di situ (Bang-Bang Wetan, Red.). Sebab, selama ini kegiatannya sangat cocok dengan saya. Semua yang ada di Bang-Bang Wetan itu bernilai kebudayaan religius dan berwarna sosial," ungkapnya. (NUR RAHMAD AKHIRULAH)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 11 Desember 2008

Baca juga:
Imbau Seniman Bangkalan Ja' Atokaran

1 Komentar:

Pada 22 Agustus 2013 15.23 , Blogger sholeh_rumi mengatakan...

melanjutkan perjuangan memang tidak mudah, .....

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda