Mengurai Kearifan Lokal Orang Madura #1

Bersikap Pragmatis, Loyal pada Kiai

"Poteh mata poteh tolang angok potena tolang.” Itulah slogan orang Madura untuk menunjukkan harga dirinya. “Putih mata putih tulang, lebih baik putih tulang” memberi makna daripada malu lebih baik mati.

Oleh: Kumara Adji

Menarik untuk mencermati bagaimana karakteristik budaya politik orang Madura, mengingat Madura kini menjadi sorotan. Dua kabupatennya, Bangkalan dan Sampang, hingga Januari 2009 menjadi 'medan pertempuran' terakhir bagi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (KaJi) dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa).

Pilgub di Jatim ini menjadi istimewa. Tidak sama dengan Pilgub di daerah lain. Jika Pilgub di seluruh Indonesia hanya dua putaran, tapi di dua kabupaten itu hingga putaran ketiga. Lebih istimewa lagi, di Sampang dan Bangkalan, telah beberapa kali mengalami perulangan juga pada periode pemilu sebelumnya.

Namun, benarkah ada kaitan antara konstruk budaya Madura dengan tradisi politiknya?

Ada banyak predikat stigmatis yang melekat dalam diri orang Madura. Stereotip orang Madura bertemperamen tinggi, agresif, cepat marah dan berani. Orang Madura dikenal sebagai orang yang kolot, pengkuk (sulit menerima perubahan), dan terutama memiliki karakter keras yang ditakuti. Ditambah lagi dengan tradisi carok (duel dengan celurit hingga mati) yang mengindikasikan kekerasan orang Madura.

Mungkinkah berbagai hal itu menjadi dasar sehingga orang Madura bisa dibilang ruwet oleh mantan ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie (Suarbaya Post (04/12)) pada persoalan pilkada tersebut?

Madura memiliki eksotika budaya tersendiri. Dan menilik nama Madura, sekilas menumbuhkan kesan secara politik bahwa orangnya pasti memiliki budaya politik satu loyalitas terhadap satu figur tertentu di kampungnya sendiri. ”Kenyataannya tidak,” sanggah antropolog budaya Madura Dr. A. Latief Wiyata. ‘’Menurut saya orang madura itu sangat pragmatis,” tegasnya.

Memang benar orang Madura loyal pada kiai, namun ”Loyalitas itu tersebar, tidak tersekat geografis,” tandasnya. Dan ini menjadi kearifan lokal Madura.

Setelah melakukan penelitian sejak 1995, Latief menarik satu perspektif, bahwa tidak semua figur bisa ditaati oleh semua orang madura. Ini karena figur panutan di Madura itu sangat lokal. ‘’Ini adalah kesalahan banyak orang bahwa seorang Madura itu langsung seragam menunjukkan loyalitas pada figur tertentu. Tidak,” ujarnya.

Latief memberi contoh: KH Alawy Muhammd. Dia menjadi figur karena faktor-faktor tertentu dan menjadikannya tokoh nasional. Tapi tidak semua orang Madura menganggapnya sebagai figur. ”Orang Sumenep belum tentu loyal pada dia, demikian juga orang Bangkalan. Bahkan orang Sampang sendiri belum tentu menjadikan Kiai Alawy sebagai panutan,” tegasnya.

Hal itu menggambarkan loyalitas orang Madura pada satu figur sangat lokal dan sangat kontekstual. Karena seorang kiai yang menjadi figur di satu tempat tidak otomatis menjadi figur juga di tempat lain.Harus dicermati dulu faktor apa dan konteks apa mereka loyal pada satu figur. ‘’Mereka terutama loyal dalam konteks agama’’.

Latief menambahkan, ada banyak figur yang bertebaran di seluruh Madura sehingga tidak ada figur tunggal. Ini sangat berbeda dengan Jawa, misalnya di Jogjakarta. Di sana ada figur tunggal raja, misalnya Sri Sultan Hamengkubuwono X. Hampir semua orang Jawa yang ada di Jogja itu taat pada Sultan. ”Tetapi di Madura itu banyak sekali figur semacam itu. Dan figur-figur itu tidak membentuk satu hirarki. Biasanya satu figur menurut komunitas tertentu itu baik untuk diikuti, mereka akan ikut,” ujarnya. (bersambung)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 5 Desember 2008

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda