Pengalaman Religi Dr Ir Muhammad Taufik

Uji Keimanan di Negara Modern

Pernah menimba ilmu di luar negeri memberikan pengalaman spiritual tersendiri bagi Dr Ir Muhammad Taufik. Pada 1987-1994, pengajar program studi teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS itu berkesempatan menempuh pendidikan S2 sekaligus S3 di Universit� de Nice Sophia Antipolis, Prancis.

Banyak godaan yang dirasakan Taufik saat itu. Mulai berangkat, di dalam pesawat dia dengan mudah melihat banyaknya pasangan berciuman. "Saya sampai sempat ragu tetap melanjutkan pendidikan ini atau tidak ya," tutur ayah lima anak tersebut mengenang.

Taufik mengaku belum siap menghadapi perbedaan budaya yang begitu terasa. Terlebih, begitu sampai di negeri mode, pemandangan serupa itu malah berada di mana-mana. Seorang teman sempat bertanya, apakah dia sudah berkeluarga atau belum. "Begitu tahu saya sudah menikah, teman itu malah bilang, sayang sudah nikah. Kalau belum, kan lebih enak," kata Taufik menirukan ucapan temannya. Taufik tahu ke mana arah pembicaraan tersebut. Kegundahannya untuk terus melanjutkan studi lagi atau tidak tumbuh lagi.

Namun, taufik, mengaku banyak mendapatkan pertolongan. Di tengah perasaan bingung, seorang profesor pembimbingnya mengenalkan dia dengan salah seorang mahasiswa muslim. "Profesor saya bilang, itu dia lakukan supaya saya betah di sini," kenang pria kelahiran Bangkalan, 19 September 1955 tersebut.

Dari situlah awal mula Taufik mulai mengenal mahasiswa muslim di Prancis. Lambat laun, Taufik mulai bergabung dengan perkumpulan mahasiswa muslim. Mulai jadwal salat hingga tempat-tempat makan yang bisa didatangi dia dapatkan dari teman-temannya di sana.

Ada pengalaman yang tidak bisa Taufik lupakan mengenai beribadah di Prancis. Di negara romantis itu, amat jarang terdapat masjid. Kalaupun ada, jaraknya agak jauh dari kampus. Bersama temannya, Taufik salat di dalam kelas atau laboratorium. "Ya dengan agak sembunyi-sembunyi," ujarnya.

Suatu saat, profesor pembimbing Taufik melihatnya salat. Karena tidak tahu itu gerakan apa, dia memanggil-manggil dan mencolek Taufik. "Waktu saya sujud, dia kira saya nangis dan sedang home sick," tutur wakil ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah Muhammadiyah 2 wilayah Jawa Timur itu.

Taufik tidak menghiraukan panggilan profesor tersebut. "Dia sempat tersinggung. Tetapi, setelah saya jelaskan bahwa tadi sedang beribadah, profesor saya mengerti dan justru meminta maaf," tuturnya.

Di lain acara, karena tahu Taufik muslim, profesor tersebut khusus menyediakan jus jeruk dan minuman bersoda. Bahkan, saat istri Taufik menjenguknya ke Paris dan bertamu ke rumah pembimbingnya, sudah tersedia jus jeruk. "Istri pembimbing itu sampai bilang, Anda tamu istimewa karena suami saya sampai khusus menyediakan ini untuk Anda," tirunya.

Istri Taufik berkunjung untuk meyakinkan diri bahwa suaminya tidak berbuat macam-macam di sana. "Setelah beberapa lama istri saya tinggal dan mengetahui kegiatan saya di Prancis, dia semakin percaya dan tidak takut lagi suaminya sendirian di sini," ujarnya lantas tertawa kecil.

Pengalaman yang juga teringat adalah saat dia menunaikan ibadah puasa di Nice. Kalau tiba musim panas, jarak waktu imsak dengan buka sangat lama. "Bukanya bisa jam sebelas malam, Mbak," kenangnya. Sebaliknya, saat musim dingin justru waktu puasanya sebentar. "Imsak jam delapan pagi, buka jam lima sore," imbuhnya.

Semua pengalaman selama di Nice sangat melekat di ingatannya. Taufik mengakui bahwa pengalaman religiusnya di negara dengan luas terluas di Eropa tersebut merupakan ujian keimanan untuknya. Karena itu, dia mensyukuri bahwa perjalanan studi tersebut. Dia mengganggap, perjalanan itu merupakan salah satu hal yang sudah diatur oleh Tuhan. "Saat saya pulang, seperti ada yang hilang," ucapnya. (war/ayi)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 19 Desember 2008

Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda