Abdullah Sattar,
Dosen Bahasa Arab dan Penceramah

Ingat Tan-Pangantanan saat Musim Melati

Kemajuan dan perubahan mutlak diperlukan oleh setiap peradaban. Namun, perubahan yang meninggalkan akar kebudayaan banyak dianggap sebagai kemunduran. Seakan-akan perjuangan memertahankan aset budaya adalah yang paling utama dan bersanding dengan perjuangan masyarakat menuju perbaikan. Terlebih, setiap kebudayaan selalu mewarnai perjalanan hidup seseorang di masa lampau.

ABDULLAH Sattar sedang sibuk mengoperasikan unit komputer layar datar ketika Koran ini sampai di ruang jurusan komunikasi dan penyiaran Islam (KPI), di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya.

"Tunggu sebentar ya Mas, saya selesaikan dulu," pintanya pada Koran ini sambi menunjukkan meja kerjanya.

Selesai dengan pekerjaannya, dia langsung duduk di kursi kerjanya. "Saya di Surabaya ini sejak tahun 1985. Tapi, tidak langsung kuliah di IAIN Sunan Ampel. Di Surabaya ini saya pertama kali hidup di Masjid Agung Sunan Ampel, belajar bahasa Arab," ujar bapak yang dikarunai 4 anak ini.

Menurut dia, hingga kini orangtuanya masih tinggal di Sumenep. Tepatnya di Jalan Blimbing, yang lebih akrab dengan sebutan Kampung Karang Dhuwa', tempatnya lahir dan dibesarkan. "Tinggal ibu yang masih ada. Kalau bapak sudah meninggal dunia. Itu alasan saya untuk sering-sering pulang ke Madura," ungkapnya.

Kepulangannya ke Madura selalu mengingatkan Sattar pada masa kecilnya. Sebab, ketika masih di Madura, dia termasuk anak yang benar-benar menikmati masa kecil tanpa tuntutan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kemajuan teknologi.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian dan catatannya mengenai tanah kelahirannya di Sumenep. Bagi dia, Sumenep hingga saat ini belum mengalami perubahan yang signifkan, kecuali di bidang pembangunan fisik. Bahkan, dengan cukup teliti dia mengungkapkan masih kurangnya pertokoan yang ada di Sumenep. "Kalau fisik memang ada kemajuan, tapi yang lainnya saya rasa belum signifikan. Contoh kecilnya, pertokoan yang ada di Sumenep itu kan masih bisa dihitung jari. Paling hanya ada satu-dua toko besar saja," ulasnya.

Pasar dan terminal yang sudah dipindah ke pinggir kota karena dianggap mengganggu tata kota pun dirasanya bukan sebuah kemajuan yang berarti. Sebab, semua daerah memang seharusnya melakukan penataan kota dengan baik. Yang paling membuatnya prihatin adalah hilangnya beberapa kegiatan yang sarat budaya dan tradisi, serta pola interaksi masyarakat yang semakin berkurang.

"Dulu di setiap musim bunga melati selalu ada kegiatan yang unik di Sumenep, yang saya yakin tidak ada di tempat lain," ungkapnya.

Kegiatan yang dimaksud oleh dosen Bahasa Arab ini adalah tan-pangantanan. Dalam kegiatan tersebut anak orang "kaya" didandani layaknya pasangan pengantin sebenarnya. Kemudian, pasangan tersebut diarak ke seluruh kampung, bahkan ke seluruh kota. "Kegiatan itu menjadi perlambang bahwa musim bunga sudah datang," tandasnya.

Sayang, sambungnya, saat ini kegiatan serupa jarang sekali ditemui. Nasib serupa juga dialami oleh pola interaksi masyarakat di Sumenep. Pasalnya, kepemilikan sarana hiburan sendiri seperti televisi telah menyita waktu mereka untuk berinteraksi antara satu dengan yang lain. "Di Madura itu kan ada istilah tanean lanjang. Dulu, saat bulan purnama semua anggota keluarga keluar untuk menikmati terangnya cahaya bulan meski sudah ada listrik. Di bawah purnama itulah kami yang masih kecil bermain bersama dan mereka yang dewasa sekadar mengobrol satu dengan yang lain," ungkap Sattar.

Kebiasaan di malam bulan purnama itu kemudian membuat hubungan kekerabatan semakin akrab. Berbeda dengan sekarang ketika televisi sudah merampas waktu untuk melakukan kegiatan itu. "Kalau pulang saya juga sering berkunjung ke sumber air yang dulu menjadi kolam renang saya dan teman-teman. Kondisinya sekarang jauh berbeda. Selain volume semakin berkurang, airnya juga kotor," tuturnya.

Kebon Agung, lanjutnya, bendungan yang selancarnya terbuat secara alami pun kini debet airnya semakin berkurang. Padahal, meski cukup berbahaya, bendungan tersebut biasa menjadi tempatnya menghabiskan waktu selepas sekolah. (NUR RAHMAD AKHIRULLAH)

Sumber: Jawa Pos, 21/11/2008

Baca juga:
Siraman Rohani Melalui Media Massa

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda