Suharman SPd Putra Nelayan Sukses Jadi Guru

Komitmen Mengabdi di Dunia Pendidikan

SOSOK Umar Bakrie yang fenomenal dalam sejarah para guru, mengejewantah dalam diri Suharman. Pria kelahiran Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget, bertekad mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan.

Harman-begitu dia biasa dipanggil-lahir pada 10 Februari 1964. Suasana pedesaan telah mendidik Harman kecil menjadi sosok yang gigih berjuang, semangat bekerja, dan tidak pantang menyerah.

Dari sejarahnya, kebanyakan penduduk Kalianget Timur bekerja sebagai nelayan. Sebagian lagi menggarap lahan pertanian, berdagang, dan usaha lainnya. Sedangkan, orang tua Harman berprofesi sebagai nelayan.

Sejak usia masih belia, Harman sering diajak orang tuanya melaut. Ketika ikut berlayar, dia mengaku ada pengalaman berharga yang tidak pernah ditemukan di sekolah. "Saya kagum dengan pekerjaan nelayan. Sebab, menjadi nelayan pilihan yang paling berani," ungkapnya.

Dari sekian pengalaman berharga yang didapat, bapak tiga anak ini itu berjanji untuk tidak pernah melupakan kenangan dan pengalaman yang telah diajarkan orang tuanya. Dia mengaku, pelajaran tentang keunikan laut menjadi merupakan sentuhan seni yang sulit dibahasakan. Saat mengajar, pengalaman tersebut dia ceritakan kepada anak didiknya.

Pada 1979 Harman masuk SDN Kalianget Timur. Sejak duduk di bangku SD, perasaan kagum kepada guru sudah tertanam. Sehingga, dia bermimpi suata saat bisa mengikuti jejak gurunya.

Lulus SD, Harman ingin sekolah lebih tinggi. Tetapi, niat tersebut hampir tersendat biaya. Dia tidak memaksakan diri. Sebab, kondisi itu bukan karena disengaja kedua orang tuanya.

Setelah berhari-hari lamanya menunggu, Tuhan memberikan jalan bagi dirinya melanjutkan pendidikan ke SMPN I Kalianget apda 1982. "Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan panjang, saya bisa melanjutkan pendidikan," katanya.

Di bangku SMPN, meski tetap membantu pekerjaan orang tuanya, dia tetap rakin sekolah. Sehabis membantu orang tua, dia manfaatkan membaca pelajaran dan pengetahuan lainnya. Kegigihannya membuahkan hasil. Saat menginjakkan kaki di bangku SMEA Adirasa Sumenep pada 1985, dia sekolah dengan beasiswa. Bahkan, mulai dari kelas satu hingga selesai, selalu peringkat pertama.

Ketika di SMEA, dia semakin sadar betapa pengetahuan bagian terpenting dalam hidup. Katanya, seseorang yang berpengetahuan akan selalu dibaca sejarah. Bahkan, agama menjelaskan, di antara sekian manusia yang ada, orang berpengetahuan derajatnya lebih tinggi.

Lepas dari bangku SMEA, Suharman masih semangat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Pada 1988 dia memutuskan kuliah di IKIP Malang.

Dia cerita, saat kuliah beban hidup kembali berat karena menanggung biaya kuliah. Dia sempat pesimistis bisa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi itu.

Tapi, tekadnya menyelesaikan pendidikan dan mengabdi di dunia pendidikan tak pernah surut. Sehingga, untuk menyiasati biaya pendidikan, dia memilih menjadi seorang salesman salah satu produk terkemuka. Upah dari nyales itu bisa menutupi biaya perkuliahan.

Kata mantan Wakasek Humas SMKN I Sumenep ini, selain doa harus diiringi dengan usaha. Usaha dan doa tidak boleh dilepaskan. Sebab, dari pengalaman yang dia jalani, usaha yang gigih akan membuahkan sesuatu yang bernilai lebih. "Saya coba buktikan dengan tidak pernah gengsi," tukasnya.

Usai kuliah, pada 1990-an dia memulai karirnya menjadi tenaga pendidik berstatus sukwan (sukarelawan). Saat itu pecinta sepeda gunung itu mengajar di berbagai sekolah di Sumenep. Antara lain, SMPN Dasuk (1988-1991), SMPN 2 Sumenep (1990-1993), dan SMEA Adirasa (1988-1994).

Pada 1994, nasib berpihak kepadanya. Dari sukwan akhirnya dia diangkat menjadi guru dengan status sebagai PNS (pegawai negeri sipil). Namun, bagi Herman, pangkat tersebut bukan tujuan akhir dari dirinya mengabdi di dunia pendidikan.

Tekadnya, ingin membagi pengalaman dan pengetahuan yang dia peroleh kepada anak didiknya. Sejak 1994 hingga 1998 dia ditugaskan mengajar di SMPN Pulau Ra'as. Waktu lima tahun itu dia jadikan media untuk berproses, belajar beradaptasi dengan lingkungan di pulau.

Dia curahkan perhatiannya untuk membimbing anak didik. Konsep pengajaran yang gencar dia terapkan. Pengetahuan yang berorientasi pada kreatifitas dan potensi. "Materi pelajaran saja tidak cukup. Perlu konsep praktis yang bisa mempersiapkan mereka menjadi generasi yang siap kerja, inovatif, dan tidak nganggur," tanadsnya.

Lima tahun di kepulauan, pada 1998 hingga sekarang Haeman menjadi tenaga pendidik di SMKN I Sumenep. Meski sudah pindah tempat, namun konsep pemberdayaan potensi anak terus dimantapkan. Buktinya, dari konsep ini dia dipercaya mengomandani unit produksi siswa.

Dari unit produksi tersebut, kampanye untuk menjadi generasi inovatif dan kreatif semakin gencar disuarakan. Sehingga, dia berharap konsepsi yang dia bangun mendapat dukungan dari semua pihak. (tur/zr)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 15 Desember 2008

2 Komentar:

Pada 2 Februari 2009 18.52 , Blogger Bomser mengatakan...

pa kamu kenal dengan ahmad banser ansori atau Bambang? sepertinya kamu masih satu angkatan dengan aku tapi kok dalam memori aku Suharman tidak aku temukan?hitam1967

 
Pada 2 Februari 2009 18.54 , Blogger Bomser mengatakan...

aku cuma ada nama SUHERMAN

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda